Minggu, 1 Maret 2015

Serempah, Kampung yang Hilang Akibat Gempa (Bag I)

Senin, 8 Juli 2013 16:57 WIB

Serempah, Kampung yang Hilang Akibat Gempa (Bag I)
SERAMBI INDONESIA/M ANSHAR
Perumahan warga Desa Serampeh, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah ambruk ke dasar tebing akibat gempa 6,2 SR, Selasa (2/7).

PENGANTAR REDAKSI: Gempa bumi yang melanda wilayah dataran tinggi Gaya, Selasa (2/7) lalu, banyak menyisakan cerita duka. Wartawan Serambi, Ansari Hasyim, coba mengungkapkan berbagai cerita duka tersebut langsung dari lokasi bencana, di Aceh Tengah dan Bener Meriah, dalam tiga laporannya yang mulai kami turunkan edisi ini.

SEREMPAH, desa di kaki bukit itu kini hanya tinggal kenangan. Gempa berkekuatan 6,2 skala richter yang menguncang Aceh Tengah dan Bener Meriah Selasa (2/7) lalu telah melenyapkannya dari peta bumi. Tragedi kemanusiaan di Serempah menyisakan duka mendalam bagi penduduk setempat. Belasan rumah, harta benda, dan fasilitas publik hilang tak berjejak tertimbun longsoran tanah.

Longsoran itu membentuk kawah raksasa berdiameter sekitar 500 meter persegi dengan kedalaman sekitar 100 meter. Bila dilihat dari atas bukit, persis menyerupai lokasi meteor jatuh dari langit. Tidak hanya rumah, di dasar tanah bekas runtuhnya Serempah terdapat 11 warga tertimbun. “Baru empat orang yang sudah ditemukan. Tujuh lainnya masih dalam pencarian,” kata Marzuki (35), seorang warga yang ditemui Serambi di lokasi, Sabtu (6/7).

Desa Serempah terletak di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah. Di sini kanan dan kiri diapit tebing dan bebukitan terjal. Di bawahnya mengalir sebuah sungai dengan air yang jernih sebagai sumber kehidupan warga. Pascagempa, sungai itu kini telah menguning karena tertimbun tanah yang runtuh dari tebing. Tanah pebukitan tersebut begitu mudah runtuh bila ada getaran gempa, karena konturnya yang labil, gembur, dan nyaris tak mengandung bebatuan.

Serambi yang memasuki Desa Serempah, Sabtu (6/7) siang, juga menyaksikan sepanjangan jalan sebelah kanan dengan radius sekitar 500 meter masih terlihat abu berterbangan dari dinding tebing dan bukit. Ini menandakan, tebing dengan kontur tanah yang labil itu diperkirakan kembali runtuh bila gempa susulan terjadi. Tampak juga pohon-pohon berukuran besar dan tinggi tumbang dan miring karena dihantam tanah yang longsor dari tebing saat gempa terjadi.

Pemandangan lebih miris, warga Serempah kini telah menjauh dari desa kelahirannya. Nyaris tidak ada warga yang berani tinggal lagi di tanah yang tersisa dalam desa itu. Selain kondisinya sudah rusak, wilayah di atas pebukitan mulai retak dan sesekali dapat mengancam jiwa warga. “Warga sudah tak berani lagi tinggal di sini. Sebab, tanah di kawasan ini sepertinya sudah tidak kuat lagi menahan goncangan. Sekarang kami mengungsi di Kutagelime,” kata Marzuki.

Desa Serempah kini hanya bisa dilewati oleh kalangan tertentu saja. Upaya ini dilakukan demi keamanan, karena lokasi Serempah sudah tidak stabil lagi dan sewaktu-waktu dapat mengancam jiwa. Akses menuju Serempah hanya diperbolehkan untuk wartawan, tim relawan, aparat keamanan yang hingga kemarin masih melakukan proses pencarian tujuh warga yang masih tertimbun di dasar longsoran.

Halaman12
Editor: mon
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas