Citizen Reporter

Suara Nafas Asia Tenggara

NAFA’S Residensi berdiri pada Januari 2012; lahir dengan sebuah niat besar untuk menemukan suara Asia Tenggara di bidang seni rupa.

Suara Nafas Asia Tenggara
foto : Internet
Ilustrasi
Oleh. Anis Azlinda Abdul Ghani
Di Yogyakarta

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - NAFA’S Residensi berdiri pada Januari 2012; lahir dengan sebuah niat besar untuk menemukan suara Asia Tenggara di bidang seni rupa. Ada beragam kekayaan dalam budaya Asia Tenggara, dan tidak mengherankan jika setiap lapisan pada budaya tersebut dapat memberikan kesan kekaguman dan kepuasan sekaligus.

Terletak di Yogyakarta–pusat regional seni rupa klasik dan budaya–NAFA’S Residensi berada dalam lingkungan yang memberi para seniman residensi kesempatan untuk menyelami dan menyerap sepenuhnya keaktifan kehidupan seni Yogyakarta, dan kemudian menerjemahkannya ke dalam ekspresi-ekspresi visual yang personal.

Residensi ini terbuka bagi para seniman dari seluruh Asia Tenggara. Dan, seperti yang diharapkan dari jiwa-jiwa yang berkelana, mereka akan lebih liar, rentan dan gelisah dalam melakukan pendekatan ketika mereka berada di luar zona nyaman. Sementara mereka berjuang untuk melebarkan batas-batas pribadi. Dukungan dan infrastruktur di NAFA’S bermaksud menyediakan lingkungan yang kondusif untuk menggali lebih dalam dan mengeluarkan potensi yang ada. Residensi ini dapat diartikan sebagai sebuah tempat peristirahatan pribadi namun tanpa kompromi dalam berkarya.

Sejak Januari, NAFA’S telah menerima 4 seniman Malaysia dan 2 seniman Indonesia pendatang baru, yang telah melewati berbagai periode residensi–masing-masing antara satu, tiga, dan enam bulan. Meskipun kehadiran mereka bersamaan, mereka berkarya secara independen.
Yang menarik, semua karya yang ditampilkan pada Pameran Cycle One ini berpusat pada tema refleksi pribadi.

Pada karya-karya Shahrul Hisham Ahmad Tarmizi, si seniman menggambarkan dirinya sebagai petualang dalam pencariannya yang tiada henti akan pengetahuan baru. Namun ia tidak dapat mengingkari asal-usul dan identitasnya sehingga, dimanapun berada, ia akan tetap seorang Melayu dan Muslim.

Hirzaq Harris menunjukkan sisi lain umat Muslim yang lazim ia temukan pada zaman ini: muak akan haramnya babi, tetapi dengan senang hati memilih untuk mengabaikan aspek-aspek haram lainnya dalam hidup. Pengabaian merupakan hal yang tidak dapat diterima dalam kehidupan umat Islam. Sebaliknya, hidup dalam pencarian akan kebenaran harus diberlakukan: seseorang yang berjuang untuk melakukan yang halal dan meninggalkan yang haram tanpa kecuali. Niat paling mulia pun bisa melapangkan jalan menuju neraka.

Anisa Abdullah memilih untuk membawa para penontonnya menyusuri petualangan-petualangan hidupnya. Ia melukis potret-potret tentang perkotaan (urban) dari sudut pandangnya. Namun pencariannya adalah sesuatu yang saling berhubungan; mimpi, ambisi, dan keputusan. Bagaimanapun juga, ia mengingatkan kita untuk tidak terlalu tergesa-gesa dan tegang.  Dan sekaligus untuk ‘beristirahat sejenak’ sembari menikmati lingkungan sekitar kita.

Masih pada tema yang sama, instalasi Anissa Abdul Aziz yang saat ini berada di Galeri Chandan @Publika, Kuala Lumpur, berasal dari ide menelusuri perjalanan artistiknya
Anissa menciptakan dan merekayasa pakaian bayi berlapis-lapis sebagai metafora untuk mewakili dirinya yang masih baru, segar, dan belum dewasa dalam industri ini. Karyanya adalah imajinasi dengan kain bersumpal yang digantung secara acak. Bagi Anissa, ruang-ruang kosong di antara bagian-bagian tersebut adalah penghubungnya, karena jika dilihat secara keseluruhan, ini merupakan perpaduan antara logika dan intuisi. Instalasinya untuk pameran ini merupakan lanjutan dari karya yang saat ini sedang dipamerkan di Kuala Lumpur.

Mulyo Gunarso merefleksikan dampak negatif dari pesatnya industrialisasi dan kurangnya kontrol pada penebangan liar dan industri kehutanan. Dampaknya tidak hanya mempengaruhi manusia tapi juga flora dan fauna di sekitar kita. Apabila kita melanjutkan langkah ini dengan niat untuk pelestarian, keseimbangan dan regenerasi, tentu generasi yang akan datang tidak akan mempunyai kesan yang sama tentang dunia seperti yang kita miliki saat ini.

Lukisan-lukisan Imam Santoso adalah cerminan yang konsisten tentang dirinya sendiri; ia berkomunikasi melalui karya-karyanya. Ia memasukkan simbol-simbol dari kehidupan sehari-harinya dan menampilkan mereka dalam lukisan-lukisannya. Ia adalah simbol kontradiksi, dan ia ekspresif tentang hal tersebut. Ia melukis Sekaten (pasar malam) tapi tanpa keramaian dan kebisingan. Ia juga melukis Kraton Yogyakarta dan bertanya-tanya, apakah kaum remaja saat ini akan tertarik untuk melestarikan kebudayaan Yogyakarta yang ikonik ini, atau akan ditelan oleh urbanisasi dan kebudayaan pop. Karya-karyanya hidup namun adaptif, nyata namun imaginatif.

Menjelang akhir masa residensi, semua seniman diminta untuk berbagi pengalamannya. Hal ini biasanya dilakukan di depan rekan-rekannya, akademisi dan masyarakat pemerhati seni. Selain bercerita mengenai perjalanan mereka di NAFA’S, para seniman juga berbagi cerita dan inspirasinya di balik karya-karya mereka. Nantinya, wacana seperti ini seharusnya muncul secara lebih spontan tidak hanya di dalam dan dari NAFA’S tapi juga di antara pelaku-pelaku industri ini.

Menariknya, masa residensi terakhir untuk periode 1 di NAFA’S membuahkan hasil yang mengejutkan. Para seniman tidak hanya berkarya secara individu, tetapi juga berkolaborasi dan menghasilkan karya bersama. Kolaborasi tersebut, sejauh ini, menghasilkan 2 lukisan yang unik, dan ini merupakan sesuatu yang membanggakan. Spontanitas semacam ini mungkin mewujud secara fisik sebagai karya seni visual, tetapi yang lebih signifikan adalah para seniman telah menunjukkan sikap saling menghormati karakter masing-masing individu, dan merangkul perbedaan untuk bersatu. Upaya dan hasil luar biasa ini menunjukkan keragaman yang menyatu, dan inilah yang NAFA’S perjuangkan.

Hasil residensi ini diharapkan lebih dari sekedar menghasilkan seniman-seniman yang berkembang lebih baik, tetapi juga meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap seni rupa. Pemahaman yang lebih baik tentang perbedaan dan persamaan kami pasti akan meningkatkan toleransi, empati dan minat satu sama lain, yang pada akhirnya akan berdampak secara positif terhadap kita semua. Semoga upaya NAFA’S dapat mendorong yang lain untuk melakukan hal yang sama sehingga membuka lebih banyak pintu -kolaborasi potensial di masa depan bagi kelangsungan evolusi industri seni rupa. (*)

Penulis: tea
Editor: tea
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help