Sabtu, 5 September 2015

Misa 1 Sura di Gereja Kumetiran

Sabtu, 1 Desember 2012 15:01

SEMBOYAN Bhineka Tunggal Ika yang diambil dari Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular, sungguh tepat diterapkan di negara yang terdiri dari beragam suku bangsa, budaya dan kepercayaan ini. Perbedaan dimaknai positif agar saling memperkaya dan meneguhkan sudah tertanam sejak jaman Majapahit.

Ungkapan Bhina Ika Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa yang kemudian disingkat menjadi Bhineka Tunggal Ika, diartikan sebagai "meskipun berbeda-beda kita tetap satu". Karena itu pula negara dan bangsa ini menjadi kaya akan tradisi, budaya dan adat istiadat.

Satu diantaranya adalah tradisi malam penyambutan tahun baru. Ada tahun baru Masehi, Hijriyah, Jawa, Saka dan China (Imlek). Meski ujubnya sama, bahwa malam tahun baru selalu digunakan untuk bersyukur atas satu tahun berjalan yang telah dilalui dengan segala suka dan duka dan saat untuk mengharapkan rahmat Tuhan bagi masa datang yang akan dijalani bersama, gaya, cara, ragam dan rasanya memiliki kekhasan masing-masing.

Demikian pula penyambutan malam tahun baru Jawa, biasa dirayakan dengan laku prihatin, tirakatan dan mengadakan ritual mubeng beteng Keraton, serta ditandai pencucian pusaka (jamasan pusaka).

Melalui gerakan inkulturasi, Gereja Katolik menghargai dan memaknai tradisi yang ada dan berkembang dalam masyarakat sejauh tak bertentangan ajaran Gereja. Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran Yogyakarta menyambut Tahun Baru Jawa 1 Sura 1946 dengan menyelenggrakan Perayaan Ekaristi (Misa), Pesta Umat dan Tirakatan pada Rabu (14/11).

Meski cuaca kali itu mendung, bahkan di saat misa sempat turun hujan, tak menyurutkan niat umat Paroki Kumetiran hadir dalam Misa tersebut. Terbukti gereja padat terisi bahkan melebar hingga di sisi sayap sebelah selatan gereja.

Perayaan Ekaristi dengan tema "Lumantar Kabudayan Jawi, Nggayuh Iman Sing Luwih Jero lan Jejeg" dalam bahasa Indonseia diartikan sebagai "Melalui Kebudayaan Jawa, Agar Beriman Lebih Mendalam dan Tangguh" diwujudkan dalam Misa berbahasa Jawa dengan iringan gamelan. Pemimipin perayaan ekaristi dan para petugas berbusana Jawa.

Halaman12
Editor: igy
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas