• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 1 Oktober 2014
Tribun Jogja
Home » Jawa

Warga Teringat Tragedi Sinila 1979

Kamis, 4 April 2013 11:39 WIB
Warga Teringat Tragedi Sinila 1979
TRIBUNJOGJA/HANAN WIYOKO
Asap terlihat mengepul dari Kawah Timbang dilihat dari lembah Kalisat pada Rabu (28/3/2013)
Laporan Repoorter Tribun Jogja, Hanan Wiyoko

TRIBUNJOGJA.COM, BANJARNEGARA
- Peristiwa gas beracun Kawah Timbang membuat ingatan Torip Wiryo Suripto (67) teringat pada Tragedi Sinila pada 20 Februari 1979. Saat itu Torip sempat pingsan karena menghirup gas CO2 ketika mengevakuasi korban meninggal di sekitar SD Inpres Kepucukan.

"Banyak mayat bergelimpangan di sekitar SD Inpres. Saat itu belum tahu apa penyebab mereka meninggal," kata Torip yang saat itu datang bersama empat warga lainnya.

Kata dia, kelima orang saat itu menjadi tim pertama yang datang ke lokasi penemuan mayat. Tak lama setelah itu datang truk warga untuk melakukan evakuasi mayat.

"Ketika turun dari truk saya sempat menghirup gas beracun dan pingsan. Saya ditolong segera dinaikkan ke truk dan dibawa pergi menjauh. Dalam perjalanan saya kemudian siuman," kata Torip ditemui di rumahnya Dusun Simbar Desa Sumberejo, Kecamatan Batur, Banjarnegara yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari pusat semburan gas beracun Kawah Timbang.

Dari catatan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Dieng, Tragedi Sinila 1979 merupakan emisi gas beracun yang mengikuti erupsi freatik dari kawah di sebelah barat daya kompleks Gunung Dieng. Kejadian ini mengakibatkan 149 orang meninggal pada Selasa pagi, 20 Februari 1979.

Tercatat gempa terasa pada pukul 01.55, 02.40 dan 04.00 WIB, kemudian terjadi letusan dari Kawah Sinila pada pukul 05.04 WIB diikuti dengan keluarnya awan letusan berwarna abu-abu kehitaman.

"Goncangan gempa terasa keras sampai lampu minyak ikut padam," kata Torip yang kemudian mengajak istri dan anaknya mengungsi ke Batur.

Kurang dari sejam letusan yang kedua , lahar panas mengalir dari Kawah Sinila hingga memotong jalan. Total volume lahar dari Kawah Sinila sekitar 15.000 meter kubik.

Pada pukul 06.50 WIB, kawah baru Sigluduk sekitar 250 meter sebelah barat Kawah Sinila mulai mengeluarkan uap.

Penduduk Desa Kepucukan melarikan diri, beberapa diantaranya menuju ke arah barat (ke Batur) dan tewas akibat gas CO2 dan H2S yang keluar dari beberapa lubang kecil dan rekahan-rekahan di sebelah selatan dan barat kawah serta membanjiri area yang lebih rendah di tepi jalan. Yang lainnya tewas di dekat sekolah dasar setelah mencoba mundur melihat korban yang telah meninggal.

Sekitar 15.000 orang diungsikan dari enam desa di dekatnya dan pada dua zona bahaya. (*)
Editor: evn
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
263193 articles 38 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas