A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Jimat Tak Menyangka Bosnya Penipu Ulung - Tribun Jogja
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 3 September 2014
Tribun Jogja
Home » Yogya » Bantul

Jimat Tak Menyangka Bosnya Penipu Ulung

Sabtu, 14 Juli 2012 13:35 WIB
Jimat Tak Menyangka Bosnya Penipu Ulung
Facebook
Nanang Aris Munandar (25) terlapor kasus penipuan investasi bodong CV Bina Mitra Barokah ditetapkan menjadi buron Polda DIY
Laporan Reporter Tribun Jogja, Yudha Kristiawan

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL –
Berawal dari berjualan angkringan di samping kios yang disewa oleh Nanang Arismunandar (26), DPO Polda DIY dengan kasus penipuan investasi saham (forex. Red) bernilai milyaran rupiah inilah, Jimat (58) warga Gabusan Rt 07 Timbulharjo Sewon Bantul dipercaya oleh Nanang menjadi driver sekaligus penjaga kios yang dijadikan kantor  CV Bina Mitra Barokah milik Nanang di Jalan Parangtritis Gabusan Km 9,5.

"Awalnya saya hanya  berjualan angkringan disini, dari tahun  2003. Kira-kira delapan bulan lalu saya diminta menjadi driver mas Nanang," ujar Jimat, saat di temui Tribun dilapaknya, Jumat (13/7/2012). Ia tak menyangka sekarang Nanang menjadi buronan polisi dan ratusan korban penipuan investasi saham yang dikelola oleh majikannya tersebut.

Diceritakannya, sosok Nanang ini sama sekali tak terlihat sebagai seorang penipu ulung. Dalam kesehariannya Nanang dikenalnya berperilaku sopan bahkan terkadang berbahasa jawa halus. "Saya juga sering kerumahnya yang berada di Jogroho, Sabdodadi, Bantul. Kedua orang tuanya juga tak menyangka Mas Nanang akan seperti ini. Keluarganya ya orang yang cukup," ujar Jimat.

Dulu sebelum kasus ini muncul, Jimat sering mendapat tugas antar jemput klien Nanang yang kebanyakan datang  dari luar kota Jogja. "Tugas saya dulu hanya sebatas mengantar jemput tamu Mas Nanang. Selebihnya saya tidak tahu menahu," ujarnya.

Diakuinya, klien Nanang utamanya banyak berasal dari luar Jogja seperti, Kebumen, Semarang, Jakarta, bahkan hingga keluar jawa seperti Riau dan Kalimantan. "Tamunya datang dari jauh-jauh, luar Jogja, bahkan ada yang luar Jawa,"

Setelah kasus ini meledak, tak jarang ia harus lebih sering menceritakan terakhir pertemuannya dengan Nanang, pada ratusan klien yang menjadi korban majikannya tersebut.

"Terakhir saya ketemu dia (Nanang. Red) bulan Maret lalu kalau ngga salah ketika itu ada mediasi antara kantor dan pihak investor di kawasan pasar seni gabusan (PSG)," ujarnya.

Ia mengaku, selama bekerja untuk Nanang perbulan hanya menerima gaji sebesar Rp 300 ribu saja. "Gajinya perbulan saya cuman Rp 300 ribu, ya kalau tamunya ngerti pas saya antar jemput biasanya ngasih sendiri," ungkapnya.

Terkait kantor Nanang, ia hanya tahu bahwa kantor tersebut di sewa dari orang bernama Didik. Nampak
dari kejauhan papan nama CV Bina Mitra Barokah berwarna hijau masih jelas terbaca. Tak ada aktivitas yang terlihat sama sekali, pintunya terkunci rapat. Police line juga tidak nampak mengitari kantor  tersebut.

Ia menambahkan, terkait kasus yang menimpa mantan majikannya tersebut, memang belum pernah dimintai keterangan secara resmi oleh pihak berwenang, ia siap bila suatu saat harus bersaksi. "Saya malah kasihan, dan hanya pesan supaya Mas Nanang tak menipu lagi dan segera menyerahkan diri,"pungkasnya. (*)
Penulis: yud
Editor: tea
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
47789 articles 38 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas