TribunJogja/

Mengenang Misteri Enam Jam di Jogja

Sultan berkeras ingin menunjukkan kepada dunia internasional jika Republik Indonesia masih eksis, bukan dikuasai sepenuhnya oleh Belanda.

Mengenang Misteri Enam Jam di Jogja
net
Monumen Serangan Umum 1 Maret 

TRIBUNJOGJA.COM - Jelang dini hari pertengahan Februari 1949, Letnan Kolonel (Letkol) Suharto mengendap-endap memasuki kompleks Keraton Yogyakarta.

Diantarkan oleh GBPH Prabuningrat sebagai tuan rumah, pria yang kelak menjadi presiden kedua RI itu bertemu dengan Ngarsa Dalem, Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Dua tokoh ini membicarakan rencana pertempuran singkat yang kemudian hari dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret.

Cerita ini dinukilkan dari kisah yang disampaikan Gusti Prabuningrat, kakak Sri Sultan HB IX dalam 'Takhta Untuk Rakyat'.

"Pak Harto mengenakan pakaian abdi dalem, saya antar untuk mengadakan pertemuan dengan Sri Sultan di tempat tinggal saya," tulis Prabuningrat dalam buku tersebut.

Kala itu tahun 1949 memasuki bulan Februari. Kekacauan karena agresi fisik tentara Belanda membuat semangat juang rakyat Yogya dan sekitarnya mengendur.

Sultan HB IX cemas. Kondisi ini berbahaya jika terus dibiarkan. Tentu saja merugikan upaya perjuangan kemerdekaan.

Akhir bulan itu, persoalan Indonesia dan Belanda akan dibicarakan di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sultan berkeras ingin menunjukkan kepada dunia internasional jika Republik Indonesia masih eksis, bukan dikuasai sepenuhnya oleh Belanda yang terus dipropagandakan.

Dari sinilah pria bernama kecil GRM Dorodjatun itu memeroleh ide. Ia kirim kurir agar menghubungi Panglima Besar Sudirman di persembunyian.

Halaman
1234
Penulis: hdy
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help