• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 25 Oktober 2014
Tribun Jogja

Festivalist Meneriakkan Kesetaraan

Minggu, 9 September 2012 17:34 WIB
Festivalist Meneriakkan Kesetaraan
DOK
Festivalist
TRIBUNJOGJA.COM, - Di  dunia panggung, mulai pentas seni sekolahan, hingga acara-acara alternatif yang digelar secara komunal, Festivalist adalah nama yang patut diperhitungkan eksistensinya.

Keliaran, sound yang kasar, lirik yang menusuk, hingga attitude yang mereka keluarkan baik di atas panggung, maupun di baliknya, sudah menjadi tanggung jawab sejatinya sebuah kelompok musik yang menjadikan rock sebagai tunggangannya.

Sang frontman, Farid Stevy Asta tak perlu diragui bagaimana cara ia membius penontonnya ketika melantunkan lirik-lirik yang ditulisnya, dengan gaya yang puitik.

Lirik-lirik tersebut bercerita tentang rutinitas sehari-hari, kehidupan, hingga kematian manusia. Lagu-lagu seperti `Maha Oke', `Menangisi Akhir Pekan', `Monster Karaoke', `Mati Muda', hingga `Hari Terakhir Peradaban' sudah dihafal luar kepala oleh ribuan pendengarnya yang juga mereka sebut dengan Festivalist.

Festivalist merupakan kelanjutan dari sebuah band bernama Jenny yang dibentuk 2003 lalu di kampus  seni rupa ISI Yogyakarta. Kini formasi mereka adalah Roby Setiawan (gitar), Human Movid Arifin (bass), Danish Wisnu Nugraha (drum) dan Farid Stevy Asta (vokal), mereka juga dibantu Rio Faridino (Keyboard).

Di bawah nama Jenny, mereka telah menelurkan album bertitel `Manifesto' (2009) yang di produksi secara independen. Bagaimana kelanjutan cerita dari band yang kian meroket ini, beberapa waktu lalu Music Zone, Tribun Jogja (TJ) mengunjungi Farid Stevy Asta dan Roby Setiawan di Libstud, studio mereka di Selatan Kota Yogyakarta.

Berbeda dengan keliarannya di atas panggung, Farid dan Roby adalah sosok yang ramah, hangat, dan penuh candaan. Keseriusannya terhadap apa yang dikerjakannya, terlihat lewat sorot matanya saat menjelaskan beberapa project-nya, baik bersama Festivalist maupun kesibukan pribadi.

TJ: Bagaimana Kelanjutan full album Festivalist, rumornya kan mau dirilis dalam waktu dekat ini?

Farid: Kami memang belum bisa tepat waktu menyelesaikan album, selalu saja meleset. Materinya sudah 50%, tapi sudah jadi kebiasaan dimana materi lagunya datang sesuai pengalaman. Ternyata karakter prosesnya begitu, penulisan lagu mengalir begitu saja, dan ditulis mengikuti suatu kejadian.

TJ: Lalu apa saja yang saat ini Festivalist kerjakan untuk membuat semacam pertanggung jawaban terhadap pendengar kalian?

Farid:  Maka itu, sekarang kami membuat project yang terpecah-pecah jadi beberapa bagian, di antaranya `One Gig, One Video', yaitu setiap manggung, kami akan memposting satu video di blog. Lalu, kami akan merilis satu lagu secara akustik setiap bertambah 500 followers di twitter @FSTVLST, sebelumnya lagu `The Only Way' sudah diedarkan. Project selanjutnya adalah `Menulis di Blog Festivalist', ini membuka buat teman-teman yang mau menulis apapun, tidak harus tentang Festivalist, apapun tulisannya nanti dikurasi dulu, project ini dikelola teman kami  Belia Paki, yang juga membuka perpustakaan dan Kedai Buku Jenny di Makassar.

TJ: Bagaimana sih proses berkarya kalian, terutama dalam hal pembuatan lagu?

Farid: Awalnya kami mencoba menulis lagu ketika jamming di studio atau duduk bersama untuk menulis lagu, tapi kok nggak bisa ya, akhirnya ya seperti cara saat ini, kami mencipta lagu secara separatis. Roby bikin komposisi kosong yang dia kasih judul seenaknya, seperti `Mati Muda', `Monster Karaoke' dan sebagainya, lalu saya mengisi teksnya. (tribunjogja.com)
Penulis: rap
Editor: iwe
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
53175 articles 38 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas