Prof teguh promosi Merapi di Turki
Universitas Islam Indonesia (UUI), belum lama ini diundang menghadiri The International Universities Search and Rescue on Seminar and Workshop
Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: tea
Laporan Reporter Tribun Jogja, Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Universitas Islam Indonesia (UUI), belum lama ini diundang menghadiri The International Universities Search and Rescue on Seminar and Workshop, di Cyprus Utara, Turki. UII diwakili Rektor Prof Dr Edy Suandi Hamid MEc, Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Prof Ir Mochamad Teguh MSCE PhD, dan mahasiswa FTSP, Nadya Nor Azila.
PERTEMUAN itu menandai keikutsertaan UII sebagai executive member International Universities Search and Rescue Council. Dalam kesempatan tersebut, delegasi UII memperoleh kesempatan berbagi pengalaman dan melanjutkan koodinasi riset ilmiah berkaitan dengan kebencanaalaman.
Selain itu, mereka juga mendorong mahasiswa berbagai perguruan tinggi untuk berpartisipasi dalam aktivitas pencarian dan penyelamatan (SAR). Juga, mendukung aktivitas pendidikan pada tim pencarian dan penyelamatan untuk menangani kemungkinan bencana alam serta mendukung pengembangan organisasi internasional untuk pendidikan SAR.
"Waktu itu saya memaparkan makalah yang berjudul Lessons Learned from Merapi Volcano Eruption: What Should Be Done? Sedangkan di tahun sebelumnya saya memaparkan makalah berjudul Lesseons Learned from Indonesia's Disaster," kata Prof Teguh ketika ditemui di ruangan rektorat UII, Rabu (2/5).
Setelah pemaparan tersebut, reaksinya di luar dugaan. Menurut Teguh, banyak di antara peserta yang semakin penasaran dengan penanganan bencana Merapi tahun lalu. Lantaran, selain pemaparan tentang merapi, ia juga memaparkan bencana gempa bumi tahun 2006 lalu. Sehingga kedua bencana itu dianggap telah mewakili berbagai macam bencana yang dihadapi tiap negara peserta seminar.
Di sela forum tersebut, Teguh menemukan kelemahan penanganan bencana di Tanah Air. Jika di Cyprus Utara sudah memiliki sistem yang terstruktur, melibatkan kalangan kampus dan penanganan bencana, di Indonesia belum ada. Permasalahan SAR masih menjadi dominasi dari lembaga-lembaga tertentu padahal kalangan kampus memiliki hampir semua syarat dalam penanganan bencana.
"Ke depannya saya dorong supaya kalangan kampus juga menjadi pengambil kebijakan dalam penanganan bencana, misalnya BNPB (Badan Nasional Penanganan Bencana, Red) menggaet kalangan kampus juga," jelasnya.
Melihat situasi itu, penanganan bencana yang melibatkan kalangan kampus jauh lebih sulit jika dibandingkan negara lainnya yang sudah memiliki dukungan sistem dari pemerintah sebagai pengambil kebijakan, masyarakat serta pihak kampus. "Semoga nantinya akan tercipta kordinasi yang lebih intensif dengan kalangan kampus. Sayang sekali jika semua potensi yang tersedia ini tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin, jangan sampai menunggu ada bencana baru berkordinasi, tentu akan jauh lebih sulit," jelasnya.
Pertemuan itu dihadiri sekitar 21 delegasi perguruan tinggi di seluruh dunia. Meliputi enam perguruan tinggi di Cyprus Utara, serta sisanya berasal dari berbagai belahan dunia lainnya. Mereka berkomitmen untuk mengambil peran penting dalam upaya penyelamatan para korban bencana alam termasuk diantaranya bagaimana merencanakan strategi mitigasi bencana.
Selain acara seminar, mereka juga bersepakat menandatangani deklarasi pembentukan International Universities Search and Rescue Council, yang diwakili 30 universitas dan berasal dari 20 negara. Menurut Rektor UII, Edy Suandi Hamid, deklarasi itu dimaksudkan sebagai ikatan kerj asama saling menguntungkan dan koordinasi sesama universitas anggota dalam hal Search and Rescue, khususnya untuk bencana alam, meliputi di bidang pendidikan, penelitian dan pertukaran mahasiswa.
"Para mahasiswa juga dituntut aktif dalam kegiatan pelatihan dan peragaan serta eksebisi kegiatan SAR dengan perlengkapan dan peralatan yang lengkap," tambahnya.
Secara terpisah, Suranto, ketua PMI Kecamatan Pakem, Kabupatan Sleman, mengatakan, berdasar pengalaman bencana Merapi tahun 2006 dan tahun 2010, keikutsertaan mahasiswa dalam operasi SAR masih minim. Tahun 2006 lebih banyak, namun pada 2010 hanya satu-dua saja yang turun langsung dalam operasi SAR, dan itu pun berada di bawah organisasi yang bukan berasal dari kampus.
"Kebanyakan mereka masih dalam tataran recovery semisal pendampingan korban maupun penggalangan dana," ujarnya, Rabu (2/5/2012).
Hal itu dinilainya wajar lantaran secara skill mereka belum terlatih untuk menghadapi situasi yang serbatidak pasti, semisal ketika terjadi bencana. Jika dipaksakan untuk turun, kebanyakan di antaranya justru gagap ketika menghadapi situasi diluar kemampuannya. "Jangan sampai tim penyelamat justru harus diselamatkan," imbuhnya.
Hal berbeda diutarakan Komandan SAR DIY, Brotoseno. Menurutnya, keikutsertaan mahasiswa dalam operasi SAR sudah sangat banyak. Meskipun begitu ia tak menyangkal, ketika diterjunkan ke lapangan adakalanya mereka gagap dengan kondisi yang serbagenting. "Yogyakarta ini bukan cuma kota pelajar, tapi juga sudah menjadi kota sukarelawan, dari mulai karyawan, pedagang, mahasiswa, pelajar, dan profesi lain turun semua, karena solidaritasnya luar biasa," jelasnya. (*)