• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 2 Oktober 2014
Tribun Jogja

Gizi Buruk di Sekitar Kita

Kamis, 2 Agustus 2012 12:42 WIB
Gizi Buruk di Sekitar Kita
dok pri
Pembina Forum Pecinta Anak Kota Magelang, Siti Rubaidah


KOMISI Nasional, Gangguan Pendengaran dan ketulian baru-baru ini telah melontarkan sebuah gambaran bahwa penduduk Indonesia hingga tahun 2030 mengalami masa keemasan demografi, dimana masa ini biasanya hanya terjadi satu kali dalam usia sebuah negara. Pada masa emas demografi ini, penduduk Indonesia akan didominasi oleh jumlah penduduk usia produktif.  Sehingga diharapkan Indonesia mampu meraih pertumbuhan ekonomi yang signifikan dengan besarnya angka usia produktifnya.

Alih-alih mendongkrak pertumbuhan ekonomi, bonus demografi bisa menjadi bumerang pada masa yang akan datang bila persoalan gizi anak balita belum terselesaikan. Yang memprihatinkan adalah kasus gizi buruk di Indonesia berada pada urutan kelima terbesar dunia. Padahal anak-anak inilah yang kelak menjadi motor penggerak ekonomi Indonesia.

Dari data yang ada 8 juta atau 35 persen dari 23 juta balita Indonesia menderita gizi buruk kategori stunting, artinya hampir separuh balita memiliki badan lebih rendah daripada standar tinggi badan balita seumurnya. Sedangkan 23 juta balita itu, 900 ribu bayi atau sekitar 4,5 persennya menderita gizi buruk.

Kondisi mengenaskan lainnya sekitar 10.000 angka kematian ibu Indonesia saat melahirkan. Di pihak lain, kurang lebih 150.000 balita Indonesia meninggal setiap tahunnya. Sedangkan kodisi kelahiran balita pun banyak mengalami problem, yakni kurang lebih 5000-10.000 kelahiran balita di Indonesia per tahun mengalami gangguan pendengaran akibat rendahnya pengetahuan ibu akan kebutuhan gizi. Kondisi ini jika dibiarkan akan berimbas kemampuan membaca dan matematika anak yang mengalami gangguan pendengaran lebih rendah 1-4 kelas dibanding anak berpendengaran normal. Imbas yang serius, tingkat kepandaian mereka mentok di kelas III-IV Sekolah Dasar.

Mengingat besarnya angka gizi buruk balita berikut dampaknya, maka pemerintah mengalokasikan dana yang tak sedikit dalam upaya menangani dan menanggulangi gizi buruk. Adapun dana yang dialokasikan untuk meredam persoalan ini adalah Rp 700 miliar, dengan asumsi setiap balita per bulannya mendapatkan insentif Rp 2.500. Angka ini tentunya kurang memadai jika dibandingkan dengan pentingnya gizi bagi balita. Sehingga berbagai upaya harus dikembangkan dalam mengatasi dan menanggulangi persoalan gizi buruk balita.

Pentingnya Peran Posyandu dan Pemberian ASI Eksklusif


Mengatasi gizi buruk yang terjadi pada anak balita merupakan pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk menanggulanginya. Akan tetapi tanpa peran serta masyarakat tentunya semua akan sia-sia belaka. Karena itu, semakin dirasakan betul keberadaan PKK lewat kegiatan Posyandunya yang merupakan kegiatan dari, oleh dan untuk masyarakat dikembangkan dalam upaya membantu pemerintah menangani masalah gizi buruk balita.

Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) adalah  wadah bentukan dari Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga ( PKK ) dan merupakan tempat berkumpul dan beraktifitasnya ibu-ibu di tingkat RT/RW. Selain melakukan penimbangan dan pemberian PMTAS, posyandu penting untuk mendukung perbaikan gizi dan kesehatan keluarga, serta mendukung pelayanan KB dan mendukung peranekaragaman pangan. Selain itu, sistem monitoring posyandu dapat menemukan kasus-kasus gizi kurang pada balita.

Sangat disayangkan setelah diberlakukannya otonomi daerah banyak pemerintah daerah yang tidak lagi tertarik melanjutkannya karena alasan alokasi dana pembinaan dan programnya yang  tidak ada atau menjadi beban dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah. Data menunjukkan bahwa sejak diberlakukannya otonomi daerah terhitung jumlah posyandu berkurang 50 % dari jumlah 230.000 sebelum diberlakukannya otonomi daerah.

Selain menggiatkan posyandu, PKK merasa perlu menggandeng pihak swasta melaksanakan program kemitraan  mengembangkan  Program Posyandu Peduli Tumbuh Aktif Tanggap (TAT). Program ini merupakan salah satu upaya revitalisasi dalam menumbuhkan dan mengembangkan kemandirian masyarakat untuk meningkatkan kualitas kesehatan balita dalam hal tumbuh, aktif, dan tanggap.  Peranan kader pada posyandu membantu memberikan informasi kesehatan tentang anak balita pada orangtuanya dan memberikan informasi seputar kehamilan pada ibu hamil.

Salah satu program yang harus digencarkan Posyandu Peduli TAT dalam upaya peningkatan gizi balita adalah program pemberian ASI eksklusif bagi bayi usia 0 tahun sampai usia 6 bulan.

ASI eksklusif adalah bayi hanya diberikan ASI, tanpa diberi tambahan cairan lain, seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, bahkan air putih sekalipun. Selain tambahan cairan, bayi juga tidak diberikan makanan padat lain, seperti: pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi, tim dan lain-lain. Pemberian ASI eksklusif dianjurkan untuk jangka waktu minimal empat bulan dan akan lebih baik lagi apabila diberikan sampai bayi berusia enam bulan (Utami Roesli, 2001).

Pemberian ASI secara eksklusif ini sangat dianjurkan karena Dalam Al Qur an pun telah menyebutkan masalah menyusui seperti dalam surat Al Baqarah [2] ayat 233:

“Hendaklah para ibu menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh yaitu bagi ingin menyempurnakan penyusuan”.

Bayi dapat mencapai pertumbuhan optimal apabila diberi ASI eksklusif sampai usia 4-6 bulan, dan setelah itu tetap diberikan sampai usia 2 tahun dengan diberi makanan pendamping ASI. Bayi yang kurang mendapatkan ASI berarti kurang berkesempatan untuk mengembangkan kecerdasannya. ASI kaya akan asam lemak omega-3 dan omega-6 yang sangat penting untuk mendukung kecerdasan seorang anak. Bayi kurang ASI juga rentan untuk menderita infeksi, dan umumnya kurang ASI berarti juga kurang belaian kasih sayang dari ibunya.

Dari segi ekonomi menyusui dengan ASI paling ekonomis karena sumber daya ASI adalah karunia Tuhan yang tidak perlu dibeli. ASI adalah amanah yang harus disampaikan kepada yang berhak yaitu anak-anak kita. Selain itu suhu ASI selalu sesuai dengan suhu tubuh sehingga tidak terlalu panas dan dingin. Penyiapan ASI tentu tidak serumit penyiapan susu botol. Aspek higienitas ASI lebih terjamin daripada susu botol. Nah, jika semua ibu Indonesia menyusui anaknya secara eksklusif  sampai bayi usia 6 bulan maka menurut hitungan departemen kesehatan, UNICEF devisa kita dihemat sampai  8,5 miliar rupiah dari pembelian susu formula.

Kesimpulan, bahwa gizi buruk dan dampaknya masih menghantui  sebagian besar balita kita. Sehingga butuh kerja keras dari pemerintah dengan melibatkan peran serta masyarakat dan seluruh stakeholder ( tak terkecuali pihak swasta) untuk bersama-sama menanganinya. Memang dibutuhkan tak sedikit material atau dana dalam meredam persoalan gizi buruk balita, akan tetapi besarnya dana yang dikeluarkan bisa diminimalkan jika masyarakat dan seluruh stakeholder bekerjasama. Dan terkhusus gizi buruk juga bisa diminimalisir dengan peran serta ibu dengan memberikan ASI secara eksklusif kepada balitanya sampai usia 6 bulan.

Akhirnya, semua upaya meredam persoalan gizi buruk balita di atas diharapkan agar Indonesia sampai tahun 2030 mampu mendongkrak ekonomi nasionalnya dan masa keemasan demografi Indonesia benar-benar terwujud. (*)


Oleh : Siti Rubaidah
Pembina Forum Pecinta Anak (Forcita) Kota Magelang

Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
49744 articles 38 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas