Selasa, 23 Desember 2014
Tribun Jogja

Pesawat Bertenaga Surya Terbang Perdana di AS

Minggu, 5 Mei 2013 16:57 WIB

TRIBUNJOGJA.COM, SAN FRANSISCO - Pesawat bertenaga surya yang dijuluki Solar Impulse mendarat dengan aman di Phoenix setelah terbang tanpa sedikitpun bahan bakar selama 18 jam dan 18 menit dari San Francisco, Amerika Serikat (AS), Sabtu (4/5/2013).

Pesawat itu mencapai Phoenix dengan penerbangan berkecepatan rendah pada leg pertama dari rencana untuk melintasi AS hanya menggunakan tenaga matahari, demikian laporan Reuters.

Solar Impulse rencananya akan menyelesaikan penerbangan pertama melintasi AS dalam lima leg dan dijadwalkan singgah di Dallas, St Louis, Washington dan pemberhentian terakhir di New York.

Pesawat berbadan ramping itu berdengung ketika lepas landas dari bandara sipil-militer di dekat San Fransisco, Moffett Field, Jumat (3/5/2013) pagi, dan mendarat dalam gelap dini hari di Sky Harbor International Airport di Phoenix menurut laman Solar Impulse.

Para awak pesawat tersebut merencanakan jeda di setiap pemberhentian untuk menunggu cuaca membaik. Pesawat diharapkan tiba di John F. Kennedy International Airport, New York, dalam sekitar dua bulan.

Pilot asal Swiss Bertrand Piccard, salah satu pengusung proyek itu, dan Andre Borschberg akan bergiliran menerbangkan pesawat dengan satu kursi kokpit itu. Pada penerbangan pertama ke Arizona, Piccard yang memegang kendali.

Pesawat yang dibuat dari serat karbon ringan itu memiliki lebar sayap seukuran sayap jet jumbo dan bobotnya hampir sama dengan bobot sebuah mobil kecil.

Dari kejauhan, pesawat yang dirancang sedemikian rupa sehingga bisa terbang selama 24 jam sekali jalan itu nampak seperti seperti serangga raksasa yang melayang di udara.

Pesawat itu digerakkan oleh energi yang dikumpulkan dari 12.000 sel surya pada bagian sayap yang secara simultan mengisi ulang empat baterai besar dengan kapasitas simpan setara sebuah mobil listrik Tesla, memungkinkannya terbang setelah gelap.
 
Desain yang ringan dan sayap yang lebar membuat pesawat itu mampu melakukan menyimpan energi, namun juga membuatnya rapuh, tidak bisa menembus angin kencang, kabut, hujan atau awan.

Pesawat tersebut mampu terbang hingga 28.000 kaki atau sekitar 8.500 meter dengan kecepatan rata-rata 43 mil per jam atau 69 kilometer per jam.

Proyek yang dimulai sejak 2003 dengan anggaran untuk sepuluh tahun sekitar 112 juta dolar AS dan melibatkan sejumlah insinyur dari perusahaan pembuat eskalator asal Swiss, Schindler, serta bantuan penelitian dari grup perusahaan bahan kimia asal Belgia, Solvay. (*)
Editor: wid
Sumber: Antara

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas