Kamis, 27 November 2014
Tribun Jogja
Home » Yogya » Bantul

MTB Desak Polda Terjunkan Tim Selidiki Hilangnya Arsip Keuangan Bantul

Jumat, 30 Agustus 2013 13:22 WIB

Laporan Reporter Tribun Jogja, M Nur Huda

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL
- Masyarakat Transparansi Bantul (MTB), meminta Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) DIY dan Kapolri menerjunkan tim untuk memantau dan mengawasi proses hukum kasus hilangnya ratusan dokumen keuangan di Kantor Arsip Bantul beberapa waktu lalu.

Kasus yang saat ini sedang ditangani Polres Bantul tersebut, dimaksudkan dengan adanya pengawasan dari Mabes Polri maupun Polda DIY supaya mempercepat proses penyelidikan dan diketahui siapa pencurinya.

Tim Advokasi MTB, Endang Maryani mengatakan, terlepas dokumen yang hilang tersebut merupakan dokumen yang berkaitan dengan kasus skandal dana Persiba yang sedang ditangani Kejati DIY maupun tidak, polisi harus mengusut tuntas siapa aktor di balik pencurian itu.

"Bisa jadi data yang hilang itu juga ada pelanggaran hukum sehingga ada faktor kesengajaan untuk dihilangkan sebelum ketahuan aparat hukum," katanya, Kamis (29/8/2013).

Menurutnya, aksi pencurian itu cenderung bermuatan politis sebab yang diambil adalah data-data penting. Kalau hanya faktor ekonomi, katanya, di gedung tersebut juga terdapat komputer yang nilainya justeru lebih tinggi tapi tidak diambil.

"Argumen pegawai kantor arsip karena bangunan gedung sudah tua dan tidak layak, tidak bisa jadi argumen pembenaran atas hilangnya data-data penting tersebut. Kalau pengelolaan benar, tentu ga akan kecolongan," ungkapnya.

Dalam kasus ini, lanjut Endang, yang paling bertanggungjawab adalah pegawai internal Kantor Arsip dan Kepala Kantor Arsip. Karena mereka memiliki kewajiban dan kewenangan untuk menjaga dokumen-dokumen tersebut tetap aman.

Ia menambahkan, sesuai undang-undang nomor 43 tahun 2009 tentang kearsipan pasal 83 menyebutkan, setiap orang yang dengan sengaja tidak menjaga keutuhan, keamanan dan keselamatan arsip Negara yang terjaga untuk kepentingan Negara dapat dipidana penjara satu tahun atau denda Rp 25 juta.

“Sedangkan untuk pencurinya, dapat dipidana penjara selama lima tahun atau denda Rp 250 juta,” katanya.

Sementara itu, Kasatreskrim Polres Bantul, AKP Alaal Prasetyo mengatakan, sampai saat ini pihaknya telah memeriksa tiga orang sebagai saksi untuk dimintai keterangan terkait hilangnya dokumen tersebut. Ketiganya adalah Kepala Kantor Arsip dan stafnya.

“Dari keterangan para saksi, mereka tidak mengetahui kapan terjadinya peristiwa itu. Jadi kita belum ada gambaran untuk mengarah ke pelaku pencurian,” katanya.

Ia mengatakan, pihaknya baru akan mengkaji terkait kapan terjadinya peristiwa tersebut, apakah dalam waktu baru-baru ini ataukah sudah lama.

“Kita hanya berupaya bekerja maksimal, kalau ada laporan ya kita tindak lanjuti, itu saja,” kata Alaal saat ditanya terkait langkah MTB mengajukan permohonan pengawasan dari Mabes Polri dan Polda DIY terhadap kasus yang ditangani Polres Bantul itu.(had)
Penulis: had
Editor: mon

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas