A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

BPS Ungkap Banyak Wanita Menikah Dibawah Usia 19 Tahun - Tribun Jogja
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 23 Agustus 2014
Tribun Jogja

BPS Ungkap Banyak Wanita Menikah Dibawah Usia 19 Tahun

Kamis, 8 Desember 2011 21:07 WIB
Laporan Reporter Tribun Jogja, Theresia Andayani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA  - Peneliti PSKK UGM, Basilica Dyah Putranti, S.Sos, M.A, menyampaikan hasil penelitian Badan Pusat Statistik tahun 2008 melansir sekitar 34,5 persen perempuan menikah di bawah usia 19 tahun. "Rata-rata usia menikah di wilayah penelitian adalah 16 tahun, dan umumnya pernikahan anak terjadi pada anak perempuan," ucap Basilica, Kamis (8/12/2011).

Keluarga, lanjut Basilica, memiliki peran yang sangat besar dalam proses pengambilan keputusan pernikahan anak. Namun, faktor penyebab utama adalah kemiskinan. “Anak perempuan dianggap sebagai beban ekonomi keluarga, sehingga dengan menikahkan anak perempuan segera setelah ia mendapatkan menstruasi akan meringankan beban ekonomi keluarga,” katanya.

Tradisi lokal yang menganggap pernikahan anak sebagai hal lazim dan implementasi hukum terkait pernikahan di Indonesia (UU Perkawinan No.1/1974 dan Kompilasi Hukum Islam tentang dispensasi pernikahan anak di bawah 16 tahun), kian memberi jalan bagi praktik pernikahan anak.

 Temuan lain yang relevan dengan kondisi sosial masyarakat terkini adalah perubahan tata nilai dalam masyarakat, terutama penggunaan teknologi komunikasi seperti telepon genggam dan internet, semakin membuka ruang interaksi sosial dan ekspresi individu bagi kalangan pemuda untuk lebih permisif. Ditambah kurangnya kesadaran dan pemahamam kesehatan reproduksi, banyak ditemukan kasus anak perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan.

“Solusi yang umum berlangsung di masyarakat adalah melalui pernikahan. Masyarakat sepertinya tidak memiliki pilihan lain karena latar belakang pendidikan mereka umumnya rendah dan berasal dari kalangan keluarga petani,” jelas Basilica (*).
Penulis: tea
Editor: ayu
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
30437 articles 38 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas