Selasa, 23 Desember 2014
Tribun Jogja

Bobol Credit Card Hanya Butuh 10 Menit

Rabu, 23 Mei 2012 09:16 WIB

Bobol Credit Card Hanya Butuh 10 Menit
foto : Internet
Ilustrasi
Laporan Reporter Tribun Jogja, Mona Kriesdinar

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA -
Kejahatan cyber atau yang dikenal dengan istilah cyber crime di Yogyakarta, makin marak. Di antara modus yang paling banyak terrjadi adalah penipuan jual-beli online, dengan cara carding, hacking dan phising.
Adi DJ, seorang pecandu internet yang kini terjun ke usaha jasa pembuatan situs jual beli, menyebut, aktivitas carding terlalu berisiko. "Kalau jumlahnya (uang yang dibobol) kecil, percuma. Bakal buang waktu," jelas Adi pada Tribun Jogja, Selasa (22/5/2012).
Menurut dia, untuk menjebol kartu kredit, jika beruntung, paling tidak membutuhkan waktu sekitar 10 menit. "Kalau mau aman sih dari warnet, tapi kan spesifikasi komputer dan koneksinya sangat memengaruhi," jelasnya.
Untuk mencuri data pemilik kartu kredit, lanjutnya, bisa dengan teknik sniffing, spyware, phising maupun menjebol langsung website e-commerce.
Metode sniffing, biasanya dilakukan seorang pelaku dengan cara mengintip transaksi menggunakan sofware khusus, di sebuah website penjualan online atau e-commerce. Berdasarakan data itu, pelaku kemudian melakukan transaksi menggunakan data pembeli yang sudah melakukan transaksi.
Sedangkan spyware, pada intinya merupakan aplikasi yang bisa mencatat aktivitas sebuah komputer korban. File program tersebut disusupkan melalui spam email, pesan dalam iklan website maupun pesan yang dikirmkan lewat aplikasi instant messanger.
Sementara phising, ditempuh dengan cara membuat sebuah website yang tampilannya menyerupai website target. Dengan maksud, calon korban bisa tertipu dan tidak sadar memasukan identitas diri, password bahkan data kartu kredit, padahal website itu merupakan kamuflase dari website yang dibuat carder.
Sedangkan cara keempat biasanya dengan langsung menjebol situs e-commerce untuk mencuri data pelanggan. "Jika tingkat kemanannya lemah, maka besar kemungkinan mudah dijebol," tambahnya.
Meski hapal dan tahu persis cara melakukan tindak kejahatan di dunia maya, namun Adi kini sudah enggan melakukannya. Sebelumnya, ia mengaku pernah menggunakan kartu kredit korban untuk membeli konten yang disediakan di situs berbayar. "Sekarang, mendingat manfaatkan yang ada di internet," tambahnya.
Belakangan, sejumlah file berbayar di situs tertentu, sudah diunggah di sejumlah situs sehingga menjadi tidak berbayar, dan membuat Adi dan pengguna internet lainnya, tak perlu repot-repot menjebol password. Sebut saja torrent atau pirate bay, yang banyak menyediakan berbagai file yang bisa diunduh secara gratis.
Namun, lanjut Adi, bila file yang dibutuhkan tidak tersedia di sejumlah situs yang menyediakan konten gratis ini, Adi pun sesekali masih berusaha menjebol password situs berbayar untuk mengunduh berbagai file secara ilegal, baik berupa program, musik maupun film.
Kaskuser Kompak
Kejahatan cyber ini, juga banyak merugikan seller online,  baik melalui situs jejaring sosial, semisal facebook atau twitter, maupun melalui forum semisal kaskus. "Secara umum, tindakannya berupa penipuan seperti tak mengirimkan barang, padahal calon pembelinya sudah mengirimkan sejumlah uang. Atau pun sebaliknya," ungkap Fajar, seorang aktivis di forum Kaskus Regional Jogja.
Beruntung, anggota forum tersebut terhitung solid, sehingga si penipu mudah ditangkap. Caranya dengan menelusuri semua riwayat transaksi pelaku selama menjalankan aksinya, penelusuran terhadap nomor kontak, nomor rekening yang digunakan hingga alamat-alamat jejaring sosial pelaku.
Setelah diketahui alamatnya, mereka kemudian mendatangi target dan mengecek pula riwayat penggunaan internet di komputernya. Biasanya dari upaya itu, mereka sanggup melacak identitas si pelaku.
Untuk jumlah kerugian di bawah Rp 1 juta, mereka biasanya menyelesaikannya secara internal, sedangkan jika nilai kerugiannya lebih dari itu, mereka memilih menggunakan jalur hukum. "Dulu, Kaskuser punya semacam satuan anti penipuan, tapi sekarang tidak aktif," jelas Fajar.
Sebagai antisipasi, kata Fajar, para kaskuser membuat kesepakatan untuk memberikan label bagi para penjual yang memiliki reputasi baik. Tandanya, para penjual itu akan memiliki badge bertuliskan recommended seller yang dilengkapi dengan kumpulan berbagai testimoni pembeli yang pernah bertransaksi.
Tommy Yatsky, penjual di Forum Jual Beli (FJB) Kaskus. Seller jersey Barcelona dan Juventus ini mengaku sering ditipu pembeli. Mulai dari alasan barang belum diterima hingga pembeli yang menghilang setelah proses pengiriman barang.
Ujungnya-ujungnya, pembeli tak memenuhi haknya menyetor sejumlah uang. Oleh karena itu, penjual yang sudah mengantongi label recommended seller ini, menempuh cara setor uang terlebih dahulu, lantas didata, kemudian proses pengiriman barang baru bisa dilakukan. "Udah sering banget kalau yang namanya tipu-tipu," jelas mahasiswa yang kini memiliki omzet hingga Rp 8 juta ini.
Penipuan Forex
Panit B Subdit Tipiter (Tindak Pidana Tertentu), Reskrimsus kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), AKP Doni Yulianto, menyerbutkan, tingkat kejahatan cyber di wilayahnya bisa dibilang tinggi.
Semakin hari, laporan tindak kejahatan ini terus meningkat, utamanya yang mengaku tertipu jual beli di dunia maya. Saat traksaksi terjadi, dan pembeli sudah mengirim sejumlah uang, barang yang dijanjikan tak pernah tiba di alamat pembeli.
Karena di antara sejumlah modus kejahatan cyber paliang banyak adalah jual beli online, polisi pun mulai memelototi praktik ini. Utamanya, jual beli saham, yang sudah memakan banyak korban di DIY.
"Kami sudah telusuri, setidaknya ada tiga website yang menjalankan bisnis itu. Setelah dicek ternyata belum memeroleh izin dari Bappepti," kata Doni.Praktik yang terjadi, lanjut Doni, berbeda dengan informasi yang disampaikan dalam website itu.
Selain ketiga website jual beli saham berjangka, kepolisian juga mencium praktik sejenis yang dilakukan website forex lainnya di Yogyakarta. Menurut Doni, perputaran uang di bisnis online itu hingga ratusan miliar rupiah, dengan jumlah korbannya yang sudah tak terhitung. "Masih banyak yang seperti itu," ujarnya, tanpa mau menyebut nama website dimaksud.
Selain cyber crime bermodus onlineshop, Polda DIY juga memelototi penyalahgunaan nomor telepon untuk mencuri pulsa serta pencemaran nama baik yang dilakukan lewat media online. Sedangkan untuk modus carding, hacking serta phising, meski jumlahnya masih kecil, pihak kepolisian terus mewaspadainya. (TRIBUNJOGJA.COM)
Penulis: mon
Editor: tea

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas