Minggu, 21 Desember 2014
Tribun Jogja

Tejowulan Minta Maaf Atas Kisruh Dualisme Kepemimpinan di Keraton Solo

Selasa, 5 Juni 2012 09:18 WIB

Tejowulan Minta Maaf Atas Kisruh Dualisme Kepemimpinan di Keraton Solo
Foto Tribunnews/ DANY PERDANA
Caption : Raja Keraton Kasunanan Surakarta, Paku Buwono (tengah berblangkon) digandeng GRAy Koes Moertiyah (kanan) menjelang acara ikrar rekonsiliasi di gedung DPR RI Jakarta, Senin (4/6/2012).

TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA
- Setelah insiden keluarga berhenti, acara ikrar rekonsiksiliasi pun berlangsung tanpa interupsi. Penandatanganan MoU Hangabehi dan Tedjowulan dilaksanakan secara lancar dan mengundang tepuk tangan sejumlah pihak, termasuk empat menteri di Kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Mereka yang menyaksikan MoU itu, antara lain Wali Kota Solo, Joko Widodo, Gubenur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, Mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung dan Ketua DPR Marzuki Alie, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Marie Elka Pangestu, dan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto.

"Kesepakatan ini merupakan titik awal untuk pelestarian Keraton Surakarta Hadiningrat kedepan," kata Tejowulan disambut tepuk tangan.

Tejowulan juga meminta maaf kepada semua pihak atas kisruh dualisme kepemimpinan di Keraton yang berlangsung cukup lama. Ke depan, lanjutnya, rekonsiliasi ini akan dilanjutkan pembentukan Paranparanata atau penasihat untuk memberikan masukan pelestarian budaya, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan pariwisata di Keraton.
Selain itu, mereka akan berusaha untuk mempersatukan keluarga yang saat ini masih belum bisa menerima perdamaian, serta mempersatukan sentana dan abdidalem Keraton.

Pada 1 Juni lalu, 29 dari 35 putra dan putri (Alm) Paku Buwono (PB) XII mendukung dwi tunggal kepemimpinan Keraton Surakarta. "Kami sebagai putra-putri alamrhum Paku Buwono XII ingin menyampaikan pernyataan dan dukungan penuh kepada pemerintah atas semua pihak yang telah membantu menyatukan dua raja di Keraton Surakarta Hadiningrat," kata GPH Suryo Wicaksono, putra PB XII.

Putra PB XII lainnya, GPH Dipokusumo, menyatakan, rekonsiliasi itu menunjukkan hanya segelintir orang yang sesungguhnya tidak menghendaki perdamaian dalam keluarga besar Mataram itu.

"Kami mendukung sepenuhnya kesepakatan antara PB XIII dan KGPH Panembahan Agung Tedjowulan menjadi dwi tunggal untuk memperkuat kepemimpinan dan eksistensi keraton Surakarta," ujarnya. (*)
Editor: tea
Sumber: Tribunnews

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas