41 Pengungsi Merapi Keracunan Telur Asin
Empat orang di antaranya dibawa ke RSUD Muntilan karena kondisinya cukup parah.
TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Sebanyak 41 orang
pengungsi lahar dingin Gunung Merapi, yang menempati shelter box di Dusun Ngemplak, Desa
Ngrajek, Mungkid ,Kabupaten Magelang, Jateng, diduga keracunan
telur asin. Makanan itu merupakan santapan siang yang diberikan dari
dapur umum pengungsian setempat.
Empat orang di antaranya dibawa ke RSUD Muntilan karena kondisinya cukup
parah. Para pengungsi mengalami muntah dan diare, Kamis (14/4/2011).
Keempat korban, Mudi (51), Asfiah (59), Edi Saputra (16) dan
Dandi (3).
Menurut keterangan salah seorang korban di SD Ngrajek, Kuniasih (40),
warga sebelumnya pada Rabu (13/4/2011) siang diberi makanan petugas dari
dapur umum. Seperti biasa mereka mendapatkan jatah makan siang. Pada
sorenya atau sekitar enam jam kemudian warga mulai mengalami gejala
pusing, muntah dan diare.
Sekdes Ngrajek, Zainal Arifin, mengatakan, awalnya Rabu malam ada tiga
pengungsi yang sakit. Namun jumlahnya terus bertambah sehingga mencapai 41
orang, dari anak-anak hingga dewasa dan orang tua. Sejak Kamis
(14/4/2011) pagi, pihak Desa Ngrajek mendatangkan dua dokter, empat mantri
kesehatan dan dua bidan.
Petugas medis itu mencoba mengobati para pengungsi yang menjadi korban.
Para korban dikumpulkan di balai desa untuk mempermudah penanganan
karena sejak pagi wilayah itu diguyur hujan deras.
Menjelang sore, jumlah korban berkurang hingga hanya separoh.
Sedangkan serangan keracunan tidak bersamaan. "Kemungkinan hal itu
tergantung daya tahan tubuh masing-masing,” ujarnya.
Menurut Zaenal, para korban merupakan warga Ngemplak yang wilayahnya
saat ini terkena banjir lahar dingin. Sekitar 400 warga setempat saat
ini masih bertahan di pengungsian berupa shelter box di lapangan
Nglaseman karena rumah mereka rusak maupun hilang.
Ia menyebutkan, yang mengalami keracunan tidak hanya yang menempati
shelter box saja, namun juga yang sudah kembali ke rumahnya
masing-masing. Untuk kebutuhan makan para pengungsi, didirikan dapur
umum di dekat lokasi shelter box. Pengungsi memasak sebanyak 3 kali
dalam sehari. Sedangkan makanan dihidangkan secara prasmanan.
Warga yang mengambil makanan adalah warga Ngemplak, baik yang tinggal di
shelter box maupun yang telah pulang ke rumah. Salah satu korban, Siwi
(43) mengatakan, dirinya mulai merasa mulas dan diare pada Rabu malam.
"Saya kira hanya sakit biasa. jadi saya tahan sampai Kamis siang baru
periksa di balai desa. Ternyata di sana juga banyak yang mengeluh
serupa,” kata Siwi yang menempati shelter box bersama dua orang anaknya.
Ia menduga, warga keracunan telur asin yang disediakan di dapur umum.
Telur asin yang disediakan merupakan bantuan dan datang ke dapur umum
pada Selasa pagi. "Saya ikut makan satu butir," katanya.
Ia sendiri tidak bisa memastikan berapa jumlah telur bantuan itu, namun
menurutnya relatif banyak karena disediakan untuk pengungsi hingga
duahari.
Sekdes Zaenal Arifin mengaku belum bisa menyimpulkan apakah penyebab
keluhan warga itu adalah telur asin tersebut. Sebab dokter yang
memeriksajuga belum bisa memastikan.
Kepala Puskemas Mungkid, Dokter Hermanu Kusumo, menjelaskan, pihaknya
sudah mengambil sampel makanan, muntahan dan tinja korban untuk
diperiksa laboratorium. Dari hasil pemeriksaan hampir semua korban
mengaku mengalami sakit muntah, mual dan panas. Tapi indikasi tersebut
belum dapat dijadikan indikasi bahwa warga memang mengalami keracunan.
‘’Kami belum bisa pastikan. Masih kita periksa dulu sampelnya,’’ ujarnya.