Menelusuri Jejak Idjon Djanbi di Yogyakarta

Ini Cerita Putra Kedua Idjon Djanbi Tentang Akhir Hayat Sang Pendiri Kopassus

sakit Idjon tambah parah karena ternyata usus besarnya yang bermasalah dan jiwanya tidak tertolong

Ini Cerita Putra Kedua Idjon Djanbi Tentang Akhir Hayat Sang Pendiri Kopassus
Wikipedia
Foto Mochamad Idjon Djanbi, komandan pertama Kopasus
Laporan Reporter Tribun Jogja, Puthut Ami Luhur

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pendiri dan juga mantan komandan pertama Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD, Idjon Djanbi diketahui dimakamkan di Yogyakarta, tepatnya di TPU Kuncen. Pemakaman dilakukan setelah ia dinyatakan meninggal dunia di RS Panti Rapih Yogya pada 1 April 1977.

Putra Kedua Idjon Djanbi Heru Sulistya Djanbi, menceritakan kenapa ayahnya bisa dimakamkan di tempat tersebut. Terakhir, dia bersama keluarga memang bermukim di Subang Jabar setelah ayahnya pensiun dari PTP XXX dan dinas TNI AD.

Pada tahun 1977, dia, kakak dan ibunya Suyatni, diajak sang ayah pergi ke Yogya untuk menengok keluarga dari ibu. Kebetulan, saat itu dia dan kakaknya Heni sedang libur sekolah.

Sang ayah, Idjon Djanbi saat itu mengemudikan mobil seorang diri dari Subang menuju Yogya dan di tengah perjalanan sempat mengeluhkan sakit perut. Sesampainya di Yogya, pendiri Kopassus itu mengeluh sakit perut yang amat sangat dan dibawa ke RS Panti Rapih Yogyakarta.

Diagnosa dokter ketika itu, Idjon usus buntu dan harus dioperasi. Tetapi, setelah operasi usus buntu dua minggu berikutnya perwira Belanda kelahiran Kanada yang memilih menjadi warga negara Indonesia itu harus kembali dirawat di rumah sakit yang sama karena sakitnya tidak kunjung sembuh.

Tak lama dirawat, sakit Idjon tambah parah karena ternyata usus besarnya yang bermasalah dan jiwanya tidak tertolong. "Ibu dan keluarga daripada dibawa kembali ke Subang terlalu jauh akhirnya ayah dimakamkan di sini," kata Heru yang saat itu masih berumur delapan tahun, kepada Tribun Jogja, Kamis (29/8/2013).

Pertimbangan tersebut, juga karena ayahnya sudah tidak mempunyai keluarga di Indonesia apalagi di Subang sehingga memilih menguburkan di Yogya. Kebetulan, kakak dari ibunya saat itu mukim di Jalan Parangtritis.

Sejak saat itu, dia dan keluarganya akhirnya memutuskan untuk mukim di Yogyakarta untuk selamanya. Sebelum pindah di Prawirotaman MG 2/624, dia dan keluarga sempat mukim di Jalan Kaliurang. "Saat ini ibu masih hidup dan mukim bersama saya di Prawirotaman," sambungnya. (ptt)

Penulis: ptt
Editor: mon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved