Jumat, 19 Desember 2014
Tribun Jogja

Pesona Empat Tiang Masjid Agung Demak

Minggu, 29 Juli 2012 13:52 WIB

Pesona Empat Tiang Masjid Agung Demak
internet
EMpat tiang saka Masjid Agung Demak yang terbuat dari tatal dibuat oleh Sunan Kalijaga
Saksi bisu penyebaran agama islam di tanah air yang berumur lebih dari 500 tahun masih berdiri kokoh di seputar alun-alun Kabupaten Demak. Masjid Agung Demak begitu bangunan itu disebut masih menjadi daya tarik sendiri para pecinta sejarah untuk berkunjung. Mereka penasaran dengan masjid tempat berkumpulnya para wali songo itu.

BERBEDA
dengan bangunan masjid saat ini yang berkiblat ke negeri timur tengah, arsitektur Masjid Agung Demak sangat 'jawa'. Atap berbentuk limas dari masjid yang terletak di desa Kauman, Kabupaten Demak, Jawa Tengah menjadi penegasnya. Bentuk yang hampir tidak berubah sejak didirikan pada raja Kesultanan Demak pertama, Raden Patah sekitar abad 15 masehi membuat penasaran pengunjung. Khususnya empat tiang kayu yang menjadi penyangga masjid.

Di dalam masjid ada empat tiang besar setinggi 17 meter dengan masing-masing dituliskan nama wali. Ada yang bertuliskan sunan ampel, Sunan Kalijaga, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Pengunjung yang penasaran tidak jarang beberapa kali menyentuh tiang yang konon katanya dibawa langsung oleh para sunan.

"Saya jauh-jauh dari Depok (Jawa Barat) memang untuk melihat masjid peninggalan para wali,"kata Dedi Rahmat Sandi (32) yang beberapa kali tampak kagum dan menyentuh tiang Sunan Kalijaga, Sabtu (28/7/2012).

Dedi datang dengan mengenakan pakaian muslim lengkap dengan tasbih di tangannya. Bersila di depan tiang Sunan Kalijaga, sambil memainkan bola-bola tasbihnya ia mengamati arsitektur bangunan. Ia pun langsung berkomentar bahwa bentuk arsitektur ini adalah wujud dari islam Indonesia sebagai agama, bukan ras ataupun bangsa.

Setelah datang ia mengaku takjub. Nilai historis yang selama ini ia dengar ternyata benar. Kisah yang ia dengar tentang kemegahan bangunan masjid para wali dan tempat berkumpulnya ulama atau wali tersebut itu membuatnya betah bersantai. Ia merasa napak tilas yang dilakukannya tidaklah sia-sia.

"saya memang sedang napak tilas sejarah islam untuk mengecharge kembali keislaman saya. setelah dari sini saya akan ke Wonosari, Gunung Kidul," jelasnya.

Masjid Agung Demak dipercaya menjadi tempat berkumpulnya sembilan wali tanah jawa. Masjid Agung Demak merupakan bangunan yang juga menegaskan adanya Kesultanan Demak sekitar abad ke-15 Masehi yang dipimpin oleh Raden Patah kala itu.

Arsitektur masjid ini terdiri atas bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru yang kono berasal dari serpihan-serpihan kayu dan disebut juga saka tatal. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap limas Masjid terdiri dari tiga bagian yang menggambarkan ; (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan.

Selain itu, ada juga “Pintu Bledeg”, bertuliskan Condro Sengkolo, yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H. Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di sana juga terdapat sebuah Museum Masjid Agung Demak, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat berdirinya Masjid Agung Demak.

Wakil Sekretaris Takmir Masjdi Agung Demak Mahrurrahman mengatakan nilai historis akan membuat pengunjung khusyuk menjalankan ibadah di masjid yang berumur ratusan tahun itu. Ia berpendapat, seperti halnya jika berangkat haji, seseorang akan merasa bangga jika sudah sampai tanah suc, tempat nabi Muhammad mensyiarkan agama islam untuk pertama kalinya.

"Di sinilah dulu Wali Songo berkumpul, para pengunjung jika ingin menghayati harus menarik pengetahuan ke masa lalu," katanya. (Bakti Buwono Budiastyo)
Penulis: bbb

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas