• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 1 November 2014
Tribun Jogja
Home » Jawa

SMK Langganan Tawuran Nyatakan Tobat

Selasa, 30 Oktober 2012 23:19 WIB
Laporan Reporter Tribun Jogja, M Nur Huda

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG
- Dua sekolah menengah kejuruan (SMK) swasta langganan tawuran di Kota Magelang yakni, SMK Yudha Karya dan SMK 45 menggelar deklarasi damai di Aula Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Magelang, Selasa (30/10/2012).

Selain dua SMK tersebut, Disdik juga memanggil perwakilan dari SMK Adipura, agar seluruhnya bisa terlibat dalam aksi perjanjian damai tersebut. Deklarasi yang difasilitasi oleh Disdik itu dihadiri sejumlah kepala sekolah, guru dan siswa dari masing-masing sekolah.

Dalam momen itu disepakati bahwa ketiga sekolah tersebut berjanji untuk melakukan antisipasi perselisihan berkelanjutan.

Kepala Bidang Pendidikan Menengah Disdik Kota Magelang, Sumardi mengatakan, tawuran yang telah menjadi tradisi ini diminta segera diakhiri dan mampu didapati hasil damai diikuti perubahan karakter siswa yang semakin baik.

"Memang masalah tawuran antara SMK ini sudah mentradisi. Tetapi, itu hanya masalah insidentil saja. Kami berusaha untuk menjembatani perselisihan ini, untuk mencari akar permasalahannya dan menyelesaikannya secara bersama-sama," katanya, ketika ditemui usai memimpin mediasi.

Dari pengakuan siswa yang turut hadir dalam deklarasi itu, lanjut Sumardi, sebagian besar faktor bentrok antarsiswa tersebut hanya terjadi karena hal-hal sepele. Seperti halnya masalah pandangan mata, saling mencorat-coret gedung sekolah lain, pembicaraan yang negatif dengan pelajar sekolah lain, dan yang terakhir karena ada masalah ketika mereka masih duduk di bangku SMP.

Untuk itu, pihaknya berharap selain memfasilitasi perjanjian damai, agar para siswa ini nantinya lebih menekankan amalan agama untuk mencegah tindakan anarkis.

"Jadi baik para guru maupun orang tua harus menekankan pembelajaran agama. Kerena karakter yang baik itu, semuanya ada kaitannya dengan amaliah agama," ujarnya.

Menurut Sumardi, dari masalah tradisi tawuran itu, saat ini sudah ditemukan akar permasalahannya. Sebab, selama ini ternyata ada peran dari para alumni beberapa sekolah ini sengaja melakukan provokasi terhadap para siswa, hingga terpengaruh untuk melakukan tindakan-tindakan yang memicu perselisihan.

Sumardi menambahkan, dalam waktu dekat ini akan dibentuk guru pamong yang bertugas melakukan pengawasan dan pembinaan secara intensif kepada para siswa. Adapun satu guru bertanggung jawab terhadap 10 siswa.

"Ini langkah kami untuk mendeteksi secara dini, kegiatan dan karakter para siswa. Dengan jumlah 10 siswa satu guru, diharapkan pengawasannya bisa maksimal dan secara internal lebih mendekat," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala SMK 45, Handono yang turut hadir dalam deklarasi tersebut mengatakan, saat ini pihaknya sudah menyepakati perjanjian damai dengan SMK Yudha Karya pascainsiden pelemparan batu yang mengakibatkan salah satu siswa SMK Yudha Karya menderita luka di wajah, belum lama ini.

"Sekarang sudah tidak ada permasalahan lagi, kita sudah menemukan titik terang, dan kedua siswa kami jika memang terbukti bersalah tentu tidak akan kita bela," katanya.

Pada tanggal 10 sampai 14 Desember nanti, Disdik setempat bersama dengan sekolah dan instansi terkait akan mengadakan pendidikan karakter kebangsaan, agar aksi tawuran ini bisa dihilangkan.(*)
Penulis: had
Editor: wid
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas