Laju Pertumbuhan Penduduk Tinggi, Waspadai Penuaan Populasi

Laju pertumbuhan penduduk di Indonesia masih tinggi. Sejumlah ancaman perlu diwaspadai, seperti tingginya angka pengangguran dan population aging

Laju Pertumbuhan Penduduk Tinggi, Waspadai Penuaan Populasi
SHUTTERSTOCK
Kepadatan manusia menjadi pemandangan sehari-hari di salah satu sudut ibu kota India, New Delhi ini. PBB dalam salah satu laporannya menyebut setelah 2028, jumlah penduduk India akan melampaui China.

Laporan reporter Tribun Jogja, Niti Bayu Indrakrista

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Laju pertumbuhan penduduk di Indonesia masih tinggi. Sejumlah ancaman perlu diwaspadai, seperti tingginya angka pengangguran dan population aging alias penuaan populasi.

Pakar Demografi dari Crawford School of Public Policy Australia National University, Prof Peter McDonald mengatakan, angka laju pertumbuhan penduduk Indonesia saat ini sekitar 2,5 persen per tahun.

Di satu sisi, kata dia, akan terjadi pertambahan usia produktif di masa depan. Tapi di sisi lain, fenomena tersebut bisa menghambat pertumbuhan ekonomi karena terjadinya population aging alias penuaan populasi.

Hal itu dikatakan Peter dalam kuliah umum bertajuk "Demographic Bonus and The Future of Indonesia", di Ruang Seminar Fisipol UG, Yogyakarta, Jumat (25/4/2014).

"Permasalahan population aging juga mengancam Indonesia, seperti yang terjadi pada Singapura, Jepang, dan Thailand saat ini," ujar Peter.

Ia menilai, untuk mengatasi population aging, perlu kebijakan tepat dan strategis terkait laju kependudukan sejak sekarang.

Persoalan lain disoroti Peter adalah ketidakmerataan persebaran penduduk yang masih terjadi di Indonesia. "Pertumbuhan penduduk terbesar berada di Jawa, sementara tingkat kesuburan di daerah lain masih rendah," tambahnya.

Sementara itu Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM, Prof Drs Muhadjir Darwin MPA PhD mengatakan, dua pertiga penduduk Indonesia saat ini berada pada usia produktif. Meski demikian, bonus demografi tersebut tidak lantas bisa dianggap sebagai bonus semata. Seberapa jauh tingkat produktivitas tenaga-tenaga tersebut juga perlu diperhatikan.

"Angka pengangguran kita yang tinggi juga tidak akan menguntungkan," ujarnya.

Hal senada diungkapkan Pengajar Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Elan Satriawan MEc PhD.
Menurut dia, potensi bonus demografi seharusnya menjadi keuntungan bagi Indonesia jika penduduk yang masuk dalam kategori usia produktif mendapatkan pendidikan yang bagus. "Ini bukan lagi soal ketersediaan tenaga kerja, tapi sudah menyangkut produktivitas tenaga kerja," kata Elan.(*)

Skandal Kuliner Terkait :
Disegel, Bakpia Tidak Asli Jadi Buronan di Malaysia

Penulis: nbi
Editor: tea
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved