Pesantren Pabelan Saksi Sejarah Perang Diponegoro

Ponpes Pabelan telah melahirkan beberapa orang besar di bidang akademisi, politik dan pemerintahan

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Sebagian orang mungkin beranggapan Pondok Pesantren merupakan tempat untuk mendidik anak nakal, bodoh, dan anak yang tidak dapat sekolah favorit. Image masyarakat yang sangat miring tentang pendidikan pesantren tersebut kemudian ditepis dengan hadirnya Pondok Pesantren Pabelan, di Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang.

Di pesantren yang terletak di Desa Pabelan tersebut, para santrinya belajar kehidupan bermasyarakat dan bersosial dengan didasari agama Islam. Pesantren yang dibangun di tengah pemukiman penduduk yang masih alami ini, melahirkan beberapa orang besar di bidang akademisi, politik dan pemerintahan. Sebut saja, Prof DR Khomarudin Hidayat (Rektor UIN Jakarta), Prof Dr Bachtiar Effendy (pengamat politik), Siti Ambar Fathonah (Wakil Bupati Magelang), dan Ajisurya (Sekretaris  di Kedutaan Moskow).

Hingga kini bangunan asrama, sekolah dan masjid di Pondok Pesantren tersebut masih kokoh berdiri dan alami. Tak ada pagar ataupun pengamanan yang ketat terhadap Pondok Pesantren ini. Dengan “kebebasan” tersebut,  para santri diajarkan untuk tetap Jujur dan disiplin.

“Memang kami sengaja tidak memasang pagar pada pesantren. Namun, masyarakat sekitar tetap aktif untuk memberikan pengawasan,” ujar Pimpinan Pesantren Pabelan, Kyai Ahmad Najib A Hamam, saat ditemui Tribun Jogja, Selasa (16/7).

Kyai Najib sedikit bercerita adanya kedekatan sejarah antara Pondok Pesantren dengan sejarah kemerdekaan Indonesia. Nama Pabelan, menurutnya merupakan nama yang diambil dari kata “Bela” atau membela.

Pesantren yang dibangun pada tahun 1800 oleh Kyai Mohammad Ali ini turut andil dalam perang Diponegoro pada  tahun 1825.  “Saat itu, para santri terlibat membela Diponegoro mengusir penjajah Belanda. Dari situlah kata Bela berasal, dan digunakan untuk nama Desa dan Sungai,” jelasnya.

Sementara, bangunan bersejarah yang masih tersisa adalah masjid yang digunakan oleh para santri yang dibangun pada tahun 1820. Termasuk juga kebun bambu yang sering disebut kebun Mojo, yang dipergunakan sebagai markas Kyai Mojo saat melawan Belanda.

Hingga pesantren mengalami pasang surut dan resmi didirikan kembali pada 28 Agustus 1965 oleh Kyai Haji Hamam Djafar. Saat awal pendirian, kata Kyai Najib, modalnya hanyalah bangunan masjid yang didirikan. “Jumlah santri 35 pada awalnya, terdiri dari 19 pria dan 16 wanita,” jelas putra pertama Kyai Hamam Djafar ini.

Ia mengatakan pendirian Pesantren ini, tak lepas dari kondisi masyarakat Pabelan dari segi ekonomi dan pendidikan yang memprihatinkan. Sehingga, hingga saat ini santri asal Pabelan tidak dipungut biaya. “Hingga kini masih bertahan dengan tiga hal khas dari Pesantren ini adalah menyatu dengan masyarakat, non sektarian, santri pria dan wanita dalam satu kampus, meski kelasnya terpisah,” jelasnya.

Ia juga mengatakan beragam prestasi pernah ditorehkan oleh Pesantren ini, antara lain pada tahun 1980 mendapat penghargaan Agakhan dari Presiden Pakistan soal arsitektur. Pada tahun 1982 juga mendapat Kalpataru, lantaran para santri rajin menanam pohon dan mencintai lingkungan.

Sementara pada tahun 2007 juga mendapat penghargaan dari Presiden SBY terkait pengelolaan kesehatan santri dan masyarakat. Hal itu karena di pesantren seluas 7 hektar ini, terdapat Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat (BKSM) dan masyarakat bisa mengakses dengan murah. Pesantren Pabelan juga terpilih sebagai tempat jamuan makan malam pada acara International Conference on Herritage and Tourism Managemen tahun 1996.

“Dengan adanya pesantren ini, kami ingin menepis anggapan orang yang masih melihat pesantren sebagai tempat anak nakal, bodoh dan yang tidak dapat sekolah favorit. Kami mendidik mereka untuk jujur, disiplin, tanggung jawab dan tanggap di sini,” jelasnya.

Hal tersebut dibuktikan dengan adanya pertukaran pelajar ke Amerika  dan Jepang. Termasuk pernah meraih penghargaan Internasional Award for Young People yang ditandatangani oleh Pangeran Philip, dari Inggris.  Selain menorehkan prestasi, syuting beberapa film terkenal di Indonesia juga dilakukan di pesantren ini. Seperti syuting film Al Kausar, Tiga Doa Tiga Cinta, dan  Ketika Cinta Bertasbih. (Agung Ismiyanto)

Penulis: ais
Editor: mon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved