A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

16 Tahun Berlalu, Pembunuh Wartawan Udin Tak Terungkap - Tribun Jogja
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 29 Juli 2014
Tribun Jogja
Home » Yogya » Bantul

16 Tahun Berlalu, Pembunuh Wartawan Udin Tak Terungkap

Jumat, 4 Mei 2012 03:27 WIB
16 Tahun Berlalu, Pembunuh Wartawan Udin Tak Terungkap
TRIBUNJOGJA.COM/BRAMASTYO ADHY
ziarah ke makan udin
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sudah 16 tahun kasus pembunuhan wartawan Harian Bernas Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin terlantar dan tidak menemui titik terang. Bertepatan dengan peringatan Hari Kebebasan Pers Internasional 3 Mei 2012, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia beserta kawan-kawan perwakilan beberapa media cetak dan elektronik, mengadakan ziarah ke makam Udin yang berada di Dusun Gedongan Trirenggo Bantul.

Tepat di depan pusara Udin, ketua AJI Indonesia Eko Maryadi menyatakan sikap, akan terus mengawal kasus pembunuhan Udin sampai kapanpun.
"AJI mendesak agar kasus pembunuhan Udin kembali diusut dengan benar dan sungguh-sungguh," tegas Eko, Kamis (3/5/2012)

Eko juga kembali mengingatkan, bahwa sudah 16 tahun semenjak terbunuhnya Udin pada tanggal 16 Agustus 1996. ini menunjukkan bahwa tidak ada niat baik dari pihak berwajib dalam hal ini Polda DIY untuk mengusut kasus ini secara tuntas. Sebagai komparasi, Polda Bali berhasil mengungkap kasus terbunuhnya wartawan Radar Bali Anak Agung Prabangsa dalam waktu 100 hari, lalu mengapa kasus Udin hingga 16 tahun belum juga terungkap, papar Eko.

Dalam Ziarah tersebut juga di lakukan pembacaan puisi oleh seniman Hendro Pleret sebagai bentuk solidaritas atas kasus ini. penggalan puisi karya Angger Jati Wijaya begitu pilu tatkala dibacakan tepat di hadapan pusara Udin.

"...Kini nisan itu bertabur bunga tanda tanya, karena apa yang bermula dari kata, telah menjadi mata pedang...," baca Hendro dengan lantang.

Sementara itu Heru Prasetyo selaku rekan Udin semasa bekerja di Harian Bernas, mengaku, sebelum almarhum terbunuh, memang sempat curhat kepadanya tentang pemanggilan dirinya oleh Dandim Bantul kala itu, namun tidak bercerita substansi pemanggilan itu.

Udin dikenalnya sebagai jurnalis yang kritis terutama pada kebijakan pemerintah setempat. Heru juga menyatakan mendesak pihak berwenang untuk segera mengusut tuntas kasus ini. ia bersama rekan-rekan lain telah mengupayakan melalui Komnas Ham.

"Mumpung saksi masih banyak yang hidup, segera usut tuntas kasus terbunuhnya Udin, kita tidak tahu apakah saksi lain akan terus hidup sebelum kasus ini kadaluarsa dua tahun lagi, tepatnya 16 Agustus 2014 kasus ini akan kadaluarsa. Ada beberapa saksi kunci yang sudah meninggal," tegas Heru.

Hal senada juga diungkapkan anak kedua Almarhum Udin, Zulkarnaen Wikanjaya (19). Wikan panggilan akrabnya, sangat mengharap, pembunuh ayahnya dapat segera terungkap.

"Saya dan keluarga sangat mendukung support dari rekan-rekan media, keluarga sangat berharap kasus bapak segera terungkap," kata Wikan.

Disinggung minat Wikan terjun di dunia jurnalis, ia mengatakan, sebenarnya sangat berminat meneruskan profesi sang bapak, namun karena ibunya berpesan dan trauma dengan terbunuhnya sang bapak, ia terpaksa mengurungkan niatnya berprofesi sebagai seorang jurnalis.

Wikan menuturkan, kala bapaknya terbunuh usianya baru beranjak 2,5 tahun. jadi belum ingat apa-apa.

"Saya tahu bapak meninggalnya karena terbunuh saat usia 9 tahun, waktu itu kelas 3 SD. Saat ada ziarah seperti ini, ketika ada rekan media membacakan sambutan, dan menyebutkan bahwa acara ini untuk memperingati terbunuhnya saudara Udin, baru saya tahum dan sempat syok. saya langsung tanya ke ibu apa benar demikian, dan ibu mengiyakan. Semenjak saat itu saya terus terbayang-bayang sosok bapak saya," kata Wikan.


Sedangkan anak Sulung Udin, Zulaekah Dito Krisna (23) yang kini menjadi seorang guru di sebuah sekolah swasta di Kota Batam, ketika dihubungi Tribun belum bersedia memberikan tanggapan terkait kasus pembunuhan bapaknya.

Udin meninggal tepat pada tanggal 16 Agustus 1996, setelah sebelumnya dipukul oleh orang tak dikenal pada tanggal 13 Agustus 1996 di rumahnya Jalan Parangtritis Km 13 Bantul. Udin banyak menulis tentang potongan Inpres Desa Tertinggal (IDT) kala Itu, dan juga janji kampanye Bupati Bantul saat itu Sri Roso Soedarmo.

AJI melalui pres realesenya mengungkapkan, Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta menetapkan Dwi Sumadji alias Iwik sebagai tersangka pembunuhan Udin. Penetapan Iwik sebagai tersangka sejak awal ditolak oleh banyak pihak, termasuk Marsiyem istri Udin yang bertemu pelaku sebelum mereka menganiaya Udin.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bantul, akhirnya menyatakan Iwik tidak terbukti bersalah membunuh Udin dan membebaskannya. Pengadilan menyatakan Iwik dijadikan tersangka akibat sebuah skenario yang disusun oleh Polisi. Sejak itu, Polisi belum pernah menangkap pembunuh Udin yang sebenarnya, hingga saat ini. (TRIBUNJOGJA)
Penulis: yud
Editor: iwe
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas