• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 19 September 2014
Tribun Jogja

Upacara Ada Wiwit Desa Giripeni

Kamis, 23 Februari 2012 22:45 WIB
Upacara Ada Wiwit Desa Giripeni
TRIBUN JOGJA/HARI SUSMAYANTI
Seorang tetua adat dan ibu-ibu tengah membawa uba rampe ke tengah untuk didoakan dalam acara adat Wiwit di Desa Giripeni, Wates, Kulongprogo, Kamis (23/2).
Laporan Reporter Tribun Jogja, Hari Susmayanti

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO
- Upacara adat Wiwit termasuk upacara tradisi yang penting dalam dunia pertanian masyarakat jawa terutama yang berkaitan dengan tanaman pangan.

Upacara yang sudah diturun-temurunkan sejak zaman nenek moyang itu kini sudah mulai pudar. Tak banyak lagi warga yang melestarikannya. Padahal, upacara adat itu adalah salah satu kegiatan untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmatnya sehingga hasil pertaniannya melimpah.

Di Dusun Dobangsan dan Graulan, Desa Giripeni, Kecamatan Wates, tradisi upacara adat Wiwit masih terpelihara dengan baik.

Setiap tahun, warga selalu melaksanakan kegiatan ini untuk mengucapkan rasa syukur atas seluruh karunia-Nya kepada para petani sehingga tanaman padinya tumbuh subur dan hasilnya melimpah.

Terik matahari yang menyengat kulit tak menyurutkan puluhan warga untuk melaksankan upacara Wiwit di bulak Graulan, Kamis (23/2).

Upacara ini dimulai dengan berkumpul di salah satu rumah warga. Puluhan warga yang berprofesi sebagai petani ini kemudian membawa uba rampe yang terdiri dari nasi tumpeng, ingkung ayam, jenang, hasil bumi, potongan padi serta dedaunan yang melambangkan kesuburan ke  tengah sawah.
Sambil membaca salawat, warga terus berjalan menuju tengah persawahan yang jaraknya sekitar satu kilometer dari pemukiman warga.

Dipimpin oleh seorang tetua adat, upacara wiwit ini mulai dilaksanakan. Ubarampe berupa dedaunan dan potongan padi yang diikat  dibawa ke tengah sawah.

Uba Rampe ini kemudian ditancapkan ke tengah sawah sebagai simbol rasa syukur atas limpahan berkah yang telah diberiakn oleh Tuhan yang Maha Esa serta diringi dengan doa.

Selesai doa dibacakan, uba rampe lainnya yang berupa tumpeng, ingkung, jenang, hasil bumi langsung dibawa ke sebuah gubung yang biasa digunakan oleh para petani untuk berteduh.

Di tempat ini, uba rampe kembali didoakan oleh warga. Seorang rois memandu warga untuk membaca sholawat serta memimpin doa. Setelah selesai, seluruh ubarampe ini dibagi kepada warga yang hadir dan langsung dimakan di tempat.

Seorang petani yang masih setia menjalankan tradisi wiwit, Sunaryono mengatakan, upacara wiwit merupakan warisan leluhur.

"Ini merupakan warisan leluhur yang masih terus dilaksanakan setiap tahun. Selain sebagai bentuk ungkapan rasa syukur, pelaksanaan upacara wiwit ini juga sebagai salah satu upaya melestarikan budaya jawa," katanya.(hari susmayanti)
Penulis: has
Editor: oktora-veriawan
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
36720 articles 38 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas