Aksesori Etnik Digemari Turis Jepang
Untaian batu-batu alam mungil terlihat cantik dalam rangkaian kalung dan gelang.
Penulis: tea | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Untaian batu-batu alam mungil terlihat cantik dalam rangkaian kalung dan gelang. Aksesori etnik ini bisa menjadi pilihan bagi wanita yang memiliki style dinamis dan percaya diri.
Adalah Eva Diana Novita Sari (35) yang menciptakan rangkaian aksesori berupa kalung dan gelang etnik tersebut. Aksesorinya ada yang terbuat dari bahan baku batu alam, monte, dan juga acrylic. Berawal dari hobi, Eva sapaannya kini bisa mendatangkan hoki dari bisnis aksesori.
Ketika Tribunjogja.com mendatangi rumahnya di daerah Tamantirto, Kasihan, Bantul, Eva menceritakan awal mula ketertarikannya berkecimpung di usaha aksesori. Sejak kuliah, Eva sebetulnya memang sudah menyukai dunia fesyen. Hanya saja, ketika Eva gagal dalam ujian masuk di jurusan tata busana, karena ketika memasukan benang ke jarum, kepala rasanya pusing. Akhirnya, Eva pun masuk ke jurusan tata boga. Meski begitu, Eva yang sering menerima pesanan kue ini pun merasa hatinya tetap berada di dunia fesyen. Akhirnya di tahun 2006, ia pun menggeluti aksesori.
Eva memang gemar membuat aksesori berupa kalung dan gelang dari bahan monte. Ia menjual kreasinya itu kepada teman-temannya. Tak menyangka juga ternyata banyak yang suka. Karena hasil jualannya laku, ia pun senang dan akhirnya membuat produk yang lebih banyak lagi. Hingga akhirnya Eva memberanikan diri untuk mengikuti pameran di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY), dan tak menyangka dari pameran itulah ia mulai mendapat banyak pesanan.
“Dari pameran itu akhirnya saya banyak mendapat langganan. Dan mulai membesarkan usaha,” ujar Eva, kepada Tribunjogja.com, Rabu (22/5/2013).
Keinginannya untuk mengembangkan usaha itu, Eva pun mengajak perajin-perajin yang ada di sekitar Wates untuk ikut membantu. Setelah mengambil bahan baku dari workshop-nya, Eva pun mulai membagi tugas kepada perajin-perajinnya tersebut, lalu mereka membawa pulang untuk dikerjakan di rumah.
“Jumlahnya sekarang sudah ada 15 orang, bisa mereka seminggu sekali setor hasil yang sudah mereka buat,” ucapnya.
Aksesoris buatan Eva tergolong unik, karena benang untuk merangkai butiran-butiran monte itu dibuat sendiri dari benang nylon. Keunikannya terlihat dari benang yang dikepang hingga rapih dan halus. Bahkan, menurutnya aksesorinya ini digemari oleh turis Jepang, karena kerumitan dalam pembuatannya.
“Hanya orang-orang yang memang ulet saja yang bisa membuatnya, cari perajinnya juga susah,” ucapnya.
Tiap perajin rata-rata bisa membuat 15 pieces gelang dan 10 kalung tiap harinya. Sehingga dalam sebulan kapasitas produksinya mencapai 3.000 pieces. Mengenai pemasaran, Eva mulai memasarkan dengan sistem titip jual antara lain ke berbagai art shop yang terdapat di mal, hingga butik-butik kecil yang ada di Yogya. Ia menjual untuk kalung dengan harga Rp10.000 – Rp150.000, dan untuk kalung mulai Rp15 ribu – Rp500 ribu.
“Untuk yang paling mahal itu biasanya dikombinasi dengan silver,” ujarnya.
Eva kini mampu menghidupi keluarganya dengan bisnis aksesorinya. Dari yang bermodal Rp1 juta, kini omzetnya sudah mencapai puluhan juta. “Alhamdulliah bisa membantu pengeluaran rumah tangga,” ungkapnya. (*)