Mengenang Terbunuhnya Moses Gatutkaca saat Reformasi Disuarakan

Moses yang melintasi kawasan yang tengah terdapat aksi demonstrasi yang ricuh, dihajar oleh aparat lantaran dikira merupakan massa demonstran.

Mengenang Terbunuhnya Moses Gatutkaca saat Reformasi Disuarakan
tribunjogja/m.resyafirmansyah
Suasana Jalan Moses Gatotkaca yang pernah menjadi saksi bisu perjuangan mahasiswa menyuarakan reformasi, Sabtu (21/5/2016). 

TRIBUNJOGJA, YOGYA - Masih melekat di ingatan sebagian orang, peristiwa sejarah memperjuangkan perubahan pada tahun 1998 di Yogyakarta mengorbankan seorang mahasiswa, Moses Gatutkaca.

Saat itu, Moses yang melintasi kawasan yang tengah terdapat aksi demonstrasi yang ricuh, dihajar oleh aparat lantaran dikira merupakan massa demonstran.

“Setahu kami, Moses mau mencari makan malam setelah waktu maghrib. Dia lewat selatan kampus Sanata Dharma, di sana ada demo anarkis. Moses dikira masa demonstran dan dipukuli, sampai akhirnya meninggal,” kata Sunarto yang tempat tinggalnya tak jauh dari indekos yang pernah didiami Moses, Sabtu (21/5/2016).

Warga Pringgodani, Mrican, Sleman ini pun mengenang, ketika itu kawasan Gejayan merupakan tempat bersejarah sekaligus saksi bisu, di jalan itu, mahasiswa kampus se-Yogyakarta menyalurkan segala aspirasi.

Mulai dari aksi demonstrasi yang berjalan dengan damai, hingga aksi demonstrasi yang berujung ricuh.

Diungkapkannya saat aksi tersebut berlangsung, sebelum Moses meninggal, sebagian kecil warga sekitar tidak berani keluar rumah ketika malam.

Ketakutan itu bertambah saat mengetahui terdapat korban salah sasaran oleh aparat. Menurutnya, sebagian besar warga sekitar tak berani keluar pada malam selama beberapa hari, kala itu.

“Tapi saat Moses meninggal, masyarakat Yogyakarta ikut berduka. Sewaktu jenazah mau dimakamkan, ada banyak sekali orang yang ikut mengantarkan,” ucapnya.

Sementara itu, puteri pertama Sunarto, Eka Srihartini mengaku, peristiwa meninggalnya Moses Gatutkaca karena kerusuhan di Gejayan terjadi saat dirinya masih duduk di bangku TK.

Dia ingat, peristiwa itu membuat orangtuanya tidak mengantarkan Eka bersekolah selama beberapa hari, dan memilih untuk berdiam diri di rumah.

Halaman
12
Penulis: mrf
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved