Daya Tukar Rupiah Melemah
Dalam satu minggu belakangan ini, kurs USD - IDR kembali diperdagangkan pada sekitaran Rp 9.750 hingga Rp 9.800
Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: Rina Eviana Dewi
Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM
,
YOGYA - Dalam satu minggu belakangan ini, kurs USD - IDR kembali
diperdagangkan pada sekitaran Rp 9.750 hingga Rp 9.800. Kondisi ini,
menurut OCBC Treasury Research & Strategy OCBC Bank Singapore, Gundy
Cahyadi, didorong oleh penguatan USD yang mendominasi pasar mata uang
dunia.
"Menguatnya USD ini telah terjadi karena investor sendiri telah
mengantisipasi bahwa bank sentral Fed akan segera mengakhiri program
QE3-nya, di saat yang bersamaan di mana bank-bank sentral dunia lainnya
masih terus menambah jumlah dana yang tersedia di program quantitive
easing-nya," paparnya pada Kamis (23/5/2013).
Pihaknya memperhatikan, dalam pergerakan nilai mata uang di EM Asia
terhadap USD sejak akhir tahun 2012 lalu, pergerakan rupiah tidak
terlalu buruk. Rupiah tercatat menguat sekitar 0,20 persen terhadap USD,
hanya lebih buruk setelah THB, CNY, dan MYR di EM Asia. Namun yang
menjadi masalah adalah melemahnya rupiah lebih dari 7 persen pada tahun
2012, jauh dari -3,5 persen yang dicatat Indian Rupee sementara semua
mata uang EM Asia lainnya malah menguat terhadap USD. "Kenyataannya,
rupiah masih mempunyai banyak ruang untuk melakukan catch up,"
terangnya.
Secara teori, ia juga melihat bahwa rupiah masih terkesan undervalued
terhadap USD dengan besaran sekitar 10 persen saat ini. Sentimen rupiah
di market juga masih terlihat sangat lemah karena adanya kecemasan
mengenai current account defisit di Indonesia yang mungkin bersifat
struktural. Dalam proyeksinya yang terbaru, IMF memprediksi bahwa
current account defisit akan terus terlihat di Indonesia hingga lima
tahun ke depan.
"Hal ini membuat investor sedikit ragu mengenai prospek rupiah pada
jangka waktu medium, mengingat posisi current account merupakan satu
ukuran fundamental yang sangat penting untuk trajektori nilai mata uang
negara tertentu," katanya.
Menanggapi kondisi ini, lanjutnya, Menteri Keuangan RI, Chatib Basri
beberapa waktu lalu menyatakan priorotas kerjanya untuk menjaga
kestabilan rupiah di market. Bank Indonesia juga telah menunjukkan
tanda-tanda akan menaikkan intensitasnya dalam melakukan aktivitas
smoothing di market. "Intinya, stabilitas merupakan kunci dan tidak ada
target USD - IDR di level mana pun, mengingat sentimen investor global
sendiri akan menjadi faktor yang paling menentukan pergerakan USD ke
depan," jelasnya. (*)