Konflik Keraton Solo

Gusti Moeng Sebut Raja Tak Bisa Baca

Proses rekonsiliasi dua raja kembar Keraton Kasunanan Surakarta terus berlanjut. Setelah menandatangani surat perdamaian

Gusti Moeng Sebut Raja Tak Bisa Baca
Foto Tribunnews/ DANY PERDANA
Caption : Raja Keraton Kasunanan Surakarta, Paku Buwono (tengah berblangkon) digandeng GRAy Koes Moertiyah (kanan) menjelang acara ikrar rekonsiliasi di gedung DPR RI Jakarta, Senin (4/6/2012).

TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA
- Proses rekonsiliasi dua raja kembar Keraton Kasunanan Surakarta terus berlanjut. Setelah menandatangani surat perdamaian di depan sejumlah pejabat daerah, giliran Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi dan Maha Patih Tedjowulan, berikrar di depan ketua DPR RI, Marzuki Alie, Senin (4/6/2012).

Namun, proses ikrar itu sempat diwarnai keributan, ketika Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari, yang sebelumnya dikenal sebagai Gusti Raden Ayu (GRAy) Koes Moertiyah hendak ikut masuk ke ruang Pustakalokas Nusantara V Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta.

Sekitar pukul 10.00, ketika acara hendak dimulai, Raja Kasunanan Surakarta, Paku Buwono XIII Hangabehi terlihat keluar dari ruang tunggu VIP, menuju gedung Nusantara IV DPR RI. Saat itulah, dua perempuan kerabat Hangabehi, GRAy Koes Moertiyah dan GRAy Koes Indriyah, mencoba menggandengnya dan berusaha ikut masuk ke dalam ruangan.

Sesampai di dalam gedung, Gusti Moeng (GRAy Koes Moertiyah) dan Koes Indriyah, diminta untuk tidak ikut masuk ke ruang ikrar. Adu mulut pun sempat terjadi, hingga memaksa anggota Pengamanan Dalam (Pamdal) DPR RI turun tangan dan meminta Gusti Moeng keluar ruangan.

"Tadinya mau ngomong sama kakak saya, yaitu raja saya, (tapi) tidak diperbolehkan. Kenapa? Ini lembaga apa ini? Saya kan juga ada di dalam sini, saya kan juga membawa suara rakyat," kata Gusti Moeng, di hadapan Tedjowulan.

Kekesalan Gusti Moeng, yang merupakan adik kandung Hangabehi dan adik tiri (beda ibu) Tedjowulan, tidak berhenti sampai di situ. Ia bahkan menuding, Tedjowulan mendikte Hangabehi dalam proses rekonsiliasi. "Jangan-jangan kakak saya, Pakubuwono XIII dipaksa," tegas Gus Moeng.

Untuk menguatkan tudingannya, bahwa Hangabehi telah didikte Tedjowulan, Gusti Moeng yang juga anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat itu, membeberkan beberapa fakta. "Kakak saya sakit. Baca aja gak bisa. Saya mau menemui kakak saya gak bisa, saya akan tes kesehatan kakak saya," lanjutnya dalam nada tinggi.

Tak hanya menuding Tedjowulan, Gusti Moeng pun menyebut telah diancam pihak Tedjowulan, bila kubunya tidak segera menyetujui proses rekonsiliasi ini.
"Saya sudah diancam, dari humas mereka (Tejowulan). Kalau tanggal 15 (Juni) tak bisa masuk keraton, akan dikerahkan satpol PP, aparat kepolisian dan TNI sebanyak 1.000 orang," kata Gusti Moeng.

Sedangkan GRAy Koes Indriyah, yang mendampingi Gusti Moeng, juga turun melontarkan kata- kata pada Tedjowulan. "Kamu (Tedjowulan) ini mau masuk keraton hanya mengacak-ngacak saja," ujar Indriyah, yang tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Jawa Tengah ini.
Mendapat tudingan dari Gusti Moeng dan Indriya, Tedjowulan memilih tidak terlalu merespon.  "Niki (ini) untuk kebaikan bersama mbak yu. Saya nderek kang mas (Saya ikut) Sinuwun Pakubuwono, ingkang ngersakke (yang menginginkan) kang mas Sinuwun. Kesepakatan ini kagem sae ne (kebaikan) Surakarta," kata Tedjowulan.
Setelah Tedowulan menyampaikan hal itu, Gusti Moeng pun melangkah menuju pintu dan meninggalkan Gedung Nusantara V.

Setelah acara berlangsung, Tedjowulan pun menjelaskan sikapnya yang meminta Gusti Moeng tidak perlu hadir dalam kegiatan ikrar di Gedung DPR RI itu. "Saya anggap (Gusti Moeng) itu bukan penolakan, tapi menghalang-halangi. PB XIII diminta segera pulang. Jawaban PB XIII, 'Sik tak ngerampungke iki (Saya selesaikan dulu)'. Maunya dia (Gusti Moeng), (Hangabegi) segera pulang," ujar Tedjowulan.

Tedjowulan dalam sambutannya mengaku sudah mengikhlaskan hanya menjadi mahapatih dan melepas gelar Raja Kasunanan Surakarta. Dia pun siap mengikuti arahan Paku Buwono XIII Hangabehi dalam menjalankan tugas dan melestarikan keraton Surakarta.
"Saya diberikan arahan dan petunjuk PB XIII untuk mengorganisir seluruhnya, khususnya yang terkait dengan pemerintah apakah daerah atau pusat. Saya hanya melaksanakan fungsi tugas dan tanggungjawab dari PB XIII," tegasnya.(*)

Editor: tea
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved