A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Cara Menyikapi Anak yang Sering Bertengkar - Tribun Jogja
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 Juli 2014
Tribun Jogja

Cara Menyikapi Anak yang Sering Bertengkar

Jumat, 11 Januari 2013 09:04 WIB
Cara Menyikapi Anak yang Sering Bertengkar
Ilustrasi
TRIBUNJOGJA.COM - Kalau anak usia prasekolah mengalami pertengkaran yang terjadi setiap hari, bahkan sehari bisa 3-5 kali, entah bertengkar dengan adik, kakak, atau teman, sebaiknya cari latar penyebab yang lebih spesifik.

Maksudnya, bukan sekadar rebutan atau cemburu tetapi ada faktor lain di luar itu semua. Mungkin saja salah satu anak mengalami masalah dengan perkembangan psikologisnya. Misal, si teman mengalami gangguan perilaku hiperaktif yang membuatnya melakukan tindakan tidak biasa, di antaranya selalu menimbulkan "kerusuhan" dengan merebut mainan atau benda dari temannya. Ia pun tampak agresif untuk menyakiti orang lain, sehingga pertengkaran kerap tak terhindarkan.

Bisa juga karena pola asuh yang keliru. Banyak orangtua yang tidak sadar telah menerapkan pola asuh "berat sebelah". Artinya, orangtua jauh lebih memerhatikan adik dibandingkan kakaknya. Ia meminta si kakak harus mengerti apa yang orangtua lakukan terhadap adik tanpa terlebih dahulu menyiapkan mentalnya. Padahal, kemampuan si kakak untuk memahami perubahan pada lingkungannya belum terlalu baik.

Anak pun akan beranggapan orangtua hanya menyayangi adiknya, ia merasa tidak disayang. Alhasil, akan muncul kecemburuan bahkan kebencian terhadap adiknya sehingga selalu berusaha menyakiti adiknya yang akhirnya memicu perselisihan.

Maria Herlina Limyati, MSi, Psi, dari Methamorphe Psycological Service mengatakan kondisi demikian perlu diatasi dengan tepat, bukan dengan memberikan hukuman karena tidak akan efektif. Tapi, berkonsultasi ke ahli psikologi untuk mengobservasi anak, mencari akar masalah, kemudian dibantu mencari solusinya.

Pada anak berkebutuhan khusus (ABK), seperti hiperaktif, tentu perlu dilihat seberapa parah keadaannya, ringan atau berat, kemudian dibuatkan program untuk mengatasinya. Atau mungkin orangtua sudah merasa benar dengan pola asuh yang diterapkannya, padahal sebenarnya tidak demikian, ini pun perlu dicarikan solusi. Biasanya dengan berkonsultasi ke ahli, solusi dapat ditemukan. (*)
Editor: wid
Sumber: Nova
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas