• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 30 Oktober 2014
Tribun Jogja

Di DIY Musim Kemarau Akan Berlangsung Basah

Jumat, 24 Mei 2013 08:19 WIB
Di DIY Musim Kemarau Akan Berlangsung Basah
IST
ilustrasi

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Meskipun musim kemarau sudah mulai terjadi sejak awal bulan ini, namun hujan yang terjadi di wilayah DIY masih cukup intensif. Hal ini dikarenakan adanya gangguan iklim Dipole Mode Indeks (DMI) yang menyebabkan perbedaan suhu pada permukaan laut.


Akibatnya, terjadi kenaikan uap air di Samudera Hindia barat yang berdampak pada pertumbuhan awan hujan di wilayah Sumatera dan Jawa. "Dari pantauan, kondisi ini akan berlangsung sampai Oktober mendatang," terang Analis Forecaster Cuaca Iklim BMKG Yogyakarta, Sigit Hadi Prakoso, Kamis (23/5/2013).


Sebab itu, lanjutnya, musim kemarau pada tahun 2013 akan berlangsung basah. Artinya, intensitas hujan yang terjadi pada musim kering ini lebih tinggi 15 persen dari musim serupa tahun 2012. Dengan demikian, diharapkan masyarakat memerhatikan kondisi cuaca yang dapart berubah setiap saat.


"Bagi yang berprofesi petani bisa mengantisipasi tanamannya. Karena pada musim kemarau kali ini akan lebih sering turun hujan," tukas Sigit.


BMKG Yogyakarta mencatat, hujan yang terjadi di wilayah DIY tengah ke utara pada Rabu (22/5) mencapai 66 milimeter. Kondisi ini, kata Sigit, tergolong hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi pada satu hari di musim kemarau.


Sedangkan, secara keseluruhan pada bulan pertama musim kemarau atau Mei ini, rata-rata hujan turung dengan intensitas mencapai 64 milimeter. "Kondisi seperti ini terjadi di keseluruhan Pulau Jawa. Sedangkan di Sumatera intensitas hujan akan lebih tinggi. Karena lebih dekat dengan pusat gangguan iklim," urai Sigit.


Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah DIY, Gatot Saptadi, menyatakan pihaknya sudah memiliki mapping antisipasi bencana alam di setiap musim. Tak terkecuali potensi terjadinya kekeringan pada musim kemarau kali ini meskipun diprediksi akan berlangsung basah.


Hanya saja, saat ini belum ada persiapan khusus terkait terjadinya kekeringan di berbagai wilayah langganan. Seperti di sebagian besar Gunungkidul dan Prambanan di Sleman. "Sudah disiapkan titik mana saja yang akan diantisipasi dari berbagai potensi bencana alam," tutur Gatot. (hdy)
Penulis: hdy
Editor: evn
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas