Agenda Jogja

Sastra Bulan Purnama Luncurkan Antologi Puisi 'Negeri Laut'

Antologi ini merupakan antologi seri dari Negeri Poci yang diterbitkan setiap tahun dan 'Negeri Laut' merupakan seri ke 6.

Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sastra Bulan Purnama edisi 54 akan meluncurkan antologi puisi 'Negeri Laut' yang menampilkan 175 penyair dari berbagai daerah di Indonesia.

Antologi ini merupakan antologi seri dari Negeri Poci yang diterbitkan setiap tahun dan 'Negeri Laut' merupakan seri ke 6.

Kurator dari antologi ini penyair yang sudah lama bergulat dengan puisi, yakni Adri Darmaji dan Kurniawan Junaedhi.

Acara akan diselenggarakan pada Rabu (23/3) pukul 19.00 di Tembi Rumah Budaya, Jalan Parangtritis km 8,5 Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul. Bertajuk 'Membaca Puisi Membaca Laut', kegiatan ini akan diisi pembacaan puisi, akan diisi lagu puisi, yang akan menampilkan Joshua Igo dan Daladi.

"Kedua penyair tersebut akan mengolah puisinya yang ada di dalam antologi menjadi lagu," ujar selaku koordinator Sastra Bulan Purnama, Ons Untoro pada Senin (21/3/2016).

Selain itu, akan ada penampilan musik puisi dari Doni Onfire and Viera Cholog dan Ujug-Ujug Musik. Pada closing akan diisi pertunjukan sastra oleh Study Theater Club Yogyakarta.

Para penyair yang akan hadir di antaranya Daladi, Dedet Setiadi, Bambang Eka dari Magelang, Seruni Uni dari Solo, Arieyoko, Hardho Sayoko dari Ngawi, Dimas Indianto dari Brebes, Slamet Riyadi Sabrawi, Sutirman Eka Ardhana, Iqbal H. Saputra, Umi Kulsum, Sekar Arum, Saifa Abdillah, Salama Emlie.

"Ada banyak nama dari 175 Penyair Negeri Poci yang tinggal di area tak jauh dari Yogyakarta, sehingga memungkinkan untuk datang," tambahnya.

Maman S Mahayana, seorang kritikus dan pengamat sastra yang memberi pengantar antologi puisi ini mengatakan, di tengah bermunculannya komunitas-komunitas sastra yang sering kali asyik-masyuk dengan dirinya sendiri, dengan para pendukungnya sendiri, dengan gerak mereka yang cenderung 'menolak' masuknya nama lain, yang tidak termasuk kelompok atau pengikutnya.

"Komunitas Negeri Poci (KNP) coba menawarkan gerakan lain yang inklusif, terbuka segala usia, bebas kepentingan, tak memperkarakan gender, dan tak pandang urusan genre atau gaya pengucapan," jelas Maman S Mahayana. (*)

Penulis: gya
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved