Success Story-Siswanto Mirota
Dari Sebuah Toko Kecil di Pinggir Jalan (Bagian I)
Pada 1950, mereka membuka toko di garasi rumah, Jalan FM Noto 7 Kotabaru, yang kini menjadi Mirota Bakery.
Penulis: Victor Mahrizal | Editor: Sigit Widya

Cerita mengenai Mirota bermula ketika Hendro Sutikno, yang berstatus sebagai karyawan perusahaan Khian Guan milik raja gula zaman baheula, Oei Thiong Ham, akan dipindahtugaskan ke Cirebon, Jawa Barat.
Karena berat berpisah, sang istri, Tini Yuniati, mencoba mengajak Hendro membuka usaha sendiri. Kebetulan, Tini punya keahlian membuat kue dan memasak.
Hendro pun setuju dengan usul istrinya itu. Maka, pada 1950, mereka membuka toko di garasi rumah, Jalan FM Noto 7 Kotabaru, yang kini menjadi Mirota Bakery.
“Di warung itu, mereka menjual minuman, roti, dan tart. Akhirnya, tiga menu tersebut disingkat menjadi Mirota dan dipakai sebagai nama toko," tutur President Director Mirota, Siswanto, putra kedua Hendro Sutikno, saat berkunjung ke Tribun Jogja, Sabtu, (7/10/2012).
Semua usaha Mirota berasal dari cikal bakal toko roti garasi tersebut. Dimulai pada 1952, kemudian didirikanlah P & D (Provition & Dranken), toko yang terletak di Jalan Ahmad Yani 75 ,Yogyakarta.
Dalam perjalanannya, Mirota cepat dikenal. Setelah menyewa tempat di Malioboro, bisnis ini semakin berkembang dan populer di Malioboro kala itu.
Saat ini, toko Mirota pindah ke Jalan C Simanjuntak 70 dengan nama Mirota Kampus
Setelah merasa modalnya cukup, mereka memberanikan diri mendirikan usaha pabrik susu dengan bendera PT Mirota KSM.
Bisnis ini menjadi perusahaan tertua, sekaligus pemilik brand Mirota yang wilayah pemasaranya di Jawa, Bali, hingga Lampung. Seiring berjalannya waktu, pasangan ini berhasil mewariskan jiwa bisnis kepada anak-anaknya.
Menurut pengakuan Siswanto, orangtuanya sengaja mendidik anak-anaknya, yakni Iswanti, Siswanto, Ninik Wijayanti, Ariyanti, serta Hamzah, untuk berwirausaha.
“Jiwa bisnis mungkin paling menonjol dari ibu. Sekolah tidak sampai tinggi tidak masalah, asalkan pandai mencari peluang. Rata-rata, kami memang sempat kuliah, tapi tidak sampai tamat,” kenangnya.
Pengembangan bisnis Mirota lebih mengandalkan kreativitas dan kegesitan setiap anak pendiri dalam menerjuni berbagai bidang usaha. Melekatlah kemudian, nama-nama Mirota Kampus, Mirota Pasaraya, Mirota Batik, dan Manna Bakery.
(Tribunjogja.com)