Selasa, 28 April 2015
Home » Jawa

Warga Teringat Tragedi Sinila 1979

Kamis, 4 April 2013 11:39

Warga Teringat Tragedi Sinila 1979
TRIBUNJOGJA/HANAN WIYOKO
Asap terlihat mengepul dari Kawah Timbang dilihat dari lembah Kalisat pada Rabu (28/3/2013)

TRIBUNJOGJA.COM, BANJARNEGARA - Peristiwa gas beracun Kawah Timbang membuat ingatan Torip Wiryo Suripto (67) teringat pada Tragedi Sinila pada 20 Februari 1979. Saat itu Torip sempat pingsan karena menghirup gas CO2 ketika mengevakuasi korban meninggal di sekitar SD Inpres Kepucukan.

"Banyak mayat bergelimpangan di sekitar SD Inpres. Saat itu belum tahu apa penyebab mereka meninggal," kata Torip yang saat itu datang bersama empat warga lainnya.

Kata dia, kelima orang saat itu menjadi tim pertama yang datang ke lokasi penemuan mayat. Tak lama setelah itu datang truk warga untuk melakukan evakuasi mayat.

"Ketika turun dari truk saya sempat menghirup gas beracun dan pingsan. Saya ditolong segera dinaikkan ke truk dan dibawa pergi menjauh. Dalam perjalanan saya kemudian siuman," kata Torip ditemui di rumahnya Dusun Simbar Desa Sumberejo, Kecamatan Batur, Banjarnegara yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari pusat semburan gas beracun Kawah Timbang.

Dari catatan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Dieng, Tragedi Sinila 1979 merupakan emisi gas beracun yang mengikuti erupsi freatik dari kawah di sebelah barat daya kompleks Gunung Dieng. Kejadian ini mengakibatkan 149 orang meninggal pada Selasa pagi, 20 Februari 1979.

Tercatat gempa terasa pada pukul 01.55, 02.40 dan 04.00 WIB, kemudian terjadi letusan dari Kawah Sinila pada pukul 05.04 WIB diikuti dengan keluarnya awan letusan berwarna abu-abu kehitaman.

"Goncangan gempa terasa keras sampai lampu minyak ikut padam," kata Torip yang kemudian mengajak istri dan anaknya mengungsi ke Batur.

Halaman12
Editor: evn
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas