Payung Juwiring Semakin Tersingkir
Saat ini menurut Pawiro hanya tersisa kurang dari duapuluh perajin payung di tempat tinggalnya.
Penulis: pdg | Editor: Hendy Kurniawan
Laporan Reporter Tribun Jogja Padhang Pranoto
TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Keberadaan payung kertas Juwiring kini semakin terpojok. Kerajinan ini menghadapi beberapa masalah, diantaranya surutnya perajin dan bahan baku yang susah didapat.
Surutnya perajin diindikasikan oleh semakin berkurangnya jumlah orang yang menekuni kerajinan tersebut. Para pelaku lebih memilih untuk menekuni pekerjaan yang "menghasilkan" daripada membuat payung. Hal ini diungkapkan oleh Pawirowinangun (68). Telah menggeluti kerajinan payung kertas selama puluhan tahun, warga Gumantar Kwarasan Juwiring tersebut, mengaku banyak daripada angkatannya yang meninggal dunia, namun tak ada regenerasi.
"Anak dari para perajin seangkatan saya lebih memilih bekerja di pabrik, dimana uangnya dapat digantungkan setiap saat," ungkapnya Sabtu (25/10/2014).
Saat ini menurut Pawiro hanya tersisa kurang dari duapuluh perajin payung di tempat tinggalnya.
Sementara dari bahan baku, banyak toko yang tidak lagi menjual perlengkapan pembuat payung. Meskipun masih banyak ditemui, itupun berkualitas rendah.
Menurut Pawiro, jaman keemasan payung kertas berada pada tahun 1950 hingga 1980an. Pada saat itu ia mengaku bisa menjual ratusan payung miliknya, sebagai penangkal hujan. Namun seiring berkembangnya waktu, pamor payung kertas kalah dengan payung modern.
Mengaku masih menggeluti pekerjaan membuat payung, Pawiro mengatakan lebih fokus kepada payung berbahan dasar kain sebagai hiasan perkawinan. Sementara payung kertas, saat ini digunakan untuk upacara kematian. Sisanya hanya untuk hiasan.
Pasar untuk payung-payung Juwiring kini berada di Kota besar semisal Solo Raya, Yogyakarta dan beberapa daerah diluar Jawa. (*)