Kepemimpinan Hasta Brata Paku Alam X

Adanya prosesi jumenengan (pelantikan) Paku Alam X, dan nantinya akan menjabat wakil gubernur Yogyakarta, menjadi pertanda masih ada sosok pemimpin

Kepemimpinan Hasta Brata Paku Alam X
Dok pri
Agung SS Widodo MA (Peneliti Sosial-Politik, Pusat Studi Pancasila UGM)

CORAK kepemimpinan saat ini belum menemukan konsep yang benar-benar memberikan jaminan atas kemajuan suatu bangsa, yang salah satunya ditandai dengan meningkatnya kesejahteraan rakyat.

Adanya prosesi jumenengan (pelantikan) Paku Alam X, dan nantinya akan menjabat wakil gubernur Yogyakarta, menjadi pertanda masih ada sosok pemimpin yang memegang teguh prinsip nilai Jawa Hasta Brata, ngayomi, dan menjadi pelayan bagi rakyat, utamanya masyarakat Yogyakarta.

Karut marutnya sistem kepemimpinan bangsa ini, pada akhirnya memunculkan keprihatinan di kalangan akademisi, dan tidak sedikit kemudian muncul wacana agar para calon pemimpin harus Pancasilais, mementingkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

Semoga saja keprihatinan ini tidak sekadar hiburan politik semata, karena wacana seperti ini tidak hanya sekali-dua kali dimunculkan tetapi pada kenyataannya selalu berakhir dengan cerita sama.

Keberadaan sosok Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Paku Alam X merupakan dua dari sekian tokoh nasional dan daerah yang mampu menunjukkan kapasitas sebagai pemimpin yang merakyat sekaligus dicintai.

Pada konteks ini tentunya tak sekadar dimaknai dalam ranah popularitas atau dianggap mampu blusukan di masyarakat ansich, tetapi benar-benar memiliki visi kebangsaan yang jelas, terarah, dan terukur; mampu menyusun grand design (narasi) pembangunan ke depan dengan berpijak pada dasar kearifan lokal; pemanfaatan sumber daya alam menjunjung tinggi kemanusiaan serta toleransi dan mengarahkan kebijakan nasional demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Rakyat sudah mulai bosan dengan segala bentuk pencitraan seorang pemimpin yang kadang tidak sesuai antara ucapan dan tindakan.

Bangsa ini membutuhkan sosok pemimpin yang, ketika menjabat, tidak tersandera oleh kepentingan politik dan konspirasi politik di aras lokal maupun nasional. Memang konsep kepemimpinan negara ini belum jelas definisinya.

Sebagaimana pernah disampaikan oleh Prof Dr Miftah Thoha dalam salah satu tulisannya, belum ada kejelasan tegas antara definisi jabatan negara dengan jabatan politik, karena keduanya saling menunggangi.

Pada posisi inilah seharusnya calon pemimpin harus memahami betul secara kontekstual, bahwa jika nanti dirinya terpilih maka tanggung jawab yang dibebankan kepada dirinya adalah tanggung jawab negara, bukan lagi tanggung jawab kepentingan golongan atau partai politik yang mengusungnya.

Adapun Prof Dr Sri-Edi Swasono, melalui makalahnya "Krisis Kepemimpinan: Rezim Merampok Negara" memberikan gambaran jelas bahwa sosok pemimpin atau calon pemimpin Indonesia ke depan adalah yang memiliki konsep Hasta Brata dalam dirinya.

Dan inilah yang selama ini menjadi prinsip dari pola kepemimpinan dalam tradisi Puro Pakualaman, yakni memiliki karakter sebagai matahari (enabling leader), bulan (team building leader), bintang (visioning and master leader), udara (soul-mate leader), air (democatic leader), samudra (creative, wise, and decesive leader), dan bumi (prosperity leader-tahta untuk rakyat).

Konsep kepemimpinan ini diperkuat oleh nasihat dari Ki Hadjar Dewantara, bahwa seorang pemimpin harus berada di depan (ing ngarso sung tuladho), juga harus di tengah-tengah masyarakat (ing madya mangun karso), dan dalam konteks kesejahteraan seorang pemimpin harus berada di belakang (tutwuri handayani). Konsep kepemimpinan itulah yang dikatakan sebagai kepemimpinan yang Pancasilais.

Paku Alam X sebagai seorang pemimpin dan tokoh nasional diharapkan mampu memegang teguh prinsip Hasta Brata sehingga dalam implementasi kepemimpinannya nanti benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyat dan senantiasa ngayomi.

Yogyakarta telah memiliki sosok pemimpin yang pilih tanding, dan semoga menjadi teladan bagi prosesi kepemipinan nasional. (*)

Editor: dik
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved