Senin, 22 Desember 2014
Tribun Jogja
Home » Jawa

Ketua IDI Jateng Kaget Direktur RS Paru Tersangka Korupsi

Senin, 10 Juni 2013 15:46 WIB

Ketua IDI Jateng Kaget Direktur RS Paru Tersangka Korupsi
SHUTTERSTOCK
ilustrasi

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Tengah, dr Joko Widiyarto mengaku kaget mendengar kabar penetapan status tersangka terhadap mantan Direktur Rumah Sakit Paru dr Ario Wirawan (RSPAW) Salatiga.

Joko juga menyesalkan-jika benar terjadi-praktik bagi-bagi “uang obat” di rumah sakit tersebut. Diduga, para dokter dan apoteker menerima uang mulai yang terkecil Rp 3 juta sampai yang terbesar sekitar Rp 33 juta per orang.

Keprihatinan itu diungkapkan Joko ketika diberi tahu 15 dokter dan 14 apoteker di RSPAW Salatiga diduga "bancakan" uang ratusan juta rupiah. Uang tersebut merupakan cash back atau komisi dari perusahaan distributor obat. Semestinya, uang tersebut dikembalikan ke kas negara.

Dugaan keterlibatan 15 dokter dan 14 apoteker itu diungkapkan penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng. Sejauh ini, penyidik telah menetapkan status tersangka terhadap dua orang yakni mantan Direktur RSPAW, dr HB. Tersangka lain adalah Wo, Kepala Farmasi RSPAW.

"HB kini menjabat sebagai direktur sumber daya manusia di sebuah rumah sakit di Yogyakarta. Dugaan korupsi ini terjadi pada 2009, saat itu HB menjabat Direktur RS Paru dr Ario Wirawan," kata Kasubdit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng, Kompol Agus Setyawan, kepada Tribun Jateng, Minggu (9/6/2013).

Menurut Agus, polisi sudah lama mengidentifikasi kasus dugaan korupsi di rumah sakit khusus kelas A milik pemerintah tersebut. Akan tetapi, laporan adanya dugaan korupsi baru diterima secara resmi pada 10 April 2013. Laporan itu diikuti keluarnya surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) pada 15 April 2013.

"Bersamaan keluarnya SPDP, kami menetapkan dua orang sebagai tersangka. Mereka berperan sebagai pengambil keputusan sekaligus diduga menikmati uang negara untuk kepentingan pribadi," ujar Agus.

Lebih jauh, Agus menjelaskan, pada 2011, Rumah Sakit Paru dr Ario Wirawan Salatiga memiliki anggaran pembelian obat sebesar Rp 11 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dari anggaran itu, sekitar Rp 2,5 miliar digunakan untuk membeli obat dari perusahaan distributor obat, PT Line Farm.

"Pihak rumah sakit memang menyerahkan uang Rp 2,5 miliar tersebut untuk pembelian obat. Namun, ternyata pihak distributor obat memberikan berupa cash back atau pengembalian tunai sebesar 25 persen. Setelah kami selidiki, uang pengembalian tunai itu masuk ke rekening pribadi kedua tersangka. Padahal sesuai aturan, cash back semestinya kembali ke Kas Negara," terangnya.(Tribun Jateng)
Editor: evn

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas