• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 1 November 2014
Tribun Jogja
Home » Jawa

Pengakuan Kerabat Keraton Solo yang Dituduh Palsukan Gelar

Jumat, 11 Januari 2013 19:34 WIB
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ikrob Didik Irawan


TRIBUNJOGJA,COM, SOLO
- Kanjeng Pangeran Haryo Adipati (KPHA) Hari Sulistyono Sasronagoro akhirnya angkat bicara terkait tuduhan pemberian gelar palsu kepada Lim Kim Ming, warga Malaysia. Hari merasa dirinya telah difitnah akibat aduan Lim ke Polresta Solo beberapa waktu lalu.


Hari mengaku kali pertama bertemu dengan Lim pada pertengahan Oktober 2012 antara tanggal 16 dan 17. Saat pertemuan itu, Lim memperkenalkan diri dengan embel-embel nama Kanjeng Raden Aryo (KRA) pada bagian depan nama. “Saat itu dia mengajak kerjasama dibidangan budaya, pendidikan dan ekonomi,” kata Hari, Jumat (11/1/2012) saat memberikan pernyataan di Omah Sinten.


Raja keraton Surakarta PB XIII Hangabehi kemudian mengajak Lim untuk melakukan pembicaraan pada 23 Oktober 2012. Namun menjelang hari yang ditentukan, Lim bermasalah dengan otoritas imigrasi di Malaysia. Selanjutnya, pertemuan direncana ulang yakni pada 23 November 2012 melalui perantara Felix Sianjaya.


Felix merupakan utusan keraton  yang biasa berkomunikasi di kesultanan Malaysia. Hari mengaku mendapat informasi bahwa di Malaysia terdapat sebuah perusahaan dengan nama Keraton Solo Hadinigrat SDN BHD atau badan usaha berbentuk PT. Setelah ditelusuri, PT itu didirikan oleh Lim. “Pertemuan belum sempat dilakukan. Keraton memutuskan untuk tidak bekerjasama Lim sampai sekarang,” katanya.


Pada 24 November 2012, Lim menemui PB XII Hangabehi dan permaisuri. Dari situ diketahui gelar yang disandang Lim sudah menjadi Kanjeng Pangeran (KP). Gelar yang disandang Lim itu ternyata tak seizin Sang Raja. Gelar yang diakui Keraton hanyalah gelar pada 2010 silam yakni KRA. “Jadi tak benar kalau saya dianggap menipu dengan memberikan gelar KP, itu fitnah. Sebelum Oktober 2012, saya belum pernah dengan Lim,” kata Hari.


Lim Kim Ming melapor ke Polresta Solo mengaku sebagai korban pemerasan dan pemalsuan gelar keraton. Dua orang yang dilaporkan yakni Hari Sulistyono Sasronagoro dan seorang lagi berinisial FS. Lim diminta membayar Rp 125 juta untuk kenaikan gelar dari Kanjeng Raden Arya (KRA) menjadi menjadi Kanjeng Pangeran. Semula, nilai yang dibandrol adalah Rp2 miliar. (*)
Penulis: dik
Editor: evn
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas