APBBI Optimis Daya Beli Masyarakat Lebih Baik
Asosiasi yakin daya beli masyarakat mendukung pertumbuhan bisnis pusat belanja.
Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Rento Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Yogyakarta optimis daya beli masyarakat pada 2016 ini lebih baik dari tahun lalu.
Meski menghadapi sejumlah tantangan misalnya kenaikan sejumlah komponen biaya, namun asosiasi yakin daya beli masyarakat mendukung pertumbuhan bisnis pusat belanja.
Wakil Ketua APBBI Yogyakarta, Surya Ananta mengatakan, gejolak perekonomian yang terjadi pada 2015 secara umum tidak terlalu berpengaruh pada iklim usaha di pusat perbelanjaan di Yogyakarta. Ia mencontohkan, hal tersebut utamanya terjadi pada tingkat kunjungan pada musim liburan.
"Pada 2015 secara umum belum terlalu terpengaruh (gejolak ekonomi, red). Misalnya saja di kami, Plaza Ambarrukmo, cukup stabil. Sementara untuk proyeksi 2016 ini menurut saya akan lebih meningkat di banding 2015," katanya ketika ditemui di kantornya, Kamis (14/1/2016).
Menurut Nanan, pada 2016 ini daya beli masyarakat relatif lebih baik. Hal ini tentunya akan berdampak pada spending atu pembelanjaan mereka yang juga diperkirakan membaik.
Adanya mal-mal baru yang beroperasi tidak akan terlalu berpengaruh karena masing-masing sudah memiliki lokasi dan segmentasi sendiri. Momentum mulai naiknya perekonomian ini justru bisa menjadi momentum untuk mencari eksistensi, terutama untuk mal yang baru beroperasi.
"Masing-masing mal sudah memiliki segmentasi khasnya sendiri yang tentunya masing-masing akan mempertahankan positioningnya. Kedua, lokasi dimana properti (mal) itu berada juga berpengaruh. Meski area sama, bisa jadi segmentasi pasarnya berbeda," ungkapnya.
Mengenai tantangan yang dihadapi mal pada 2016 ini, menurut Nanan hal tersebut utamanya pada naiknya seluruh komponen biaya, misalnya biaya operasional. Turunnya harga BBM yang baru saja diumumkan pemerintah tidak akan terlalu berdampak ke sektor pusat perbelanjaan ini.
"Sebab, di usaha seperti ini, komponen bbm bukan yang nomor satu. BBM sangat terasa ketika misalnya untuk back up listrik dari genset. Untuk pengeluaran sendiri paling tinggi di sumber daya manusia, kemudian spare part," ungkapnya.
Khusus untuk listrik, regulasi mengenai perlistrikan ini juga menjadi perhatian APBBI. Menurutnya, pada rapat kerja fan musyawarah nasional yang akan digelar di Jakarta pekan depan, hal ini akan menjadi satu bahan pembahasan.
"Berbagai ketentuan pemerintah mengenai perlistrikan, itu yang akan menjadi satu dari beberapa pokok bahasan di raker dan munas. Hal ini penting untuk menyamakan persepsi," katanya.(*)