Selasa, 23 Desember 2014
Tribun Jogja
Home » Ekbis » Market

Rumah Masa Depan Itu Bernama Apartemen

Selasa, 31 Juli 2012 08:40 WIB

Rumah Masa Depan Itu Bernama Apartemen
Foto : Internet
Ilustrasi
Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti dan Victor Mahrizal

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA
- Bisnis properti di Yogyakarta sudah memulai babak baru. Kebutuhan perumahan (backlog) yang sudah mencapai 100.000 unit dan tingginya harga tanah, membuat pengembang memikirkan hunian baru yang layak. Bangunan bertingkat digadang mampu mengatasi masalah itu.

Gagasan itu mencuat saat digelar Tribun On Focus, bertajuk 'Arah Pembangunan Ekonomi Yogya: Tantangan Bisnis Properti', di Hotel Santika Premier Yogya, Senin (30/7/2012). Di antara sejumlah developer yang hadir di acara hasil kerja sama Tribun Jogja dan Hotel Santika itu, adalah Ketua Real Estat Indonesia (REI) Yogyakarta, Remigius Edi Waluyo. Pada forum itu, ia mengakui, pelaku industri properti kini dihadapkan makin sempitnya lahan untuk perumahan, terutama wilayah perkotaan. Hal ini berpengaruh terutama pada harga jual landed housing yang makin tinggi.

"Memang landed hausing ini masih paling diminati, tetapi tidak bisa terus dipertahankan mengingat kendala tersebut," kata Remi, saat disuksi jelas buka puasa ini.
Menurutnya, pengembang sudah harus membuat terobosan baru, antara lain membangun kawasan kluster pemukiman atau mengembangkan properti bertingkat untuk mengatasi keterbatasan lahan.

"Yogya sudah mulai mengarah ke pembangunan gedung bertingkat seperti apartemen dan Rusun. Sejumlah pengembang sudah memulainya," imbuhnya.
Terobosan itu, lanjut Remi, utamanya untuk memenuhi kebutuhan perumahan yang mencapai 100.000 unit. "Dari jumlah itu, sebanyak 80 persen dipenuhi secara swadaya, sedangkan 30 persen sisanya digarap developer," tambahnya.

Meski hanya 20 persen atau sekitar 20 ribu unit, tapi bukan jumlah yang kecil. Peluang itu akan mengundang minat pengembang lintas daerah yang mulai melirik pasar Yogyakarta. Bahkan, pengembang luar Yogya, kini sudah mulai masuk ke rumah vertikal.

Satu di antara pengembang hunian vertikal, adlah Mataram City. Menurut direkturnya, Bogat Agus Riyono, apartemen merupakan penawaran baru di bidang properti untuk masyarakat Yogyakarta. Meski kultur di kota ini belum mengarah ke hunian vertikal, namun tak akan butuh waktu lama untuk mengenalkan konsep ini pada masyarakat.
"Kami mendapatkan pembeli apartemen pun melalui pendekatan khusus, bagaimana prospeknya ke depan dan kenapa harus memilih apartemen. Jajur kami sendiri hadir semata mata karena ingin memberi alternatif baru,"  ujarnya.

Ia memaparkan Yogyakarta memang sudah mengalami pergeseran. Meski biaya hidup masih terbilang rendah, namun akan selalu mengalami kenaikan. Sebagai contoh, biaya sewa kamar kos di sejumlah kawasan sudah mencapai Rp 1,5 juta per bulan. Bahkan ada yang mencapai Rp 3 juta per bulan.
"Melihat kondisi ini, bukanlah lebih baik memiliki bangunan permanen meski bukan landed housing. Dari sisi kenyamanan juga lebih baik, apalagi dengan nilai prestisius tertentu seperti view khusus di apartemen tertinggi," kata Bogat menjelaskan.

Mengenai kebijakan down payment 30 persen, Ketua REI DIY tidak terlalu merisaukannya. Sebab, kebijakan itu baru menyentuk perumahan tipe 70, yang pasarnya di segmen atas. Sedangkan permintaan perumahan terbesar di Yogyakarta adalah kalangan menengah dengan kisaran harga Rp 150- Rp 300 juta.
"Permasalah klasik yang sering ditemuai para pengembang justru datang dari pemerintah daerah (Pemda)," akunya.

Ia juga mengingatkan kepada konsumen untuk lebih cerdas dalam memilih rumah. Aspek legalitas menjadi hal utama yang harus diperhatikan. Konsumen pun berhak menanyakan tentang pengurusan IPT side plan dan IMB perumahan.
"Minimal kalau sideplan sudah oke, pasti keluar IMB-nya. Perbankan semestinya juga memperhatikan hal ini," ujarnya.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi DIY mencatat pertumbuhan pada kredit properti di bank umum. "Pada semester pertama 2012 ini, pertumbuhan kredit properti di bank umum mencapai 15,95 persen," ujar Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi DIY, Mahdi Mahmudy pada kesempatan yang sama.

Pertumbuhan kredit properti ini sejalan dengan pertumbuhan total kredit perbankan bank umum yang mencapai 9,49 persen pada semester awal ini. Kredit  Pemilikan Rumah (KPR) juga dilaporkan tumbuh 17,67 persen. "Kredit untuk KPR ini tercatat sebesar Rp 2,609 triliun," katanya.
Dari keseluruhan total kredit ini, kredit properti mempunyai share sebesar 17,03 persen.
BI melansir, kredit yang dikucurkan untuk pengembang mencapai Rp 334 miliar. Jika ditambah dengan penyaluran kredit untuk KPR, maka total kredit ini mencapai Rp 2,944 triliun. (gya/vim)
Penulis: vim
Editor: tea

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas