Belajar dari Paku Alam VII

Kecerdasan PA VII kian sulit disepelekan selepas berhasil menciptakan wayang Rama dengan pola Kertiwanda

Belajar dari Paku Alam VII
Dok pri
Heri Priyatmoko, Dosen Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma

NYENYET alias lengang. Barangkali itulah kata yang cocok untuk melukiskan suasana lingkungan Pura Paku Alaman sehari-hari.

Istana "anak ragil" Dinasti Mataram Islam ini terkesan tidak berpenghuni. Bagi siapa yang pernah menginjakkan kaki di pura tersebut bakal merasakan berada dalam suasana yang tenang, sederhana, namun indah.

Kemarin, acara kirab jumenengan KGPAA Paku Alam X mengubah kahanan yang hening itu mendadak riuh.

Ribuan orang memadati sepanjang jalan kirab yang dimulai dari pura. Demikian pula beberapa menteri turut serta menyaksikan hajatan agung itu.

Dengan segenap atribut kerajaan yang dikenakan, kejayaan institusi tradisional tempo doeloe seolah kembali menyambangi kita. Kirab bak jembatan waktu, dan memaksa kita membuka lemari sejarah Paku Alaman.

Jatuh pilihan pada Paku Alam II (1906-1937). Kisah kecakapannya perlu dipanggil pulang ke masa kini untuk menjadi suluh dan inspirasi bagi pembesar kadipaten yang baru saja dinobatkan maupun masyarakat.

Selain kreatif, lelaki yang bernama Prabu Suryadilaga ini dikenal berotak encer. Kelopak mata beliau pertama kali melihat terangnya jagad pada tanggal 9 Desember 1882.

Putra dari PA VI dan permaisuri Gusti Timur alias putri dari PA III ini mempersunting buah hati Paku Buwana X, raja Kasunanan Surakarta yang ditemploki gelar "Kaisar Jawa".

Hasil dari pernikahan keluarga aristokrat itu, lingkungan Paku Alaman secara tak langsung terkena pengaruh dari "saudara tua":

Istana Kasultanan dan Kasunanan. Ragam karya yang muncul periode PA VII dan seterusnya, merefleksikan pengaruh karya seni gaya Mataraman.

Disertasi Eddy Supriyatna M (2013) menginformasikan, PA VII tidak bersifat konservatif dalam menyemarakkan jagad seni tari.

Ia bukan sekadar melanjutkan tradisi yang bersemi, namun berani pula menambahkan kembang-kembang pada tarian supaya sedap dipandang dan berkembang, misalnya tari Srimpi dan Bedhaya.

Petinggi pura menghendaki agar warisan leluhur ini mampu melaraskan diri dengan putaran waktu alias nut zaman kelakone. Zaman senantiasa berubah, produk budaya jangan tergilas, harus ada polesan.

Kecerdasan PA VII kian sulit disepelekan selepas berhasil menciptakan wayang Rama dengan pola Kertiwanda, yakni wayang yang semuanya memakai keris. Abdi dalem Ki Rediguna dan Ki Somakariya pun dititahkan untuk menatah wayang.

Tak cuma itu. Akulturasi budaya Jawa dengan Eropa ditemukan pada karya desain kursi yang dibikin di era kepemimpinannya. Jangan terperanjat dengan sajian fakta ini lantaran PA VII memang punya latar belakang pendidikan Barat.

Kursi merupakan simbol kebesaran penguasa Paku Alaman. Tentu, penciptaan desain kursi bukan dorongan guna menandingi dhampar kencana penguasa Kasultanan dan Kasunanan, kedua kakaknya dalam trah Mataram Islam.

Kehadiran kursi ini lebih didasarkan pada sarana duduk untuk menampilkan kebesaran kepala Kadipaten Paku Alaman.

Dalam Babadan Museum Pura Pakualaman, kursi tersebut dinamai Singgasana Pangeran Adipati yang juga disebut palenggahan saat raja menghadiri upacara resmi.

Bahkan, dikatakan pula sebagai dhampar Pangeran Adipati. Pemakaian istilah dhampar mengindikasikan bahwa PA VII memiliki status dan derajat yang sama dengan raja, tetapi bukanlah seorang raja.

Pelajaran apik yang bisa diunduh dari paparan fakta di atas ialah modal kekuasaan dan duit segepok yang dimiliki pemimpin tak cukup untuk membawa "negaranya" menjadi berwibawa dan moncer tanpa didukung oleh segenap ide brilian dan bernas.

Diperlukan pula kecerdasan membaca semangat zaman yang sudah berubah, agar kapal yang dinahkodainya tidak limbung dan karam di era globalisasi ini. (*)

*Oleh: Heri Priyatmoko
Dosen Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma

Editor: dik
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved