Sabtu, 22 November 2014
Tribun Jogja

Mayoritas Sopir Bus Gunungkidul Derita Hipertensi

Jumat, 17 Februari 2012 22:50 WIB

Mayoritas Sopir Bus Gunungkidul Derita Hipertensi
TRIBUNJOGJA.COM/AGUNG ISMIYANTO
Seorang sopir bus diperiksa tekanan darahnya, di Terminal Dahksinarga Wonosari, Gunungkidul, Jumat (17/2).
Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL -
Puluhan sopir bus di Kabupaten Gunungkidul  menjalani pemeriksaan urine dan tes tekanan darah yang diselenggarakan Polres Gunungkidul bekerjasama dengan Dishub dan Kodim Gunungkidul, Jumat (17/2), di Terminal Bus Wonosari. Hasil pemeriksaan, para sopir bus, baik Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) maupun Angkudes, rata-rata mengidap hipertensi alias penyakit darah tinggi.

Saat pemeriksaan oleh dokter dari Polres, mereka ditanya satu per satu mengenai riwayat kesehatan masing-masing. Setelah itu, satu persatu menjalani pemeriksaan urine. Termasuk, sopir bernama Sadiyo (62), sopir Rawit Mulyo, bus AKDP.

"Tadi pas saya dicek, tekanan darah saya mencapai 190 per berapa saya lupa. Tapi saya memang ada darah tinggi," jelas pria berkumis itu, yang mengaku sudah menjadi sopir selama 27 tahun, saat diwawancara Tribun Jogja di Terminal Wonosari, Jumat (17/2).

Selama ini Sadiyo, warga Ngaliyan, Nglipar, Gunungkidul, ini sering memeriksakan kesehatannya di Puskesmas atau di rumah sakit. "Biasanya sih tekanan darah 160-an, tapi ga tahu kok sekarang agak tinggi," kata sopir yang mengaku tak mengkonsumsi alkohol maupun narkoba ini.

Hasil pemeriksaan menggunakan tes yang dilakukan dengan alat semacam test pack, 28 sampel urine negatif narkoba. Dokter dari Polres Gunungkidul, dokter Dwi Hartati, menjelaskan bahwa pemeriksaan dilakukan untuk mengecek kandungan ampethamine dalam urine.

"Ini digunakan untuk mendeteksi adanya zat-zat seperti mofin, yang terkandung dalam sabu- sabu, namun semua negatif narkoba, " jelasnya, sambil menunjukkan alat tes  tersebut.

Adapun yang menjadi catatan adalah  banyaknya sopir yang mengalami tekanan darah tinggi. Berdasarkan catatan medis, misalnya, ada sopir bernama Suhari, tekanan darah 250/120, termasuk dalam hipertensi emergency. "Ada sekitar delapan sampel yang diketahui mengalami tekanan darah tinggi. Ini harus segera ditangani, karena bahaya bila dalam keadaan menyetir," tegas Dwi.

Hipertensi, atau akrab dikenal sebagai penyakit darah tinggi, merupakan pemicu gangguan jantung dan stroke. Maka, diperlukan istirahat cukup, karena akan membahayakan bagi penumpang.  "Harus segera minum obat antihipertensi. Bila tidak, rentan ancaman stroke atau serangan jantung mendadak. Juga perlu istirahat," kata Dwi Hartati.

Mengenai data kecelakaan, Polres Gunungkidul mencatat, dari tahun  2011 hingga Januari 2012 ada 63 orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas. Dalam kurun waktu tiga tahun meningkat,  tahun 2008 hanya ada 187 kasus kecelakaan, tahun 2009 menjadi 375 kasus, tahun 2010 meningkat  menjadi 389 kasus, dan tahun 2011 mencapai 409 kasus. (*)
Penulis: ais
Editor: jun

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas