Sabtu, 23 Mei 2015

Gizi Buruk di Sekitar Kita

Kamis, 2 Agustus 2012 12:42

Gizi Buruk di Sekitar Kita
dok pri
Pembina Forum Pecinta Anak Kota Magelang, Siti Rubaidah

KOMISI Nasional, Gangguan Pendengaran dan ketulian baru-baru ini telah melontarkan sebuah gambaran bahwa penduduk Indonesia hingga tahun 2030 mengalami masa keemasan demografi, dimana masa ini biasanya hanya terjadi satu kali dalam usia sebuah negara. Pada masa emas demografi ini, penduduk Indonesia akan didominasi oleh jumlah penduduk usia produktif.  Sehingga diharapkan Indonesia mampu meraih pertumbuhan ekonomi yang signifikan dengan besarnya angka usia produktifnya.

Alih-alih mendongkrak pertumbuhan ekonomi, bonus demografi bisa menjadi bumerang pada masa yang akan datang bila persoalan gizi anak balita belum terselesaikan. Yang memprihatinkan adalah kasus gizi buruk di Indonesia berada pada urutan kelima terbesar dunia. Padahal anak-anak inilah yang kelak menjadi motor penggerak ekonomi Indonesia.

Dari data yang ada 8 juta atau 35 persen dari 23 juta balita Indonesia menderita gizi buruk kategori stunting, artinya hampir separuh balita memiliki badan lebih rendah daripada standar tinggi badan balita seumurnya. Sedangkan 23 juta balita itu, 900 ribu bayi atau sekitar 4,5 persennya menderita gizi buruk.

Kondisi mengenaskan lainnya sekitar 10.000 angka kematian ibu Indonesia saat melahirkan. Di pihak lain, kurang lebih 150.000 balita Indonesia meninggal setiap tahunnya. Sedangkan kodisi kelahiran balita pun banyak mengalami problem, yakni kurang lebih 5000-10.000 kelahiran balita di Indonesia per tahun mengalami gangguan pendengaran akibat rendahnya pengetahuan ibu akan kebutuhan gizi. Kondisi ini jika dibiarkan akan berimbas kemampuan membaca dan matematika anak yang mengalami gangguan pendengaran lebih rendah 1-4 kelas dibanding anak berpendengaran normal. Imbas yang serius, tingkat kepandaian mereka mentok di kelas III-IV Sekolah Dasar.

Mengingat besarnya angka gizi buruk balita berikut dampaknya, maka pemerintah mengalokasikan dana yang tak sedikit dalam upaya menangani dan menanggulangi gizi buruk. Adapun dana yang dialokasikan untuk meredam persoalan ini adalah Rp 700 miliar, dengan asumsi setiap balita per bulannya mendapatkan insentif Rp 2.500. Angka ini tentunya kurang memadai jika dibandingkan dengan pentingnya gizi bagi balita. Sehingga berbagai upaya harus dikembangkan dalam mengatasi dan menanggulangi persoalan gizi buruk balita.

Pentingnya Peran Posyandu dan Pemberian ASI Eksklusif

Mengatasi gizi buruk yang terjadi pada anak balita merupakan pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk menanggulanginya. Akan tetapi tanpa peran serta masyarakat tentunya semua akan sia-sia belaka. Karena itu, semakin dirasakan betul keberadaan PKK lewat kegiatan Posyandunya yang merupakan kegiatan dari, oleh dan untuk masyarakat dikembangkan dalam upaya membantu pemerintah menangani masalah gizi buruk balita.

Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) adalah  wadah bentukan dari Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga ( PKK ) dan merupakan tempat berkumpul dan beraktifitasnya ibu-ibu di tingkat RT/RW. Selain melakukan penimbangan dan pemberian PMTAS, posyandu penting untuk mendukung perbaikan gizi dan kesehatan keluarga, serta mendukung pelayanan KB dan mendukung peranekaragaman pangan. Selain itu, sistem monitoring posyandu dapat menemukan kasus-kasus gizi kurang pada balita.

Halaman123
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas