• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Senin, 20 Oktober 2014
Tribun Jogja

Maryono Kewalahan Menyapu di Kawasan Malioboro

Selasa, 5 Juni 2012 09:54 WIB
Maryono Kewalahan Menyapu di Kawasan Malioboro
foto : Yoseph Harry W / Tribun Jogja
Para penyapu jalanan di lingkungan Kota Yogyakarta ikut menyumbang sehingga Yogyakarta meraih penghargaan Adipura
Laporan Reporter Tribun Jogja, Yoseph Harry

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA 
- Maryono , Petugas kebersihan di Kawasan Malioboro ini mengaku amat kewalahan ketika menyapu jalanan Malioboro. Sebab, ketika satu putaran selesai menyapu, kawasan itu kembali terlihat kotor. Setidaknya, selama delapan jam sehari, mulai pukul 11.00  18.00, dia dan Yanar berjibaku membersihkan Malioboro dari sampah terserak. Dalam jatah shiftnya itu dia minimal harus dua kali menyapu dan mengangkut sampah untuk dibuang di penampungan sementara di Pringgokusuman.

Jatah tiga shift lain, yaitu pukul 03.00 11.00 dan 18.00 01.00, diisi penyapu lain, masing masing shift dua kali menyapu. Berarti dalam 24 jam kawasan itu disapu enam kali. "Toh kawasan ini tak lekas kelihatan bersih. Sudah beruntung kalau dapat Adipura," kata Maryono, kemudian  tersenyum.

Maryono maupun Yanar mengaku bukan bermaksud merasa telah berperan. Namun, pekerjaan yang bermula karena suatu keadaan itu memang akhirnya menjadi pilihan. Terbukti, sejak 2003 hingga sekarang, keduanya betah dan melakukannya dengan senang hati. "Meski sebenarnya honor kami biasa numpang lewat," ujar Maryono, Ayah satu anak itu.

Menjadi penyapu jalanan, terlebih di kawasan Malioboro, menurutnya, membutuhkan tenaga dan kesabaran ekstra. Di hari hari biasa, sampah berupa bekas kemasan makanan, atau plastik serta kertas selalu tampak menumpuk tiada habis. Apalagi, ketika musim liburan, volumenya bisa meningkat tiga kali lipat. Pembuangan sementara di Pringgokusuman pun tak jarang penuh. Untuk dapat membuangnya, dia dan para penyapu lainnya seringkali pindah ke sudut area parkir Abu Bakar Ali, di mana armada sampah ngetem.

"Kalau tidak, kami harus menunggu giliran buang sampah selama satu jam lebih, sampai truknya kembali datang setelah bongkar muatan di Piyungan," imbuh Yanar.

Dua penyapu jalan yang dinaungi sebuah perusahaan outsourcing itu mengaku tetap menikmatinya walau panas atau hujan menyelimuti. Jas hujan pun selalu disiapkan, kecuali jika panas mereka justru menyingsingkan lengan baju. Menjadi berkulit hitam bukan lagi masalah bagi mereka, demikian pula untuk mengambil sampah basah pun tak pernah merasa enggan. "Malah pernah ada yang dapat uang Rp 100 ribu di antara sampah," kata Maryono, yang mengaku baru saja menuntaskan tanggungan kredit sepeda motornya.

Temuan seperti itu bagi Maryono dan kawan-kawan bisa menjadi penghiburan ketika berjibaku dengan kompleksitas masalah sampah. Dia pun mengakui, sebenarnya pekerjaannya itu serba makan hati. Terlebih, ketika dia menyapu, pada saat yang sama pengunjung membuang sampah sembarangan. "Perilaku seperti itu banyak, tapi akhirnya biasa saja. Memang butuh kesadaran," ujarnya. (*)
Penulis: ose
Editor: tea
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
43569 articles 38 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas