• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 26 Oktober 2014
Tribun Jogja

Belajar Rendah Hati

Jumat, 6 April 2012 09:00 WIB
Belajar Rendah Hati
foto : TEA
Rm Petrus Sajiyana, Pr


Oleh Petrus Sajiyana, Pr
Pastor Paroki St Maria Assumpta Pakem, Sleman


UMAT Kristiani saat ini sedang memasuki Tri Hari Suci yakni Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu/Minggu Paskah. Arti perayaan pekan Suci ini adalah untuk mengenangkan sengsara dan wafat Yesus Kristus.

Dimulai dari Kamis Putih, arti simbolik dari hari Kamis Putih adalah sebagai lambang pembasuhan kaki Yesus kepada murid-muridnya. Meski Yesus orang yang mulia dia mau melaksanakan pekerjaan serendah itu.

Di dalam kehidupan sehari-hari yang namanya pembasuhan kaki adalah sebagai ungkapan kasih. Disamping itu, pembasuhan kaki juga sebagai ungkapan pelayanan dan kerendahan hati Yesus kepada manusia.  Membasuh kaki, bukan berarti memperbudak melainkan bisa menunjukkan sikap kerendahan hati.

Maka sebagai ungkapan itu dapat dilakukan oleh setiap orang dalam rangka menterjemahkan ekspresi kasih. Dalam kehidupan sehari-hari, pembasuhan kaki itu juga bentuk keteladanan sebagai murid kristus yang dijumpai dalam kehidupan ini.

Semisal sebagai pemimpin harus bisa memberi teladan kepada anak buahnya.  Orang tua juga begitu, bukannya kemudian mau diperbudak oleh anaknya. Melainkan bisa memberikan teladan baik bagi anak-anaknya.  Begitupun dengan pemimpin yang sukanya memirintah, maka seharusnya tidak demikian. Yang benar seharusnya memberikan teladan menjalani hidup dengan kerendahan hati.

Pada masa Jumat Agung, umat Kristiani memperingati sengsara dan wafat Yesus Kristus. Maka sebaiknya masyarakat juga meneladani sikap Yesus Kristus.  Kematian Kristus itu memberikan teladan tentang kebenaran bagi orang-orang yang sudah terlanjur jatuh dalam dosa.

Dalam bacaan pertama, di dalam bacaan pertama dari Kitab  Yeremia 20: 1-13, dalam bacaan tersebut dikemukakan mengenai keteladanan Tuhan yang menyertai seperti seorang pahlawan yang gagah perkasa. Maka di dalam bacaan itu ditampilkan bahwa Yeremia telah mendengar bisikan banyak orang, namun ia tak gentar tetap menjadi pemimpin bagi umatNya.

Kemudian pada bacaan Injil diambil dari Yohanes 10:31-42, disitu terdapat sebuah kisah Yesus yang dilempari batu oleh banyak orang. Disamping itu orang-orang gagal menangkap Yesus dimana kemudian menimbulkan konflik, kemudian yang terjadi antara Yesus dan orang Yahudi adalah saling bermusuhan.

Dalam kisah itu memberikan pesan bahwa sebaik apapun usaha manusia, tentu ada orang yang kurang setuju. Terdapat pro dan kontra. Meski Yesus berbuat baik namun ada saja yang menuduhnya sebagai orang jahat.

Paskah juga dimaknai agar manusia memiliki keteladanan sikap keterbukaan terhadap sesama. Dalam kehidupan sehari-hari, menurut saya sebagai orang Yogya yang punya budaya Jawa yang cukup kental, kita harus menghargai dan harus memiliki keterbukaan menerima siapa saja, baik dari suku dan budaya yang berbeda. Disini, kita harus bisa menghargai banyak orang yang berbeda yang berada di Yogya agar bisa terjalin kedamaian dengan masyarakat.

Sebetulnya tidak sulit untuk bisa memiliki sikap keterbukaan, karena Yogya adalah kota pelajar dimana banyak masyarakat yang berbeda suku ada di kota ini, inilah saatnya untuk bisa terbuka dan menerima perbedaan budaya orang lain. Raja Kraton Sri Sultan Hamengku Buwono X pun sudah melakukan hal itu kepada masyarakat, dimana  Sultan selalu bersikap opened dan terbuka kepada siapa saja.   (*)
Editor: tea
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
38632 articles 38 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas