• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 24 Oktober 2014
Tribun Jogja

Komunitas Surfing Memecah Ombak Pantai Parangtritis

Sabtu, 7 Juli 2012 08:08 WIB
Komunitas Surfing Memecah Ombak Pantai Parangtritis
foto : Dok Pri
Selancar di Parangtritis
Laporan Reporter Tribun Jogja, Yudha Kristiawan

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL 
- Siapa yang tak kenal pantai Parangtritis Jogja, dari mitos seputar Nyi Roro Kidul hingga keganasan ombak besarnya. Hampir setiap tahun ombak besar pantai ini memakan puluhan korban jiwa karena terseret kedalam palung lautnya.

Ombak besar pantai ini tak pernah lepas dari cerita mistis seputar penunggu laut selatan. Namun sekelompok anak muda setempat pelan-pelan mulai menggeser paradigma tersebut. Mereka sejenak menyingkirkan kesakralan pantai selatan dan berusaha bersahabat dengan ombaknya.

Pagi itu kira-kira pukul 08.00 WIB, Pariyanta alias Pesek (27) bersama belasan anak pantai lain diantaranya Danang,Viki, Bima, Fajar, Kuntiling, serta Dadang mengenakan celana pendek khusus surfing bertelanjang dada, menenteng papan surfing siap menaklukkan ombak, setelah sebelumnya melakukan warming up dengan berlari kecil dan sit up.

Bagi mereka, ombak besar 4-5 meter pagi itu bukanlah hal yang berbahaya, melainkan sebuah rejeki karena hasrat menaiki papan surfing di atas ombak tersebut sudah terpendam beberapa waktu lalu karena ombak masih kecil.

Benar saja, sejurus kemudian beberapa di antara mereka berhasil berselancar di atas ombak yang sedari tadi bergulung-gulung ke arah bibir pantai. Terlihat Pesek begitu piawai menyusuri tiap kelok arah ombak dengan papan selancar warna putihnya.

Maklum sejak tahun 2005 lalu, Peseklah yang mengawali olahraga air ini di pantai Parangtritis. Di sela
tugas utamanya sebagai salah satu Tim SAR, ia mulai berlatih.

"Awalnya saya hanya sendiri berlatih dengan papan selancar seadanya tahun 2005. Hingga lama-kelamaan mulai tahun 2008 banyak yang berminat hingga sekarang ini. Sekarang pengen menekuni secara profesional," tuturnya pada Tribun usai berlatih, Jumat (6/7) pagi.

Tergabung dalam wadah komunitas penakluk ombak, Dolpin Parangtritis Surf Comunity (DPSC), ia pelan-pelan mulai mengenalkan salah satu olahraga ekstrim ini pada pemuda setempat. Hingga saat ini Pesek sudah berhasil menularkan hobinya ini ke 40 pemuda lainnya.

Salah satu teman Pesek awal bermain surfing adalah Danang Asyudi (19) yang juga anggota Tim SAR pantai ini.

"Awalnya dulu saya yang pertama membujuk Pesek membeli papan surfing, hingga akhirnya beberapa teman setelah gabung jadi ikut beli sendiri meskipun seken," ujar Danang yang termasuk salah satu perintis DPSC pada Tribun, Jumat (6/7/2012) pagi.

Lanjutnya, rata-rata papan surfing yang dibeli anggota DPSC adalah seken, mengingat harganya yang mahal. "Saya dulu pertama kali beli seken dari Pacitan, cuman Rp 800 ribu tanpa tali pengaman dan fin atau sirip. Kalu dilengkapi jadi habis Rp 1,3 Juta an," ujar Danang.

Anggota DPSC kebanyakan membeli papan selancar dari Bali, Pangandaran dan Pacitan, harganya bervariasi dari yang seken Rp 1,5 Jutaan hingga papan baru seharga Rp 4 Juta.

Jenis papan selancarnya pun bermacam-macam, ada yang shortboard untuk ombak kecil dan menengah ukuran 5 kaki, funboard untuk ombak kecil dan menengah ukuran 6-7 kaki.

Nampak, dari sekian anggota DPSC yang pagi itu sedang menenteng papan selancar, ada anggota termuda bernama Fajar Ramadhan Dwi Aringsa (10) yang masih duduk dibangku SD kelas 4. Ia bertubuh kurus bertinggi sekitar 1,5 meter. "Saya belajar satu tahun lalu. Karena mahal, papannya masih pinjam punya mas Pesek. Rasanya medeni (takut) pertama mas, tapi sekarang karena terbiasa jadi asik," kata Fajar sembari mengusap tubuhnya yang berlumur pasir.

Sementara Pesek menambahkan, terkait bahaya ombak pantai ini, ia memang menyarankan harus berhati-hati. "Saya awal berselnacar juga agak takut meskipun sudah paham karakternya. Untuk bisa berselancar di sini, harus memahami benar karakter pantai, dimana palungnya, karangnya dan cara menghindari gulungan ombak. Justru yang ombaknya terlihat tenang itu ada palungnya," tuturnya.

Rencana kedepan dengan komunitas surfing yang sudah dibangunnya ini, Pesek akan mengadakan lomba surfing khusus Jogja untuk pertamakalinya. "Mungkin dan ini masih wacana, pada bulan Oktober nanti kita akan mengadakan lomba surfing khusus area Jogja yang pertamakalinya. Semoga saat itu ombaknya besar dan bersahabat, " harap Pesek.

Hal yang selalu ditekankan oleh Pesek pada pemula dan kawan-kawan lainnya ketika ingin menjadi surfer profesional adalah jangan pernah menganggap diri menaklukkan ombak. "Kita berselancar di atas ombak bukan untuk menaklukkannya, namun untuk berselaras dengan alam," pungkasnya.(*)
Penulis: yud
Editor: tea
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
46964 articles 38 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas