Menilik Kehidupan Komodo, Kadal Raksasa dari Belahan Indonesia Timur

Binatang ini hidup di pulau Komodo dan pulau-pulau sekitarnya yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menilik Kehidupan Komodo, Kadal Raksasa dari Belahan Indonesia Timur
Tribun Jogja/ Agung Ismiyanto
Sejumlah wisatawan mengabadikan dan berselfie dengan Komodo di Taman Nasional Komodo. Binatang langka ini saat ini harus tetap dolestarikan dari kepunahan. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, MANGGARAI - Indonesia memiliki kekayaan alam yang cukup luar biasa. Bahkan, di Indonesia masih hidup kadal raksasa yang cukup langka di dunia, bernama Komodo.

Binatang ini hidup di pulau Komodo dan pulau-pulau sekitarnya yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Karena menawarkan keunikan dan keindahan lingkungan, pulau Komodo menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

DEBUR ombak mengiringi langkah Tribun Jogja dan sejumlah wartawan lain untuk menuju ke Pulau Komodo yang berada di seberang Labuan Bajo, salah satu pelabuhan yang cukup terkenal di NTT.

Dengan menaiki speedboat, perjalanan menuju pulau Komodo menjadi lebih menyenangkan.

Untuk mencapai Pulau Komodo dari Labuan Bajo, memerlukan waktu sekitar 1,5 jam. Jika cuaca mendukung, kita bisa menyaksikan keindahan pulau-pulau yang berada di wilayah NTT ini.

Pulau-pulau ini, rata-rata memiliki pantai yang masih berwarna biru muda dan pasir putih, sangat alami.

Meski sempat diwarnai gerimis, namun, akhirnya saat seperempat perjalanan, cuaca menjadi cerah. Sehingga, kami bisa menikmati keindahan pulau-pulau yang berwarna hijau karena sabananya.

Untuk sampai di Pulau Komodo, dari Pelabuhan Labuan Bajo bisa ditempuh menggunakan kapal-kapal pinisi maupun speedboat.

Dengan kapal pinisi bisa ditempuh sekitar 3-4 jam, sedangkan menggunakan speedboat hanya dalam waktu 1,5-2 jam saja.

Hanya saja untuk menyewa kapal-kapal pinisi maupun speedboat tersebut tidaklah murah. Untuk melakukan perjalanan, tarif sewanya bisa mencapai puluhan juta.

Begitu menginjakkan kaki di Pulau Komodo atau Taman Nasional Komodo, angin sepoi-sepoi menyambut kedatangan kami. Rasa penasaran pun muncul untuk melihat bagaimana perilaku biawak raksasa ini.

Ada kekhawatiran karena Komodo dikenal sebagai hewan agresif dengan tenaga dan kecepatan yang cukup tinggi untuk mengejar mangsanya.

Untuk menikmati jalur tracking di Pulau Komodo, turis domestik diwajibkan merogoh kocek sebesar Rp 80 ribu, kemudian turis mancanegara Rp 250 ribu.

Selama berada di Pulau Komodo, pengunjung Balai Taman Nasional Komodo ini akan di dampingi rangers (pawang). Pawang ini dilengkapi dengan sebuah kayu panjang bercabang yang ditujukan untuk mengusir komodo jika mendekati rombongan.

Untuk melakukan tracking, sejumlah wisatawan harus dibagi dalam beberapa grup. Satu grup bisa berisi lima hingga tujuh orang dengan satu rangers.

Adapun, jalur tracking terbagi atas jalur pendek, medium dan juga jalur panjang. Masing-masing trek memiliki tantangan alam masing-masing.

Tribun Jogja berkesempatan untuk menikmati jalur tracking yang medium. Perjalanan cukup menyenangkan lantaran di sepanjang jalur yang dilewati ada beragam vegetasi dan juga binatang yang jarang ditemui di Pulau Jawa.

Suara burung gagak, ayam hutan mengiringi langkah untuk menemukan dan melihat Komodo. Adapun sepanjang perjalanan wisatawan bisa menemukan pohon yang cukup unik dan erat kaitannya dengan kehidupan Komodo. Nama pohon itu adalah gebang.

“Pohon gebang ini bisa mencapai usia 20 hingga 25 tahun. Pohon ini, menjadi salah satu tempat untuk bayi komodo menyelamatkan diri. Karena, induk komodo sifatnya kanibal, sehingga bayi komodo biasanya menyelamatkan diri di pohon ini selama 3 hingga 5 tahun,” ujar salah satu Rangers, Jacki Hadmin (26).

Jacki menjelaskan, di hutan tersebut juga juga terdapat rusa dan babi hutan. Binatang ini adalah salah satu santapan empuk bagi komodo. Selama perjalanan, kami juga dihimbau untuk tidak membuat suara gaduh atau berisik, agar Komodo tidak terganggu dan lantas mengejar kami.

Kami baru menemukan satu ekor komodo berukuran besar dengan panjang sekitar 3 meter di dekat lembah lohliang.

Komodo ini seolah-olah sedang bersantai dan tidur. Beberapa diantara wisatawan kemudian menyempatkan untuk berfoto selfie dengan hewan berbisa ini.

Berdasar catatan sejarah, perkembangan evolusi komodo dimulai dengan marga Varanus, yang muncul di Asia sekitar 40 juta tahun yang silam dan lalu bermigrasi ke Australia.

Sekitar 15 juta tahun yang lalu, pertemuan lempeng benua Australia dan Asia Tenggara memungkinkan para biawak bergerak menuju wilayah yang dikenal sebagai Indonesia sekarang.

“Hati-hati dengan Komodo, karena seolah-olah dia tidur dan santai. Namun, jika dia mengincar mangsa bisa cukup cepat gerakannya. Hewan ini memiliki sifat agresif yang susah ditebak,” kata Jacki sembari melanjutkan perjalanan.

Dia menyebutkan, di Pulau Komodo tersebut hidup dan berkembang biak ribuan komodo. Hanya saja, saat menempuh perjalanan di areal pulau sekitar 2 jam, bertemu dengan sekitar 6 ekor komodo. Rata-rata, Komodo ini dapat dijumpai di dekat dapur yang berada di dekat pantai.

Sejumlah komodo yang dijumpai itu, ujar Jacki, memiliki usia lebih dari 20 tahun. Bahkan, ada yang sudah mencapai usia 50 tahun. Beberapa kali, kami juga menjumpai anakan komodo yang berjalan santai di dekat wisatawan. Tentu saja, ada yang ngeri melihat tingkah anakan komodo ini.

Ketua Naturalis Guide, Tasrif mengatakan, di Pulau Komodo ada 26 rangers, di mana setiap hari ada 13 orang rangers yang akan membawa wisatawan keliling melihat komodo. Untuk trekking ada empat kategori yakni shot jarak tempuh 1 kilometer (km), medium dengan 2 km, long dengan 4 km dan adventure.

“Dalam sehari kami rata-rata bisa mengantarkan wisatawan maksimal 2 kali,” katanya.

Dia menyebut, saat ini, Komodo masih terus dipertahankan oleh pemerintah daerah setempat. Sebagai salah satu relawan, dirinya dan rangers lain juga berupaya untuk melestarikan komodo dan menjaganya dari kepunahan.

Asisten Administrasi Pemerintahan Setda Manggarai Barat, Agustinus Hama mengatakan, pengelolaan Pulau Komodo menjadi wewenang Kementerian Kehutanan melalu Balai Taman Nasional Komodo. Hingga saat ini, terdapat 2.000an ekor komodo di pulau tersebut.

Diakui pula, setelah menjadi salah satu di antara 7 keajaiban dunia, tingkat kunjungan wisata ke daerah setempat meningkat dari rata-rata 30.000 hingga 40.000 turis asing dan domestik per tahun menjadi sekitar 90.000 wisatawan. Presiden Jokowi pun telah meresmikan banda udara Komodo di Labuan Bajo, agar akses menuju tempat wisata ini menjadi cukup mudah.

“Untuk turis mancanegara berasal dari Australia, Inggris, Prancis, Jepang dan Thailand,” tandasnya.

Usai menikmati eksotisme binatang ini, perjalanan akan lebih lengkap dengan snorkeling di pantai pink beach maupun Pulau Kelor. Dari dua lokasi tersebut, wisatawan bisa menaiki bukit untuk sekadar selfie, dengan latar belakang pantai berwarna biru muda dan panorama alam.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: ais
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved