• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 25 Oktober 2014
Tribun Jogja

Misa 1 Sura di Gereja Kumetiran

Sabtu, 1 Desember 2012 15:01 WIB
Yohanes Siyamta
Umat Gereja Katolik Kumetiran

SEMBOYAN
Bhineka Tunggal Ika yang diambil dari Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular, sungguh tepat diterapkan di negara yang terdiri dari beragam suku bangsa, budaya dan kepercayaan ini. Perbedaan dimaknai positif agar saling memperkaya dan meneguhkan sudah tertanam sejak jaman Majapahit.

Ungkapan Bhina Ika Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa yang kemudian disingkat menjadi Bhineka Tunggal Ika, diartikan sebagai "meskipun berbeda-beda kita tetap satu". Karena itu pula negara dan bangsa ini menjadi kaya akan tradisi, budaya dan adat istiadat.

Satu diantaranya adalah tradisi malam penyambutan tahun baru. Ada tahun baru Masehi, Hijriyah, Jawa, Saka dan China (Imlek). Meski ujubnya sama, bahwa malam tahun baru selalu digunakan untuk bersyukur atas satu tahun berjalan yang telah dilalui dengan segala suka dan duka dan saat untuk mengharapkan rahmat Tuhan bagi masa datang yang akan dijalani bersama, gaya, cara, ragam dan rasanya memiliki kekhasan masing-masing.

Demikian pula penyambutan malam tahun baru Jawa, biasa dirayakan dengan laku prihatin, tirakatan dan mengadakan ritual mubeng beteng Keraton, serta ditandai pencucian pusaka (jamasan pusaka).

Melalui gerakan inkulturasi, Gereja Katolik menghargai dan memaknai tradisi yang ada dan berkembang dalam masyarakat sejauh tak bertentangan ajaran Gereja. Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran Yogyakarta menyambut Tahun Baru Jawa 1 Sura 1946 dengan menyelenggrakan Perayaan Ekaristi (Misa), Pesta Umat dan Tirakatan pada Rabu (14/11).

Meski cuaca kali itu mendung, bahkan di saat misa sempat turun hujan, tak menyurutkan niat umat Paroki Kumetiran hadir dalam Misa tersebut. Terbukti gereja padat terisi bahkan melebar hingga di sisi sayap sebelah selatan gereja.

Perayaan Ekaristi dengan tema "Lumantar Kabudayan Jawi, Nggayuh Iman Sing Luwih Jero lan Jejeg" dalam bahasa Indonseia diartikan sebagai "Melalui Kebudayaan Jawa, Agar Beriman Lebih Mendalam dan Tangguh" diwujudkan dalam Misa berbahasa Jawa dengan iringan gamelan. Pemimipin perayaan ekaristi dan para petugas berbusana Jawa.

Ketiga Pastor Paroki berkenan memimpin Misa Konselebrasi. Selebran Utama Rama Yosef Suyatno Hadiatmojo, Pr didampingi Rama Florentinus Harto Subono, Pr dan Rama Fransiskus Xaverius Suyamto, Pr.

Misa diawali dengan ritual lampah wening (berjalan dalam keheningan) -- mirip tradisi mubeng beteng -- mengelilingi mengesan, menarik, segar dan mengena. Rama Yatno sebagai Selebran Utama sekaligus moderator mengawalinya dengan sebait tembang Dhadhanggula. Disambung Rama Bono mengungkapkan bahwa perayaan ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mamayu hayuning bawana (menjaga keselamatan dunia).

Sedangkan Rama Yamto mencoba meneragkan makna Kitab Suci bahwa kepercayaan itu adalah anugerah dari Allah yang terwujud dalam diri Yesus Sang Putra terkasih, yang sabda dan kehendak-Nya harus selalu kita ikuti dan laksanakan dalam hidup sehari-hari. Kemudian Rama Yatno menutup homili dengan melantumkan sebait tembang Pangkur.

Bila pada setiap Sura ada tradisi Jawa jamasan pusaka, maka pada saat misa ini umat dimohon membawa salib dan atau rosario untuk disucikan kembali dengan percikan air suci. Upacara ini dilaksanakan sesudah homili. Setelah Misa berakhir disambung dengan pesta umat menyantap sega megana (nasi gudangan) di halaman gereja.

Setelah dua acara itu berlangsung disambung dengan tirakatan dan sarasehan di Panti Paroki Atas. Sarasehan yang juga dihadiri tokoh masyarakat lintas agama ini, didahului dengan tembang dan gendhingan religius dibawakan oleh Paguyuban Seni Santi Laras dari Gereja Katolik Somohitan Turi, Panembrama dan Macapat oleh Paguyuban Macapat Pamase dan Wasesa.

Melalui kegiatan ini Gereja berusaha menghargai dan melestarikan tradisi dan selalu mengarahkan umatnya agar beriman mendalam dan tangguh.
Editor: igy
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
130803 articles 38 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas