Rabu, 1 Juli 2015
Home » Jawa

Gus Nuril Sebut Jathilan Seperti Tarian Darwis Jalaludin Rumi

Jumat, 14 September 2012 00:21

Gus Nuril Sebut Jathilan Seperti Tarian Darwis Jalaludin Rumi
TRIBUNJOGJA/M NUR HUDA
KH Nuril Arifin Husein, MBA atau akrab di panggil Gus Nuril

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG, –  DR KH Nuril Arifin Husein, MBA (Gus Nuril) sangat menyayangkan pernyataan Gubernur Jateng H Bibit Waluyo, yang mengatakan kesenian jaran kepang adalah paling jelek di dunia.

Gus Nuril yang hadir dalam acara Pentas dan Dialog Jaran Kepang bertema Kemerosotan Budaya di Studio Mendut, Kabupaten Magelang, Kamis (13/9/2012), mengatakan, kesenian jaran kepang atau jathilan merupakan ekspresi seni orang Jawa yang setara dengan tarian Darwis ala Maulana Jalaluddin Rumi.

“Jaran Kepang itu sebenarnya seperti tarian Darwis ala Maulana Jalaluddin Rumi. Bagi orang Jawa adalah pencapaian tingkat tinggi dalam jiwanya. Jadi kuda lumping itu mengandung sisi tasawuf yang sangat tinggi,” katanya saat berbincang dengan Tribun Jogja dan sejumlah budayawan Magelang serta dosen dari ISI Surakarta.

Ketua Umum Forum Keadilan dan Hak Asasi Umat Beragama yang juga mantan Panglima Pasukan Berani Mati (PBM) di era Presiden Gus Dur tersebut mengatakan, sebagai seorang pimpinan di Jawa Tengah tidak seharusnya Bibit menjelekkan rakyatnya yang sedang bermain kesenian di hadapan publik bertaraf internasional.

“Bibit tidak layak memimpin Jateng. Karena dia tidak faham dengan perut masyarakat Jateng. Bibit harus minta maaf pada bangsanya. Kalau dia mengaku orang Jawa harus minta maaf pada diri sendiri atau pada orangtuanya,” tandas Gus Nuril.

Gus Nuril menjelaskan, pemimpin yang tidak menyadari kondisi sosial budaya masyarakatnya berarti sudah tercabut dari akarnya. Menurutnya, Indonesia titik centralnya adalah Jawa, kemudian di Jawa centralnya adalah Yogyakarta dan Semarang.

“Indonesia itu titiknya di Jawa, dan centralnya di Yogya dan Semarang. Kalau dia tinggal di Semarang yang notabenenya sebagai central Jawa, sementara pusat budaya Jawa di semarang, masa dia menjelek-jelekkan dirinya sendiri. Itu bukan menyakitkan orang seniman saja tapi juga menyakitkan orang Jawa,” tandasnya.

Halaman12
Penulis: had
Editor: iwe
KOMENTAR
berita POPULER
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas