TribunJogja/

Penipu Online Manfaatkan Psikologis Korban

Pelaku penipuan biasanya bermain psikologis untuk menipu calon pembeli. Masyarakat tetap bisa tertipu dengan modus yang dilancarkan pelaku.

Penipu Online Manfaatkan Psikologis Korban
foto : Internet
Shop online

Laporan Reporter Tribun Jogja, Santo Ari

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menanggapi banyaknya pengaduan kasus penipuan dengan modus jual beli online, pegiat IT yang juga merupakan mentor Jogja Digital Valley (JDV), Samuel Henry, menuturkan, bahwa pelaku penipuan biasanya bermain psikologis untuk menipu calon pembeli.

Masyarakat meliputi kalangan mahasiswa dan pekerja tetap bisa tertipu dengan modus yang dilancarkan pelaku. Kasus yang paling banyak dijumpai adalah, pelaku menjual barang dengan menurunkan harga yang tidak terlampau jatuh.

Karena pola konsumtif masyarakat yang dalam dunia fisik terbiasa membeli dengan mendapatkan diskon, maka pola tersebut juga berlaku di dunia online.

Dalam praktiknya, penipu rata-rata menjual barang yang tak lebih dari Rp 3 juta. Karena pendapatan masyarakat saat ini yang tinggi, terlebih terbiasa menemukan potongan harga dengan iming-iming harga murah, calon pembeli secara kejiwaan mau mengeluarkan uang.

Dengan tersedianya uang, pemikiran yang tertarik dengan tawaran, maka logika akan mati.

Selain kasus tersebut, biasanya pelaku juga mengarahkan calon pembeli untuk melakukan pengecekan barang dengan memperlihatkan testimoni yang ada di thread yang dibuat oleh penipu itu.

Padahal testimoni tersebut juga berasal dari akun palsu yang dibuat pelaku dan dibuat seolah-olah banyak orang yang mengakui kebenaran thread yang dia buat.

Sedangkan dalam situs jual beli yang ada saat ini tidak ada sistem yang mengkhususkan pengecekan thread satu persatu.

Terlebih kaskus yang dikelola admin, yang tidak mungkin melakukan pengecekan satu persatu padahal member yang ada di portal populer tersebut ada berjuta-juta bahkan puluhan juta dengan trafic posting yang tinggi.

Transaksi jual beli online sudah menjadi euforia di kalangan masyrakat yang melek media. Untuk itulah banyak yang menyalahgunakan kesempatan itu untuk melakukan tindak penipuan.

Masyarakat Indonesia yang terbilang latah harus dibekali dengan pendidikan dan pemahaman terkait modus-modus yang marak.

Peran media dalam memberikan informasi petunjuk dan ciri-ciri pelaku penipuan juga penting agar masyarakat dapat belajar, yang sudah tertipu bisa belajar dari pengalaman serta tahu harus melapor kemana. (Tribunjogja.com)

Penulis: nto
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help