Olimpiade Difabel Tingkat DIY Digelar di Bantul
Pendapa rumah dinas Bupati Bantul terlihat ramai dari hari biasanya siang itu, Selasa (21/5/2013).
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Joko Widiyarso
Laporaan Reporter Tribun Jogja, Yudha Kristiawan
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pendapa rumah dinas Bupati Bantul terlihat ramai dari hari biasanya siang itu, Selasa (21/5/2013). Beberapa anak berpakaian olahraga nampak sibuk menggambar. Mereka tengah mengikuti Olimpiade bidang seni bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tingat DIY.
Satu di antaranya adalah Puji Lestari (13) siswi kelas 1 rintisan SMP Luar Biasa (LB) Sekarhandayani, Panggang Gunungkidul. Meski kedua tangannya tidak sempurna sedari lahir, tak menghalanginya memegang crayon layaknya kebanyakan orang.
Pada sebuah kertas gambar, Puji pun menggambar terumbu karang, meski ia tak pernah tahu bagaimana sebenarnya keadaan dan hewan apa saja yang hidup di sana. Ubur-ubur, beberapa ikan, karang dan rumput laut menghiasi kertas putih berukuran 60x45 tersebut.
"Ini melukis terumbu karang, aku terinspirasi pantai di Gunungkidul yang indah. Ini imajinasiku, soalnya belum pernah tahu dan lihat seperti apa terumbu karang itu, hanya mendengar dan membaca saja," ujarnya pada Tribunjogja.com.
Meski mengalami keterbatasan, Puji yang sebelumnya telah memenangkan juara pertama perlombaan serupa tingkat Kabupaten Gunungkidul ini, ingin serius mendalami bakatnya di bidang menggambar.
"Kalau ada fasilitas saya pengin terus bisa menggambar," ungkapnya.
Lain halnya dengan Yuli Eko Priyono (17) siswa kelas 1 SMA 1 LB Kulonprogo. Mewakili kabupaten paling barat DIY, Yuli yang mengalami pendengaran tak sempurna sejak lahir ini mengikuti Olimpiade bidang seni bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tingat DIY kategori pantomim.
Berdandan ala Charlie Chaplin, Yuli pun tampil cukup piawai layaknya aktor pantomim andal. Diiringi alunan musik, ia memeragakan kegiatan berburu seekor burung.
"Tadi sempat lupa sedikit, tapi terus ingat lagi," ucapnya terbata.
Menurut salah seorang guru pendampingnya, Bugiarti, Yuli hanya berlatih selama dua pekan untuk mengikuti Olimpiade ini. Namun demikian, menurutnya, Yuli termasuk anak yang cekatan, saat tampil dan sempat lupa jalan cerita, ia segera bisa menutupinya.
"Yuli memang anak yang cekatan dan termasuk serba bisa. Semoga bisa lolos mewakili DIY di tingkat nasional," harapnya.
Diwawancara terpisah, Ketua Panitia Olimpiade, Bambang Priyana menjelaskan, dalam kurun waktu lima tahun ini, Kabupaten Bantul sudah dua kali menjadi tuan rumah penyelenggaraan Olimpiade Seni, Science dan Olahraga Anak Berkebutuhan Khusus tingkat DIY.
"Kita bagi menjadi tiga kategori, nanti masing-masing juara pertama tiap perlombaan berhak mewakili DIY di tingkat nasional yang akan digelar mulai bulan Juni mendatang di tiga kota yakni Bandung Science, Medan Seni, Balikpapan Olahraga," paparnya.
Bambang menjelaskan, untuk kategori seni digelar lomba menggambar, menari tradisional, bernyanyi, cipta baca puisi, desain grafis serta pantomim. Sementara untuk kategori science digelar lomba matematika, IPA, cerdas cerdas cermat MIPA, karya tulis, dan kewirausahaan atau bisnis plan.
"Untuk Olahraga ada lomba lari, lompat jauh, lempar cakram, catur, tenis meja, bulu tangkis, serta lomba kursi roda," terang Bambang.
Bambang menambahkan, Olimpiade yang hanya berjalan selama satu hari ini didanai oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Pelayanan Khusus Dikdas dan Dikmen. "Anggarannya sekitar Rp 110 juta. Itu lumayan mepet, jadi kita sesuaikan," ungkapnya.(*)