Jumat, 19 Desember 2014
Tribun Jogja
Home » Jawa

Budidaya Jambu Biji Merah Dikembangkan di Banjarnegara

Selasa, 6 Desember 2011 15:30 WIB

TRIBUNJOGJA.COM, BANJARNEGARA- Dinas Pertanian, Perikanan, dan Peternakan Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, mengembangkan budi daya jambu biji merah sebagai salah satu komoditas alternatif.

 "Mulai 2010, kami menjadikan jambu biji merah sebagai salah satu komoditas alternatif. Saat ini jambu biji merah yang dikembangkan di Banjarnegara telah mencapai 14 ribu batang lebih dan direncanakan dalam lima tahun ke depan mencapai 50 ribu batang," kata Kepala Distankannak Banjarnegara Dwi Atmadji di Banjarnegara, Selasa (6/12/2011).
     
Dalam hal ini, kata dia, wilayah selatan Banjarnegara, antara lain Kecamatan Mandiraja, Pagedongan, Bawang, dan Susukan diproyeksikan sebagai sentra jambu biji merah.
     
Disinggung mengenai keberadaan Paguyuban Petani Jambu Biji Merah "Peta Jaya" Banjarnegara yang baru dibentuk pekan lalu, dia mengatakan, pihaknya merasa ikut terbantu dengan asosiasi tersebut karena Distankannak tidak bisa membantu menyelesaikan semua masalah yang dihadapi petani.
     
Oleh karena itu, kata dia, paguyuban tersebut diharapkan dapat ikut membantu mengembangkan teknik budi daya sehingga buah jambu biji merah di Banjarnegara dapat berbuah secara kontinyu.
     
"Selama ini buah jambu biji merah yang dikembangkan di Banjarnegara sama seperti daerah lainnya, jika sedang berbuah akan dengan mudah didapatkan tapi ada kalanya sama sekali sulit menemukannya," kata dia.
     
Menurut dia, hal ini diketahui berdasarkan pengamatan Distankannak Banjarnegara saat mendampingi petani jambu biji merah di Desa Kaliwungu, Kecamatan Mandiraja.
     
Dalam hal ini, kata dia, petani di Desa Kaliwungu memroduksi jus jambu biji merah dari tanaman buah yang mereka kembangkan.
     
Oleh karena hanya mengandalkan produksi jambu biji merah saat panen, lanjutnya, industri jus ini sering kali berhenti operasi.
     
"Bahkan, kadang selama dua bulan tidak berproduksi karena tidak ada bahan baku jambu biji merah. Sebenarnya ada teknik budi daya yang dapat diterapkan agar jambu tersebut dapat terus berbuah," katanya.
     
Secara terpisah, Ketua Paguyuban Petani Jambu Biji Merah "Peta Jaya" Banjarnegara Haryono mengatakan, saat ini total produksi jambu biji merah di Kabupaten Banjarnegara diperkirakan mencapai satu ton per hari.
     
Akan tetapi, kata dia, kapasitas serap di pasar lokal baru sebesar tujuh kuintal per hari.
     
"Ceruk pasar sebesar itu, masih diperebutkan dengan masuknya jambu biji merah dari daerah lain, seperti Kendal. Oleh karena itulah, melalui pembentukan paguyuban ini, kami coba memperluas pasar ke luar, salah satunya yang akan dicoba adalah pasar lelang Jawa Tengah di Soropadan, Temanggung," katanya.
     
Dia mengatakan, Paguyuban Petani Jambu Biji Merah "Peta Jaya" Banjarnegara yang dibentuk pada 30 November 2011 diharapkan dapat memperkuat posisi petani jambu dalam memperoleh akses ke pasar, akses pengetahuan budi daya tanam, termasuk akses ke pemerintahan dengan adanya bantuan dana maupun teknis.
     
Menurut dia, pembentukan paguyuban tersebut pertemuan petani jambu biji dihadiri sekitar 40 petani se-Kabupaten Banjarnegara.
     
"Berdasar kehadiran peserta, total luasan produksi jambu biji adalah 13,9 hektare dengan jumlah pohon kurang lebih 8.644 batang. Jumlah ini belum mencakup semua petani sesuai yang ada di data yang menjadikan dasar pembuatan undangan karena bila mengacu pada data undangan masih ada kurang lebih 10 persen petani yang belum hadir," katanya.
     
Ia mengatakan, jambu biji merah yang dihasilkan petani Banjarnegara memiliki ciri-ciri berupa wujud buah yang lebih besar dengan berat berkisar antara 300-400 gram per butir, terlihat lebih mengkilap, dan lebih segar.
     
Menurut dia, penampilan tersebut berbeda dengan jambu biji merah yang diproduksi kabupaten lain karena beratnya lebih rendah, yakni rata-rata 200 gram per butir.
     
"Penampilan yang menarik ini terjadi karena jambu biji merah di Banjarnegara diproduksi menggunakan pupuk organik, bukan pupuk kimiawi, sehingga lebih sehat untuk dikonsumsi," katanya. (*)
Editor: ino
Sumber: Antara

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas