• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 21 Oktober 2014
Tribun Jogja

Hengky Raup Rp 100 juta per Bulan dari Limbah Plastik

Rabu, 21 November 2012 22:35 WIB
Hengky Raup Rp 100 juta per Bulan dari Limbah Plastik
TRIBUNJOGJA.COM/RENTO ARI NUGROHO
Seorang pekerja pada pabrik pengolahan limbah plastik sedang menjemur serpihan plastik yang baru saja digiling.

TRIBUNJOGJA.COM, PURWOREJO - Plastik merupakan satu dari beberapa benda yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat saat ini. Namun, begitu tergantungnya orang dengan benda yang terbuat dari plastik menjadi masalah tersendiri. Plastik merupakan benda yang sulit terurai secara alamiah, sedangkan volume penggunaannya terus meningkat, inilah yang akan menjadi akar masalah serius untuk lingkungan apabila tidak segera diatasi.

Namun, bagi Hengky Adi Wibowo (31), warga jalan Kyai Brengkelan 11 Purworejo, hal tersebut malah menjadi peluang usaha. Sejak lima tahun yang lalu ia membuka usaha pengolahan limbah plastik di rumahnya. Dari usahanya ini, selain berhasil membantu proses daur ulang limbah plastik ia juga memetik keuntungan yang lumayan.

"Awalnya saya hanya melihat teman yang memiliki usaha pengolahan limbah plastik. Kemudian saya kepikiran untuk mencoba," jelas Hengky ketika ditemui di rumahnya, Rabu (21/11/2012).

Ia mengungkapkan, faktor lain yang mendorongnya membuka usaha pengolahan limbah plastik ini adalah kondisi lingkungan. Selama ini ia mengetahui limbah plastik sangat sulit terurai di alam. Padahal, setiap hari penggunaan plastik semakin meningkat. Tentunya hal itu lama kelamaan akan menimbulkan masalah.

"Saya mikir, bagaimana caranya agar plastik tersebut bisa digunakan lagi. Setelah melihat usaha teman saya itu, saya akhirnya mencoba," jelas Hengky.

Setiap harinya rumah Hengky yang terletak di ringroad utara Purworejo ini mengolah sampai sekitar 1 ton limbah plastik. Berbagai macam plastik mulai dari jenis PP, PE, PET dari berbagai warna ia olah. Namun, sebelumnya ia menyortirnya sesuai dengan jenis bahan dan warna plastiknya.

"Limbah plastik tersebut saya dapatkan dari para pengepul, dan pengepul tersebut mendapatkannya dari para pemulung," kata Hengky.

Untuk mengolah limbah plastik setelah disortir, kemudian plastik digiling menggunakan satu unit alat penggiling. Namun, proses ini memerlukan air sebagai katalisator. Setelah digiling, dihasilkanlah serpihan plastik yang masih basah. Oleh Hengky, serpihan plastik ini kemudian dijemur. Setelah kering ia kemudian menyimpannya dalam karung untuk kemudian dijual.

"Tapi kadang untuk plastik jenis tertentu contohnya jenis PET, keringnya agak susah. 1-2 hari baru kering, apalagi musim hujan," imbuh Hengky.

Menurutnya, serpihan plastik kering tersebut kemudian dijual ke pabrik pengolahan plastik seharga Rp 5-10 ribu per kilogramnya. Kemudian, serpihan tersebut biasanya akan diolah menjadi pellet atau bijih plastik. Bijih inilah yang kemudian diolah kembali menjadi berbagai macam produk berbahan plastik.

Hengky mengungkapkan, usaha pengolahan limbah plastik ini cukup menjanjikan. Dalam sebulan omzetnya mencapai 100-120 juta rupiah. Bahkan, ia kini memiliki dua tempat pengolahan plastik.

"Pengolahan yang di Sindurjan lebih dikhususkan untuk pengepresan plastik PET. Untuk yang di sana, pabrik minta plastik dalam bentuk kotak hasil pres," jelas Hengky yang memiliki 20 orang pekerja ini.

Usaha Hengky ini juga terus berkembang. Dalam satu minggu ia bisa menyetor sebanyak tiga kali ke pabrik. Berlimpahnya limbah plastik menjadi pendorong kuat mengapa usaha ini terus berkembang. Di Purworejo saja, terdapat empat usaha sejenis. Hal ini menunjukkan bahwa jenis usaha ini sangat terbuka lebar prospeknya.

Namun, berurusan dengan limbah tentunya akan berurusan pula dengan gangguan kesehatan. Hal inilah yang dikeluhkan oleh Bambang (28) seorang pekerja di pengolahan limbah milik Hengky. Menurutnya, yang harus diwaspadai adalah debu dari serpihan plastik ketika sedang digiling.

"Debu plastik setahu saya cukup berbahaya, apalagi ketika berada dekat mesin penggilingan. namun hal itu telah diatasi dengan keharusan memakai masker ketika bekerja," jelas Bambang.

Warga Karangjati, Loano ini mengungkapkan, selama tiga tahun ia bekerja pada Hengky, tidak pernah ada masalah kesehatan serius. Hal inilah yang membuatnya setia menekuni pekerjaan ini. (Rento Ari Nugroho)
Penulis: toa
Editor: wid
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
120674 articles 38 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas