Tren Ikat Pinggang

Dari Obi Hingga Ikat Pinggang Kulit

Desainer ternama dan publikasi media yang menjadi acuan utama sebuah mode tertentu akan hadir, selanjutnya tren pasar yang menentukan.

Dari Obi Hingga Ikat Pinggang Kulit
Net
String belt.
Laporan Reporter Tribun Jogja, Theresia T Andayani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ikat pinggang pada zaman dahulu merupakan ciri khas maskulin dan hanya berfungsi sebagai alat bantu. Saat ini, ikat pinggang bukan monopoli tren kaum adam saja, tetapi justru berkembang menjadi tren kaum hawa.

Setiap tahun, tren ikat pinggang terus berubah mengikuti mode yang ada. Sekarang ini, ikat pinggang bermodel lebar atau besar menjadi tren yang sangat digemari, terutama oleh kaum hawa yang selalu mengikuti perkembangan fashion.

Desainer ternama dan publikasi media yang menjadi acuan utama sebuah mode tertentu akan hadir, selanjutnya tren pasar yang menentukan.

Sejarah ikat pinggang sebenarnya bermula sejak 3.000 SM, di mana manusia mulai menambang logam mulia. Pada waktu itu, ikat pinggang lebih berfungsi sebagai sabuk peralatan ketimbang fashion.

Selain itu, di Jepang juga muncul yang dinamakan obi, yang berfungsi untuk ikat pinggang. Adapun, ikat pinggang mulai menjadi bagian dalam dunia mode pada awal abad pertengahan kendati masih menjadi fashion pria.

Selanjutnya, ikat pinggang yang melingkar longgar di pinggul dipercaya merupakan pengaruh para hippies dan menjadi tren pada era 70-an. Begitu juga dengan variasi buckle eklektik yang menjadikan ikat pinggang sebagai salah satu must-have-item bagi kaum hawa.

Tidak hanya dari kulit, bagi kaum hawa, ikat pinggang terus berevolusi, baik dari bentuk, ukuran, maupun penggunaan bahan. Dan kini, bentuk ikat pinggang beragam, mulai yang berbahan kain, rantai logam, tali tipis, hingga bentukan ikat pinggang menyerupai korset.

(Tribunjogja.com)

Penulis: tea
Editor: igy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved