Citizen Journalism

Membangun Empati pada Anak

Ada beberapa hal yang menarik yang disampaikan oleh pemateri, di antaranya, bagaimana cara membangun empati pada diri anak.

Membangun Empati pada Anak
dok.pri
Suwanto 

Suwanto
Relawan LAZIS YBW UII

TRIBUNJOGJA.COM - Dalam balutan program Beranda Keluarga, Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shodaqoh Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia (LAZIS YBW UII) Yogyakarta mengadakan pembinaan pola pengasuhan bertemakan "Membagun Empati pada Anak" dengan pemateri Ibu Mira Aliza Rahmawati MPsi.

Acara ini berlangsung pada hari Minggu (17/1/2016), pukul 08.30 sampai dengan 10.30, di Masjid Baitul Qohar, Pascasarjana Hukum UII, Jln Cik Di Tiro 1, Yogyakarta.

Acara Beranda Keluarga LAZIS YBW UII merupakan serangkaian program pembinaan bagi orangtua/wali penerima Beasiswa Prestasi LAZIS YBW UII untuk tingkat SMA.

Ada beberapa hal yang menarik yang disampaikan oleh pemateri, di antaranya, bagaimana cara membangun empati pada diri anak.

Paling tidak ada empat tahapan yang dapat dilakukan. Pertama, perhatikan dan coba dengarkan bahasa tubuh anak. Kedua, pikirkan kemungkinan perasaan apa yang sedang dirasakan oleh anak. Ketiga, pikirkan mengapa anak mengalami perasaan itu. Keempat, sampaikan apa yang dipikirkan kepada anak.

Membangun empati pada anak merupakan keterampilan yang penting yang harus dimiliki oleh orangtua untuk membantu mereka memahami dan menerima perasaan-perasaannya, sehingga pada akhirnya anak tidak lagi mengalami gejolak karena perasaan itu.

Mengingat, telah diketahui bahwa usia remaja merupakan masa di mana biasanya anak penuh dengan tekanan dan gejolak.

Oleh karenanya, orangtua harus bisa memposisikan dirinya seperti sahabatnya yang paham dengan perasaan yang dialami anak. Pendek kata, ikut merasakan apa yang dialami anak.

Pembicara juga menegaskan, lebih dari 50 persen perilaku anak diwujudkan pada apa yang tampak dalam bahasa tubuhnya, yang tentunya lebih banyak jika dibanding bahasa verbal.

Ini patut dipahami oleh orangtua terhadap anaknya. Orangtua jangan acuh ketika anaknya mengalami perasaan yang berbeda dari biasanya, melainkan harus bisa membaca dan merasakan apa yang dirasakan sang anak.

Harapannya, ini dapat membuat anak lebih percaya diri untuk berbagi dan terbuka kepada orangtuanya, sehingga akhir ditemukan solusi yang mampu menentramkan hatinya. (*)

Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved